Minta IDI Aktif Lawan Stunting

oleh -17 views
ilustrasi-stunting
ilustrasi-stunting

MAJALENGKA – Kabupaten Majalengka menjadi salah satu  daerah dengan kasus anak bertubuh pendek disebabkan gizi buruk berkepanjangan (malnutrisi kronis) terbanyak di Jawa Barat. Kota Angin berada di urutan keenam tertinggi penderita stunting di Jawa Barat setelah Kota Tasikmalaya dengan persentasi 30,2 persen. Untuk menekan angka penderita ini Pemerintah Kabupaten Majalengka menginstruksikan seluruh Puskesmas secara intens agar melakukan kunjungan ke rumah-rumah warga.

Bupati Majalengka Dr H Karna Sobahi MMPd mengatakan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Majalengka juga memiliki peran yang kuat untuk mengatasi stunting.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat, terdapat delapan kabupaten/kota yang memiliki prevalensi stunting tinggi di antaranya Kabupaten Garut, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Bandung Barat, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Purwakarta. Ke delapan daerah itu menjadi perhatian khusus Pemprov Jabar karena jumlah kasus yang ditemukan cukup tinggi.

“IDI diharapkan mampu bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten untuk ikut terlibat dalam menyosialisasikan program bebas stunting,” jelas Bupati.

Karna mengungkapkan, yang terpenting adalah semua bisa terlibat mengadvokasi masyarakat, ibu hamil agar bersedia secara rutin memeriksakan diri ke dokter atau Puskesmas hingga ke Posyandu yang ada di lingkungannya.

Stunting sangat berisiko dan akan menganggu perkembangan kognitif serta kemampuan belajar anak. “Jadi anak yang pertumbuhannya terganggu akan lebih berisiko pada perkembangan kemampuan berpikir anak. Yang fatal lagi berdasarkan teori kesehatan, stunting ini akan lebih berisiko mengalami penyakit kronis ketika dewasa kelak,” jelas Bupati.

Oleh karenanya masyarakat terutama ibu hamil diimbau untuk terus memeriksakan kesehatan diri, dan kandungannya. Dengan cara tersebut akan lebih bisa dicegah karena akan diketahui apa kekurangan yang ada dalam tubuhnya. Baik kekurangan gizi, zat besi, yodium atau kandungan lainnya.

Disamping itu juga adalah pastikan data ibu hamil, data balita dan perkembangan kondisi tubuhnya guna memudahkan melakukan intervensi pada mereka. (ono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *