Tempat Kosmetik yang Digerebek BPOM di Kedawung Cirebon Izinnya Distributor

oleh -162 views
Kosmetik-Ilegal-Cirebon
Sekitar 1.000 dus berisi kosmetik disita dari sebuah rumah mewah di Jl Walet, Sutawinangun, Kedawung, Kabupaten Cirebon. Proses penggeledahan dan penyitaan dilakukan sejak Senin malam (24/2) hingga Selasa dini hari (25/2). Foto: Cecep Nacepi/Radar Cirebon

Operasi senyap tim Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jawa Barat tak diketahui banyak orang. Bahkan Pemdes Sutawinangun, sebagai lokasi rumah mewah yang digerebek itu, juga tak mengetahui kedatangan BPOM.

CECEP NACEPI, Cirebon

RUMAH mewah itu ada di Jl Walet, Desa Sutawinangun, Kecamatan Kedawung. Tapi, proses penggerebekan dan penyitaan kosmetik sejak Senin malam (24/2) hingga Selasa dini hari (25/2) itu tak diketahui oleh Pemdes Sutawinangun.

Kaur Kesra Desa Sutawinangun, Kuswantoro, mengaku pihaknya tidak mengetahui adanya penggerebkan yang dilakukan oleh BPOM terhadap gudang kosmetik yang diduga tidak memiliki izin edar itu. Pihaknya mengetahui informasi tersebut dari media yang memberitakan proses penggerebekan.

“Kita tidak tahu. Kita dengar hanya dari media. Tidak ada tembusan dari muspika, RT, atapun RW. Sampai seramai itu, kami belum tahu. Sama sekali tidak ada tembusan terkait penggerebekan. BPOM harusnya ngasih tahu kita terlebih dahulu saat menggerebek,” kata Kuswantoro saat ditemui Radar di kantor Balai Desa Sutawinangun kemarin.

Disinggung soal perzinan, Kuswantoro tidak menutupinya. Ia mengatakan pihak pengusaha kosmetik sudah izin ke RT, RW, dan aparat Desa. Izinnya bukan produksi, tapi mendirikan usaha distributor kosmetik.

“Kalau rumah yang digerebek milik Pak Yudi yang dikontrakkan ke Pak Fredi. Melalui Pak Erik Tobing, sudah izin ke kami Agustus 2019 bikin rumah. Bukan produksi, tapi hanya distributor kosmetik,” tuturnya.

Menurutnya, selama 6 bulan atau sejak dikontrak pada Agustus lalu, rumah yang digerebek itu tidak ada aktivitas terkait distributor kosmetik. Adanya barang kosmetik diketahui baru berjalan sekitar satu bulan.

“Sebenarnya baru 1 bulanan ada aktivitas. Sebelumnya tidak ada aktivitas karena rumah itu sedang direnovasi,” jelas Kuswantoro.

Sementara itu, Pemkab Cirebon melalui Disperdagin masih menunggu perkembangan dan informasi lebih lanjut terkait kasus kosmetik yang berhasil dibongkar BPOM dan Polda Jabar. Baik di Kedawung maupun di Ciledug. Hal tersebut disampaikan kepala Disperdagin Kabupaten Cirebon Deni Agustin.

Menurutnya, penggerebekan sekaligus penyitaan itu luput dari pantuan disperdagin. Pasalnya, BPOM dan Polda Jabar tidak memberi tahu ataupun berkoordinasi dengan Disperdagin.

“Saya belum tahu. Saya justru belum dapat informasi utuhnya. Kalau kabar juga tahunya dari media. Kita tidak dilibatkan dalam kegiatan (penggerebekan, red) itu,” ujarnya saat dikonfirmasi Radar Cirebon, kemarin.

Terkait fungsi pengawasan dan perlindungan konsumen, ia mengatakan itu menjadi urusan dan kewenangan pemerintah provinsi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. “Bukan kecolongan ya, pengawasannya tidak ada di kita,” jelasnya.

Tidak dilibatkannya dalam kegiatan tersebut, menurut Deni, membuat disperdagin tidak mengetahui jenis kosmetik apa saja yang diamankan dan sudah sejauh mana peredarannya di wilayah Kabupaten Cirebon.

Baca juga:

Diduga Terkait Kosmetik Ilegal di Kedawung, Pabrik di Ciledug Disegel BPOM

“Tapi saya sudah perintahkan staf untuk cek lokasi dan menggali informasi. Namun, terkait kejadian ini sudah dilaporkan ke pihak provinsi sebagai tindak lanjutnya. Kalau kosmetiknya saya belum tahu jenisnya apa saja,” imbuhnya.

Sebelumnya, ribuan kosmetik tanpa izin edar disita dari salah satu rumah mewah di Jl Walet, Sutawinangun, Kecamatan Kedawung, sejak Senin malam (24/2) sekitar pukul 23.30 hingga Selasa dini hari (25/2).Sedikitnya ada 30 item dari berbagai jenis kosmetik, dokumen, surat jalan, dan sebagainya disita untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh BPOM Jawa Barat.

Ada sekitar 1.000 dus yang diangkut dari lokasi rumah mewah itu. Petugas menggunakan satu truk Colt Diesel dan mobil pikap, membawa barang-barang itu ke  kantor BPOM Jawa Barat di Bandung.

“Kita temukan kegiatan penempelan stiker label produk, penomoran nomor batch dan expire date atau semacamnya yang mana sarana ini tidak ada izin produksi. Kita juga temukan produk yang pada penandaan dan labelnya itu tidak ada izin edar,” kata Staf Penindakan BPOM Jawa Barat Edward Siahaan.

Mengacu pada Pasal 196 dan 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Edward mengatakan pihaknya melakukan penyitaan terhadap beberapa barang di tempat tersebut karena dinilai tidak memiliki izin edar.

“Kita tindak karena melanggar Pasal 197 dan Pasal 196. Diduga kosmetik yang ada di tempat ini tidak memiliki izin,” ujar Edward.

Dari rumah itu, BPOM menyita kemasan kosong tanpa label, kemasan yang diberi stiker, nomor batch, produk kosmetik, dokumen berupa perjanjian kerja sama, surat jalan, dan lainnya.

“Jumlah item, total kurang lebih ada 30 item (yang disita, red) termasuk dokumen dan produk kita sita. Jumlah diperkirakan 1.000 kardus kosmetik,” tandasnya.

Sementara itu, Dery bagian marketing dari perusahaan yang didatangi BPOM mengaku pihaknya saat ini masih melakukan proses perizinan. Dia mengatakan beberapa barang yang izinnya belum lengkap diamankan oleh BPOM.

“Perizinan sedang proses. Ada yang kurang lengkap. BPOM memang mengamankan barang yang tidak ada izinnya. Intinya, sedang kita proses. Makanya diamankan. Kalau izin kita alamat sini dan kita hanya labelin. Posisinya kita dapat barang, kemudian dilabelin dan mereka ambil,” ujar Dery.

Selain di Kedawung,tim BPOM juga menyegel sebuah bangunan di RT 01 RW 01 Blok Pon, Desa Ciledug Kulon, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon,Selasa siang (25/2). Penyegelan ini diduga masih berkaitan dengan penyitaan ribuan kosmetik dari rumah mewah di Jl Walet, Kecamatan Kedawung.

Kuwu Ciledug Kulon Wawan Hermawan mengatakan pihaknya sudah dua kali diminta untuk mendampingi BPOM dan Polda Jabar untuk melakukan penggerebekan di pabrik kosmetik yang berada di desanya. Karena tak ada orang di dalam bangunan itu, tak ada penyitaan.

Petugas hanya menyegel bangunan itu agar tak dimasuki pihak lain. “Katanya nanti mereka (BPOM, red) datang lagi,” kata Wawan. (*/dri/den)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *