Revitalisasi Tak Kunjung Usai, Pedagang Sengsara

oleh -108 views
apr-pedagang pasar pasalaran
PROTES: Sejumlah Pedagang Pasar Pasalaran mengeluhkan tidak jelasnya waktu pembangunan Pasar Pasalaran. Sejak 2017 hingga kini, pedagang mengalami banyak kerugian. FOTO: APRIDISTA SITI RAMDHANI/RADAR CIREBON

CIREBON – Meski telah menghabiskan anggaran puluhan miliar, revitalisasi Pasar Pasalaran, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon masih terbengkalai. Pembangunan yang dilaksanakan sejak tahun 2017 lalu itu, hingga kini belum tuntas juga.

Para pedagang pun terpaksa menempati pasar darurat (sementara), dengan kondisi semrawut. Mereka pun makin kehilangan pembeli, bukan menikmati keuntungan. Kini, mereka banyak yang menutup toko karena sudah tak ada lagi pembeli.

Salah satu pedagang, H Wartama menuturkan, Pasar Pasalaran sebelumnya ditempati pedagang dengan jumlah kios 329.648 los dan 229 lemprakan. Saat direvitalisasi, para pedagang terpaksa pindah ke pasar darurat. Kondisi pasar darurat yang semrawut, apalagi saat hujan pasar penuh becek, makin membuat pembeli enggan untuk datang. Ia mengungkapkan, untuk membangun pasar darurat saja, tak ada bantuan dari pemerintah.

“Masing-masing pedagang mengeluarkan budget rata-rata Rp4 juta untuk membangun lapak sementara di pasar darurat ini. Tak ada bantuan apapun,” ungkapnya, kemarin.

Pedagang lainnya, Suharto menuturkan, awalnya pembangunan dijanjikan akan rampung dalam waktu dua tahun. Namun hingga kini, masih belum juga rampung. Bahkan hingga saat ini, pemerintah daerah tidak pernah mengajak para pedagang untuk duduk bersama dan memberikan sosialisasi.

“Kami menginginkan AMDAL dari pembangunan ini, sosialisasi dan duduk bersama membicarakan pembangunan seperti apa pembangunan berlangsung,” paparnya.

Hal ini pun turut diiyakan pedagang lainnya, H Tamrona. Ia mengungkapkan, tak adanya sosialisasi dan progres pembangunan, membuat para pedagang hanya memiliki harapan kosong. Hingga sekarang, tampak depan pun belum usai. Dari yang terlihat oleh pedagang, struktur banyak yang tak sesuai. Seperti ukuran los yang berkurang, kemudian material cor-coran yang buruk.

“Los yang semula berukuran 2×2 m, kini hanya 2×1,5m terlalu kecil. Cor-coran juga sudah bocor lagi kemarin. Padahal bangunan baru dan belum dipakai,” terangnya.

Sementara itu, pembangunan yang terbengkalai ini pun membuat sejumlah pedagang sengsara. Salah satunya diungkapkan pedagang baju, Sarimah. Menurutnya, dari pembangunan yang terbengkalai ini, pedagang pakaian menjadi imbas yang sangat dirugikan. Pasalnya, hingga saat ini, omzetnya turun hingga 90 persen. Sangat berat bisa menjual satu atau dua potong, pulang dengan tangan kosong pun kini sudah bukan hal baru lagi baginya.

“Senin lalu bahkan tak ada yang bisa terjual. Syukur-syukur, terjual 1 atau dua potong,” terangnya.

Meski mendekati Ramadan, namun pihaknya pun belum menambah stok baju yang dimiliki. Padahal momen jelang Lebaran menjadi momen yang ditunggu para pedagang. “Tahun sebelumnya, Ramadan tidak berpengaruh. Aplagi sekarang, makin sepi. Kami mau beli stok pun tidak bisa,” ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan, kini sebagian besar toko baju tutup karena tak mendapatkan pemasukan. Sedangkan retribusi dan biaya transportasi juga makan dikeluarkan setiap harinya. Mereka yang bertahan berjualan pun dikarenakan tak ada lagi tempat. Dan ini menjadi satu-satunya mata pencaharian yang diandalkan.

“Sebagian tutup karena tak ada pembeli. Dan hanya menunggu pasar jadi. Berharap dengan pasar baru nanti, bisa memperoleh pendapatan lebih baik,” harapnya.

H Tumirah pun sangat menyayangkan kondisi ini. Padahal sebelumnya, di akhir tahun 2019 lalu, Bupati Imron datang untuk melakukan sidak pasar. Ia ingat betul ketika kepala daerah merangkul para pedagang, dan berjanji akan menyelesaikan pembangunan , sehingga di tahun 2020 ini pedagang bisa masuk ke pasar baru.

“Kami tak mengharapkan janji. Kami berharap Pasar Pasalaran bisa secepatnya terealisasi. Kami bisa berjualan seperti selayaknya,” ungkapnya.

Di samping itu, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Pasalaran Kabupaten Cirebon, Uus Ruhyat menambahkan, besar harapan pedagang untuk cepat menempati Pasar Pasalaran yang layak. Para pedagang pun berharap sebelum rampung dan dibangun, pedagang diajak bicara, ada Amdal. “Kami berharap pemerintah bisa mendengar keingnan kami ini. Semoga ini bisa menjadi perhatian,” tegasnya.

Para pedagang pun bersepakat jika tak ada tindak lanjut dan langkah konkrit dari pemerintah, pedagang akan turun ke jalan menyampaikan aspirasi dan menutup akses pantura. (apr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *