Pandemik Virus Corona, Saatnya Negara Kaya Bertanggung Jawab

oleh -244 views
LOCKDOWN
TUTUP PERBATASAN: Kendaraan memasuki Amerika Serikat sebagai bus drive ke Kanada di Detroit-Windsor Tunnel di Detroit, kemarin. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan menutup perbatasan negaranya dengan siapa pun yang bukan warga negara Kanada, warga Amerika atau penduduk tetap tinggal di tengah wabah virus corona. Foto: AP

LONDON – Sebelum negara-negara Eropa melakukan karantina nasional, miliarder dunia dan mantan bos Microsoft, Bill Gates sudah mendesak negara-negara kaya untuk membantu negara-negara miskin dan berkembang memperlambat penyebaran virus corona baru, yang menurut Gates, seperti patogen sekali dalam seabad.

“Dengan membantu negara-negara di Afrika dan Asia Selatan bersiap-siap sekarang, kita bisa menyelamatkan nyawa dan juga memperlambat sirkulasi global virus ini,” kata Gates, mantan Chairman dan Chief Executive Officer Microsoft Corp, dalam editorial di New England Journal of Medicine seperti dikutip Reuters, awal Maret lalu.

Apa yang dirisaukan Bill Gates menjadi kenyataan. Wabah virus menyebar menjadi pandemik. Lebih dari 219 ribu penduduk dunia terinfeksi dan lebih dari 8.900 kematian terjadi hingga Kamis (19/3). Pandemik itu telah mengejutkan dunia dan membandingkanya dengan korban Perang Dunia Kedua, krisis keuangan 2008 dan flu Spanyol yang terjadi satu abad silam.

Virus corona juga menggoyahkan ibu kota besar di Benua Eropa. Terakhir, London menjadi ibu kota yang menyatakan lockdown dari dunia luar.

“Ini seperti wabah Mesir. Kami seperti melawan bayangan,” ujar pengusaha hotel asal Argentina Patricia Duran, yang merugi setelah resortnya di dekat Air Terjun Iguazu, Brasil, sepi dari turis luar negeri. “Hotel-hotel kosong, destinasi wisata juga ikut mati,” tambahnya.

Pariwisata dan maskapai penerbangan menjadi sektor paling terpukul atas pandemik ini. Para pelancong lebih memilih tidur di rumah sendiri ketimbang harus berurusan dengan penyakit yang mirip flu tersebut.

Di pasar saham, investor telah membuang aset di mana-mana. Mereka beralih ke dolar AS yang dianggap tempat paling aman melindungi asetnya. Mata uang negara lainnya mencapai titik terendah dalam sejarah, termasuk Poundsterling yang terjun bebas sejak tahun 1985.

Pemangku kebijakan di Amerika Serikat, Eropa dan Asia telah memangkas suku bunga dan membuka keran likuiditas untuk mencoba menstabilkan ekonomi yang membuat hampir koma dengan konsumen yang dikarantina, rantai pasokan yang terputus, transportasi yang terganggu, dan bisnis yang lumpuh selama berpekan-pekan.

Virus  yang diduga berasal dari satwa liar di daratan China akhir tahun lalu, telah menyebar ke 172 negara dan wilayah lain dengan lebih dari 20 ribu kasus baru dilaporkan dalam 24 sehari. Kasus corona di Jerman, Iran dan Spanyol yang paling banyak lebih dari 12 ribu kasus.

Di Inggris, pemberlakuan lockdown mulai disiapkan. Otoritas setempat bersiap-siap menutup akses kereta bawah tanah dan sekolah bersiap, hari ini (20/3). Sekitar 20 ribu personel militer siap membantu dan Ratu Elizabeth akan meninggalkan Istana Buckingham di ibu kota untuk kastil kunonya di Windsor.

Inggris telah melaporkan, 104 kematian dan 2.626 kasus, tetapi penasihat ilmiah mengatakan jumlah sebenarnya infeksi mungkin lebih dari 50 ribu. Supermarket di banyak negara dikepung oleh pembeli yang membeli makanan pokok dan produk-produk kesehatan.

Proyek bantuan dan solidaritas bermunculan di beberapa sudut termiskin di dunia. Di daerah kumuh Kibera Kenya, misalnya, sukarelawan dengan drum plastik dan kotak-kotak sabun di sepeda motor mendirikan stasiun cuci tangan untuk orang-orang yang kehilangan akses air bersih.

Di tengah kesuraman, China memberikan secercah harapan, karena melaporkan 34 kasus baru yang jumlahnya jauh sejak Januari lalu.

Dalam langkah-langkah keuangan yang luar biasa di seluruh dunia, Bank Sentral Eropa meluncurkan pembelian obligasi baru senilai EUR 750 miliar. Dana talangan itu untuk memberikan bantuan ke pasar obligasi dan juga menghentikan penurunan saham Eropa, meskipun ekuitas masih goyah di tempat lain.

“Masa luar biasa membutuhkan tindakan yang luar biasa,” kata Presiden ECB Christine Lagarde, di tengah kekhawatiran bahwa ketegangan dapat menurunkan kurs euro.

Federal Reserve AS meluncurkan program kredit darurat ketiganya dalam dua hari, yang bertujuan menjaga industri reksa dana pasar uang senilai USD 3,8 triliun kembali berjalan.

China dilaporkan akan mengeluarkan triliunan yuan dari stimulus fiskal dan Korea Selatan menjanjikan USD 39 miliar agar pasarnya tetap berjalan baik.

Di tempat lain, tiga produsen mobil besar – Ford Motor Co (FN), General Motors Co (GM.N) dan Fiat Chrysler Automobiles- merugi dan menutup pabriknya di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko.

Bank-bank sentral di negara-negara berkembang dari Brasil hingga India telah melangkah dalam minggu ini untuk membeli obligasi pemerintah untuk mencegah lonjakan biaya pinjaman. Ekonom JP Morgan memperkirakan ekonomi China turun lebih dari 40 persen pada kuartal ini dan ekonomi negara Paman Sam bakal menyusut 14 persen di tahun berikutnya.

“Jika ini terus berlanjut ke tahun berikutnya, kita akan mengalami resesi seperti tahun 1930-an,” terangnya. (fin/tgr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *