Ciayumajakuning Kasus DBD di Klaim Menurun

oleh -88 views
INFOGRAFIS DBD CIAYUMAJAKUNING

WILAYAH Cirebon disebut-sebut daerah dengan tingkat DBD cukup tinggi. Tapi, itu bukan dari Kota Cirebon. Hal  itu ditegaskan Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon dr Edy Sugiarto MKes saat dikonfirmasi Radar Cirebon, Selasa (10/3).

Edy mengatakan, kasus DBD yang terjadi Kota Cirebon terbilang minim dibandingkan daerah lainnya. “Tidak benar (DBD terbanyak di Kota Cirebon, red). Keliru itu. Justru di Kota Cirebon itu paling sedikit dibandingkan daerah lain di Ciayumajakuning,” kata Edy.

Ia menjelaskan, sejak Januari hingga Maret ini, kasus DBD di Kota Cirebon 18 kasus. Terbanyak di Kecamatan Harjamukti dan Kesambi. “Semua sudah dan sedang dalam perawatan. Tidak ada yang meninggal dunia,” ujar Edy.

Sementara itu, kasus demam berdarah dengue (DBD) dan demam shock syndrome (DSS) di Kabupaten Cirebon dalam dua bulan melonjak drastis. Dari data Dinas Kesehatan, kasus DBD dan DSS di Kabupaten Cirebon selama Januari-Februari sudah menyentuh angka 173 kasus. Dua pasien meninggal dunia pada bulan Januari lalu.

Meski demikian, Kepala Dinkes Kabupaten Cirebon Hj Eni Suhaeni SKM MKes mengatakan jika dibandingkan dengan angka kasus DBD pada bulan yang sama pada tahun 2019, maka jumlah yang terjadi saat ini mengalami penurunan. “Tahun lalu di bulan yang sama yakni Januari dan Februari 2019, jumlah 305 kasus dengan jumlah korban meninggal 5 orang. Sekarang di waktu yang sama di 2020, terjadi 173 kasus dengan jumlah korban meninggal 2 orang,” ujarnya.

Menurut Eni, pada 2019 lalu jumlah total kasus DBD yang terdata di Dinkes Kabupaten Cirebon sebanyak 1.291 kasus dengan jumlah korban meninggal sebanyak 17 orang. “Kita terus lakukan upaya untuk menekan kasus DBD tiap tahun. Kita berikan edukasi kepada masyarakat agar bersama-sama melakukan pemberantasan sarung nyamuk,” jelasnya.

Kasus tertinggi selama tahun 2019 terjadi pada bulan Mei yang menyentuh hingga 220 kasus dengan 3 orang meninggal dunia. Sementara untuk jumlah korban meninggal terbanyak terjadi pada April 2019, di mana terjadi 195 kasus dengan jumlah korban meninggal sebanyak 6 orang. “Kalau kita lihat trennya lebih kecil dari tahun lalu. Masih belum bisa disebut sebagai kejadian luar biasa (KLB). Tapi meskipun bukan KLB, ini tetap kita tangani secara optimal dan profesional,” tandas kadinkes.

Dari Indramayu, data Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu menyebutkan untuk bulan Januari 2020 ditemukan 31 kasus DBD, sementara bulan Februari 32 kasus DBD. Dari jumlah tersebut, tidak ada korban meninggal dunia.


DATA DBD: Kadinkes Kabupaten Indramayu dr Deden Boni Koswara mengatakan kasus DBD pada Januari-Februari 2020 mengalami penurunan dibandingkan Januari-Februari 2019.
FOTO: UTOYO PRI ACHDIE/RADAR INDRAMAYU

“Alhamdulillah di Kabupaten Indramayu sejak awal tahun hingga saat ini tidak ada korban meninggal akibat DBD. Mudah-mudahan ini merupakan bukti kalau masyarakat mulai sadar untuk menjaga kebersihan lingkungan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu dr Deden Boni Koswara, Selasa (10/3).

Deden mengatakan, meski kasus DBD pada Januari 2020 mengalami penurunan dibandingkan Januari 2019, tapi pihaknya tetap mewaspadai penyebaran penyakit ini. Pasalnya, hujan yang tak menentu seperti saat ini kerap menimbulkan genangan air yang jadi sarang bertelurnya nyamuk aedes aegypti.

Ia mengimbau masyarakat untuk terus melakukan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M Plus. Yakni, mengubur, menguras, dan menutup tempat penampungan air, serta pembubuhan bubuk abate. Deden menilai, kegiatan PSN jauh lebih efektif dibandingkan fogging. Pasalnya, fogging hanya bisa membasmi nyamuk dewasa. Sedangkan larva nyamuknya tak bisa mati dan akan terus melanjutkan siklus DBD.

Selain itu, dengan melakukan fogging, maka sama artinya dengan menyemprotkan polutan ke lingkungan. Hal itu akan menimbulkan masalah kesehatan lingkungan bagi masyarakat. “Fogging itu kurang efektif. Lebih baik melakukan pencegahan dengan terus menjaga kebersihan lingkungan,” pesannya.

Sementara Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka mencatat selama Januari-Februari, kasus DBD mencapai 77 kasus. “Untuk Januari cukup tinggi, 40 kasus. Di bulan Februari 37 kasus. Di Februari ada satu pasien asal Kecamatan Rajagaluh meninggal dunia,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka H Alimudin SSos MM MMKes, Selasa (10/3).

Ia menyebutkan, angka kasus DBD tersebar di sejumlah wilayah yang ditetapkan endemis DBD. Di antaranya Jatiwangi, Kelurahan Munjul, Kecamatan Kasokandel, Kadipaten, Dawuan, Majalengka, Ligung, Sumberjaya, dan Jatitujuh serta beberapa wilayah utara Majalengka lainnya. Adapun tahun 2019 lalu, jumlah DBD di kota angin mencapai 475 kasus dan dua orang di antaranya meninggal dunia.

Sedangkan dari Kabupaten Kuningan, jumlah kasus DBD sejak Januari hingga akhir bulan Februari 2020 mencapai 321 kasus dengan dua pasien di antaranya meninggal dunia. Meski mengalami peningkatan dibanding periode yang sama di tahun 2019, namun belum masuk kategori kejadian luar biasa (KLB).

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan H Iud Sudarman mengatakan peningkatan kasus DBD tersebut tidak terlalu signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 225 kasus. Sekalipun tahun ini ada dua pasien yang meninggal dunia, namun Iud memastikan hanya satu pasien saja yang disebabkan karena positif DBD.

“Satu pasien lagi meninggal dunia disertai penyakit radang selaput otak. Dengan jumlah kasus DBD hingga Februari mencapai 321 kasus, kami nyatakan Kuningan belum masuk kategori KLB karena peningkatannya tidak terlalu signifikan dibanding periode yang sama dengan tahun lalu,” ungkap Iud kepada Radar Kuningan, kemarin.

Namun demikian, Iud mengakui jumlah kasus DBD di Kabupaten Kuningan tersebut terbilang tinggi dengan sebaran kasus hampir terjadi di seluruh kecamatan. Daerah yang terbilang paling tinggi kasus DBD, lanjutnya, di antaranya Kecamatan Kuningan, Kecamatan Cigugur, dan Cilimus.

Ia melanjutkan, dinas kesehatan pun telah berupaya maksimal dalam mencegah penyebaran penyakit yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti tersebut. Mulai dari sosialisasi petugas kesehatan ke masyarakat dan menginstruksikan aparat desa hingga melakukan pengasapan alias fogging terhadap daerah yang positif terdapat kasus DBD.

Namun demikian, kata Iud, kegiatan fogging bukan solusi utama pemberatasan DBD karena hanya membunuh nyamuk dewasa. “Yang terpenting adalah kesadaran masyarakat melaksankan pola hidup bersih dan jangan sampai ada sarang nyamuk. Lakukan gerakan bersih-bersih lingkungan, berantas sarang nyamuk,” pungkas Iud. (awr/dri/oet/ono/fik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *