Kisah Azan Pitu Mengusir Wabah Baruan Nandi di Cirebon

oleh -11.682 views
BERSIAP: Muazin Azan Pitu mengumandangkan azan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa sebelum salat Jumat, belum lama ini. FOTO: OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

Cirebon punya sejarah terkena wabah penyakit yang parah, pada masa-masa awal berdirinya kesultanan. Setelah melakukan berbagai ikhtiar, wabah tersebut akhirnya dapat ditangkal melalui berserah diri (tawakal), dengan mengumandangkan azan oleh tujuh orang ulama sekaligus, atau yang kini dikenal dengan Azan Pitu.

AZIS MUHTAROM, Cirebon

DI masa awal penyebaran ajaran Islam di tanah Caruban, banyak pihak yang tidak menyukainya. Berbagai upaya dilakukan pihak luar agar warga Cirebon menjauh dari ajaran Islam, yang paling parah adalah diserangnya Masjid Sang Cipta Rasa dengan suatu wabah yang dalam naskah kuno dinamakan Baruan Nandi.

Kondisi saat itu membuat Masjid Sang Cipta Rasa sempat terjadi kebakaran hebat. Kebakaran tersebut ditengarai bukan kebakaran biasa, ada yang merancang musibah. Sbab selama beberapa waktu yang cukup lama, banyak warga yang terserang penyakit aneh akibat wabah ini.

“Baruan artinya semacam singa berambut panjang, nandi artinya sakti. Banyak orang dulu yang sorenya sakit, paginya langsung meninggal,” ujar Budayawan dan Ahli Naskah Kuno, M Rafan Safari Hasyim.

Peristiwa tersebut, terjadi pada masa pemerintahan Panembahan Ratu, cicit dari Sunan Gunung Jati. Sang Sultan yang bertakhta saat itu sudah mengerahkan berbagai upaya untuk menanganinya. Hingga akhirnya, mendapat nasihat dari Ratu Dewi Dalem Pakungwati, Nenek Buyutnya yang juga istri mendiang Sunang Gunung Jati.

Nenek buyutnya tersebut memilih untuk turun tangan mengatasi wabah musibah ini. Panembahan Ratu yang saat itu masih belia, dilarang turun tangan langsung, karena kehadiranya masih sangat dibutuhkan oleh rakyatnya guna memimpin kesultanan.

“Atas nasihat tersebut, akhirnya Mimi Dewi Pakungwati memimpin pemadaman masjid itu. Ya dengan azan pitu itu. Kemudian ada ledakan, terus Ratu Dalem Pakungwati hilang, meninggal dan jasadnya tidak ada. Kalau kepercayaan orang-orang suci itu jasadnya dibawa, wabahnya ikut ilang seketika itu,” ulasnya.

Dia menyebutkan setelah wafatnya Sunan Gunung Jati, cobaan yang luar biasa mendera warga Cirebon saat itu. Sampai dicari sedapat mungkin siapa satria yang bisa menghadapi itu, karena pada waktu itu generasi tua yang sakti-sakti habis (meninggal). Seluruh warga Cirebon diserang, dengan pusat wabahnya di Masjid Cipta Rasa.

Hingga kini azan pitu pun masih dilestarikan, dengan filosofi tujuh itu artinya jamak. Dengan ikhtiar yang sudah maksimal melalui cara mentauhidkan Allah secara total. Berserah diri pada Allah menjadi jalan terakhir.

SELALU KOMPAK, TAK ADA LATIHAN DAN MENYAMAKAN NADA

Azan pitu selalu menghadirkan kesan tersendiri. Untuk mereka yang mengikuti salat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Nadanya, berbeda dengan Azan yang sehari-hari kita dengar. Dilantunkan tujuh orang bersamaan.

Tak ada persiapan yang istimewa. Juga tak ada latihan menyamakan nada. Langgam. Semuanya sudah paham tugas masing-masing.

Ini memungkinkan terjadi karena muazin Azan Pitu ini turun temurun. Bukan hanya personelnya. Tapi juga cara melafalkannya. Ustadz Fatoni, Adnan, Ismail, Zaenal, Bajuri, Apud dan Munadi, siang itu yang bertugas.

Mendekati waktu dzuhur, mereka mulai mengambil wudhu. Kemudian mengenakan sorban hingga jubah putih. Tapi di pekan sebelumnya yang bertugas menggunakan jubah hijau.

Pakaian putih menjadi penanda petugas kaum yang melantunkan Azan Pitu itu dari Keraton Kasepuhan. Petugas Kaum Keraton Kanoman yang melakukan Azan Pitu biasanya mengenakan gamis hijau.

Para muazin ini mulai bersiap diri sekitar pukul 11.20 WIB. Begitu waktu salat kian dekat, barulah mereka masuk ke dalam masjid. Sudah ada shaf khusus. Persis di tengah masjid.

Mereka kemudian memimpin jamaah salat bersalawat. Sampai masuk waktu salat. Tujuh muazin itu berdiri berjajar sambil menempelkan kedua tangan di samping telinga. Barulah dimulai azan yang dilakuan tujuh orang ini berkumandang.

Suara yang dihasilakan berbeda dari azan salat baisanya. Salah satu muazin, Ismail menyebutnya bak paduan suara. “Sebetulnya nggak ada nadanya,” ucap dia, yang berbincang dengan wartawan Radar Cirebon sebelum menunaikan tugasnya.

Muazin Azan Pitu ini tak pernah berlatih untuk menyamakan nada. Mereka sudah memahami satu sama lainnya. “Yang penting panjang pendeknya sama,” lanjut Ismail.  

Secara struktural, ada kepengurusan kaum yang ditunjuk di Masjid Sang Cipta Rasa. Dari Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman.

Pengurus kaum itu untuk rutinitas sehari-hari 24 orang. Kepala kaum-nya ada dua orang. Dari Keraton Kasepuhan dan Kanoman. Ditambah juga petugas imam rawatib ada empat. Syamsuri, salah satu petugas kaum menyebutkan, jumlah pengurus ini 30 orang.

Menjadi petugas kaum biasanya turun temurun. Tapi kalau tidak ada yang melanjutkan, biasanya mencari kerabat atau orang yang berada di sekitar Masjid Agung.

Selain melestarikan tradisi yang sudah turun temurun, ada tugas mulia yang diemban muazin. Tugas itu tentu saja memanggil jamaah untuk melaksanakan salat. Munadi misalnya. Menjadi Muazin azan pitu baginya adalah kebanggaan.

Pelaksanaan Azan Pitu sendiri dilakukan saat azan pertama. Sementara untuk azan kedua, hanya dilakukan satu orang. Setelah azan, pertama jamaah melakukan salat sunah rawatib. Baru mengumandangkan azan lagi yang kedua. Lalu khatib naik ke mimbar. Dalam penyampaian Khutbah Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa sendiri memakai Bahasa Arab. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *