JAKARTA DARURAT CORONA

oleh -434 views
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Menutup sekolah yang berada di wilayahnya selama 2 minggu. Foto: YouTube

* Sekolah Ditutup Dua Minggu

* Dokter dan Perawat Tertular Covid-19

* Kasus Positif Bertambah Jadi 96

* Lima Meninggal Dunia

JAKARTA – Pemprov DKI Jakarta mengambil langkah mengantisipasi penyebaran virus Corona. Diputuskan menutup sekolah di wilayah DKI Jakarta selama dua minggu ke depan. Untuk kegiatan belajar mengajar akan dilakukan jarak jauh. Selain itu, sejumlah destinasi wisata juag ditutup. Kebijakan ini untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. Terlebih, ada sebagian dokter dan perawat di rumah sakit di Jakarta tertular Corona.

“Menutup semua sekolah di lingkungan DKI Jakarta. Sementara proses belajar mengajar melalui metode jarak jauh,” ujar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota Jakarta, Sabtu (14/3). Menurutnya, pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus Corona bertambah menjadi 261 orang di wilayah Jakarta. Angka ini, naik drastis dari sebelumnya yang berjumlah 39 orang. Sedangkan Orang Dalam Pemantauan (ODP) di Jakarta juga meningkat. Dari 129 menjadi 586 orang.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini mengatakan sekolah bisa akan melakukan metode belajar menggunakan sistem digital untuk mengurangi kontak langsung yang berpotensi menularkan virus Covid-19.

Anies menjelaskan, diambilnya keputusan untuk menghentikan proses belajar di sekolah untuk menjaga keselamatan dan kesehatan warga masyarakat Jakarta.

Terkait ujian nasional siswa SMA dan SMK juga akan ditunda pelaksanaannya. “Bagi peserta ujian nasional yang akan berlangsung Senin (16/3) juga diputuskan ditunda. Pemprov DKI sudah berkoordinasi dengan Kemendikbud. Hasilnya, Kemendikbud memberikan kewenangan pada daerah untuk menentukan waktu pelaksanaan ujian nasional,” paparnya.

Penyebaran virus Corona di Jakarta, lanjutnya, sudah merata. Untuk itu, langkah tegas harus dilakukan secara menyeluruh. “Dari 69 orang yang diumumkan Kemenkes sebagai orang confirm Covid-19, penyebaran di Jakarta mulai merata. Langkah, cepat ini harus dilakukan secara disiplin,” terangnya.

Selain itu, Anies mengakui ada sebagian dokter dan perawat di rumah sakit di Jakarta yang terinfeksi Corona. Menurutnya, pekerjaan dokter dan perawat sangat berisiko tertular.

“Ini penting untuk selalu jaga suasana kondusif dokter-perawat. Mereka kerja nonstop dan sudah ada sebagian dari mereka yang tertular Covid-19. Mereka paling berisiko dalam menjalankan tugas untuk melakukan pembatasan atas penyebaran Covid-19. Semoga mereka semua diberi kesehatan,” ucap Anies.

Saat ditanya jumlah tenaga medis yang terinfeksi, Anies belum mendapatkan data pasti. “Saya belum dapat angka pastinya. Nanti akan disampaikan,” urainya.

Dia meminta warga Jakarta tidak banyak beraktivitas di luar rumah. Meski begitu, Pemprov DKI tidak menutup Kota Jakarta. Warga tetap bertanggung jawab untuk melindungi diri sendiri dan masyarakat di sekitarnya.

“Tidak ada penutupan Kota Jakarta. Tetapi kami meminta kepada semua warga, ambil sikap bertanggung jawab. Bertanggung jawab pada diri sendiri, bertanggung jawab pada keluarga, dan bertanggung jawab kepada seluruh komponen masyarakat dengan cara melindungi diri dan masyarakat,” bebernya.

Tak hanya sekolah yang ditutup. Destinasi wisata juga dilakukan penutupan untuk mereduksi penyebaran virus Corona. Ada 23 titik wisata yang tertutup untuk umum. Pengumuman itu disampaikan Pemprov DKI Jakarta melalui akun Twitter resmi pada Sabtu (14/3). Sebelumnya, pada Jumat (13/13), sebanyak 17 destinasi wisata ibu kota ditutup. Penutupan destinasi wisata di Jakarta dimulai 14 Maret hingga 29 Maret 2020. Selama penutupan akan dilakukan pembersihan dan disinfektan.

Hal ini terkonfirmasi dari juru Bicara Pemerintah soal Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto. Ia mengatakan hingga Sabtu (14/3) sore, ada 96 kasus positif Covid-19. Angka ini naik dari jumlah sebelumnya 69 orang. Artinya ada penambahan sebanyak 27 kasus baru.

Penambahan itu didapatkan dari pelacakan kontak atau tracing yang dikerjakan secara masif. Dari 96 kasus positif Covid-19, lima pasien meninggal dunia. Dari lima pasien meninggal itu, empat pasien berasal dari 69 kasus positif pertama yang ditemukan. Yakni pasien nomor 25, pasien nomor 35, pasien 36 dan pasien kasus 50.

Sementara satu kasus merupakan pasien di luar 69 yang positif Covid-19 yang diidentifikasi sebelumnya. Namun, Yurianto tidak menjelaskan jenis kelamin dan usia pasien yang meninggal tersebut. Ia menuturkan, sebarannya sudah melebar ke sejumlah daerah. Yakni DKI Jakarta, Bandung, Tangerang, Solo, Jogjakarta, Bali, Manado dan Pontianak. “Tempat lain sekarang sedang ditracing,” tukasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Fraksi Partai NasDem Ahmad Sahroni meminta Pemprov DKI Jakarta melakukan langkah isolasi atau lockdown untuk mencegah semakin meluasnya penyebaran Covid-19. “Saya mendorong Pemprov DKI Jakarta untuk segera melakukan lockdown atau isolasi Jakarta. Dengan penyebaran yang sudah sampai di seluruh wilayah Jakarta ini, lockdown menjadi satu-satunya jalan untuk memperlambat laju penularan,” tegas Sahroni di Jakarta, Sabtu (14/3).

Dia mengatakan langkah lockdown itu perlu dilakukan secepat mungkin untuk menghindari makin banyaknya pasien yang positif Covid-19. Sebagian besar pasien positif Covid-19 berada di Jakarta. “Gubernur DKI Jakarta juga menyebut kasus terbanyak Corona ada di Jakarta. Jadi tunggu apa lagi. Penyebaran virus ini tidak boleh dianggap remeh. Harus segera dilakukan lockdown,” paparnya.

Dia mencontohkan beberapa negara yang mengambil kebijakan untuk lockdown. Menurut anggota DPR asal Tanjung Priok Jakarta Utara itu, China langsung lockdown Wuhan ketika angka positifnya masih 400 orang. Kini angka penyebaran Corona di China sudah menurun sampai satu persen.

“Italia yang baru lockdown setelah angka positif Covid-19 sudah mencapai ribuan. Akibatnya penyebaran virus makin susah dikendalikan. Mumpung angka kasus positif di Indonesia masih puluhan, lockdown harus segera dilakukan,” terangnya.

Menunda lockdown, lanjutnya, berarti membiarkan penyebaran virus berjalan makin tidak terkendali. Selain itu, akan semakin menyulitkan pemerintah dalam upaya penanggulangannya. Dia menilai kalau pasien positif Covid-19 di Jakarta maupun di Indonesia dibiarkan makin banyak, sistem kesehatan yang akan kewalahan.

“Rumah sakit overcapacity, tenaga kesehatan akan kerja 24 jam. Angka pasien yang bisa diselamatkan juga makin rendah, cost-nya juga makin tinggi,” pungkasnya. (fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *