Puskesmas dan RS Kewalahan, Kadinkes Kota Cirebon Pinjam Uang Koperasi Beli APD

oleh -564 views
INFOGRAFIS JUMLAH ORANG YANG DIPERIKSA DI RSDGJ TERKAIT COVID-19

CIREBON– Tenaga medis di Kota Cirebon kewalahan dalam menangani pasien terkait virus corona atau Covid-19. Terlebih alat pelindung diri (APD) semakin terbatas. Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Cirebon dr Edy Sugiarto menegaskan puskesmas di Kota Cirebon akan melakukan lockdown jika dalam 2 minggu APD tidak terpenuhi.

Edy mengatakan, APD untuk petugas medis di Kota Cirebon sudah dalam zona merah. Artinya, telah masuk kondisi darurat. Mereka tidak mungkin menangani pasien tanpa APD. Hal itu, kata Edy, dapat menimbulkan risiko. Karena terdesak, Edy pun sampai meminjam uang di koperasi Rp51 juta untuk memenuhi APD sementara. “Saya pinjam ke koperasi Rp51 juta, karena anggaran belum turun,” kata Edy kepada Radar Cirebon, Senin (23/3).

Edy mengantisipasi lonjakan pasien Covid-19 jika suatu saat terjadi kondisi darurat. Salah satu opsi yang ditawarkan, membuka RS Budi Luhur di Kecamatan Harjamukti. Dengan jumlah tenaga medis yang ada, imbuh Edy, pihaknya akan meminta bantuan dari tenaga medis di seluruh rumah sakit yang ada di Kota Cirebon. Mengenai kerja sama tersebut, juga telah dilakukan rapat bersama seluruh jajaran rumah sakit se Wilayah 3 Cirebon.

“Di Kota Cirebon ODP ada 41 orang, 5 sudah aman jadi tinggal 36. Kalau (anggaran untuk APD, red) 2 Minggu lagi tidak cair, petugas puskesmas lockdown. Karena tanpa APD, kami tidak bisa menangani,” katanya.

Kewaspadaan itu wajar terjadi. Mengingat Cirebon dijadikan sebagai kota persinggahan atau transit. “Karena Cirebon diserbu oleh pendatang dari mana-mana. Saya izin, untuk orang asing sementara di Kota Cirebon kita lockdown,” bebernya.

Edy mengatakan dengan ODP yang terus bertambah, harusnya sudha masuk zona merah. Namun, Edy mengatakan keputusan itu ada di pimpinan. “Dalam kondisi seperti ini harusnya di Kota Cirebon ini sudah merah. Karena di Kota Cirbon setiap harinya ada 7-8 ribu pendatang. Dari kereta api 5 irbuan orang, penumpang di terminal lima ratusan, dan dari bandara da 50-100 orang. Kemarin contoh kedatangan ODP dari Depok 5 orang, dari Bandung dan Jakarta 3 orang. Jadi infiltrasinya sudah cukup massif,” ujarnya.

Namun, ia kembali menegaskan tetap menyerahkan penetapan status zona merah melalui kepala daerah. Yang jelas, sambungnya, pihak dinkes dan para medis serta unsur terkait lainnya akan mengantisipasi kemungkinan terburuk jika pasien Covid-19 terus meningkat.

Jumlah mereka yang ditangani terkait Covid-19 di Kota Cirebon tergolong banyak. Hingga tanggal 22 Maret, Rumah Sakit Daerah Gunung Jati (RSDGJ) Kota Cirebon telah menangani 66 orang yang melakukan pemeriksaan atau skrining Covid-19. Mereka didominasi warga dari Kabupaten Cirebon.

Direktur Utama RSD Gunung Jati dr Ismail Jamaludin mengatakan warga yang memeriksakan diri dari Kabupaten Cirebon sebesar 35,3 persen. Kemudian Kota Cirebon 26,5 persen, Kuningan 7,4 persen, Majalengka 4,4 persen, Indramayu 2,9 persen dan daerah lain sebanyak 23,5 persen. “7,4 persen di antaranya adalah WNA (warga negara asing) yang berasal dari China dan Filipina,” kata Ismail dalam sesi jumpa pers, kemarin (23/3).

Dari 66 orang yang telah memeriksakan diri, 22 orang di antaranya tidak masuk kriteria Covid-19. Sementara 35 orang status ODP, 8 PDP, dan 1 positif Covid-19. “1 orang pasien yang terkonfirmasi positif saat ini dalam kondisi sehat, tetapi baru diperbolehkan pulang apabila hasil swab sebanyak 2 kali menunjukkan hasil negatif,” imbuhnya.

Penangananan Covid-19 RSDGJ mempunyai ruang isolasi dengan kapasitas 6 tempat tidur. Terdiri dari 4 tempat tidur untuk perawatan biasa dan 2 tempat tidur untuk perawatan intensif. Ruang isolasi saat ini penuh oleh 6 pasien yang sedang dirawat.

Pasien yang memerlukan isolasi untuk sementara ditempatkan di anteroom (ruang tunggu) atau isolasi sebelum di rujuk ke rumah sakit lain. Hingga Senin (23/3) pagi, ada 4 orang ditempatkan di anteroom tersebut. Ruang isolasi eks ruang flu burung itu dilengkapi dengan sistem ventilasi negatif, CCTV untuk memantau kondisi pasien dan alat-alat medis untuk keperluan perawatan pasien dengan airborne disease.

Ismail menambahkan, sejak beberapa hari lalu RSDGJ berusaha menambah 29 tempat tidur. Ruang isolasi ke-2 ini menggunakan ruang perawatan yang sebelumnya tidak digunakan. Dikatakan Ismail, pihaknya masih akan terus menambah kapasitas tempat tidur dengan mengalih fungsikan Ruang IPSRS dan rumah tangga menjadi ruang isolasi ke-3.

“RSDGJ juga telah membentuk tim infeksi emerging yang diketuai dr Syifa Imelda SpP dan beranggotakan dokter-dokter spesialis, dokter umum, perawat dan tenaga kesehatan lainnya, serta beberapa pejabat structural dalam penanganan Covid-19 ini,” bebernya.

Sama dengan Kadinkes Edy Sugiarto, Ismail juga mengakui saat ini ketersediaan APD dalam kondisi kritis karena kebutuhan semakin meningkat akibat dari peningkatan jumlah pasien. Dalam pemenuhan sarana dan prasarana tersebut, RSGJ dibantu Pemkot Cirebon dan Pemprov Jawa Barat, serta Kemenkes RI dalam memenuhinya.

Upaya lainnya yang telah dilakukan RSDGJ dalam upaya mencegah penularan Covid-19 antara lain membatasi akses pintu masuk RS, meniadakan jam kunjungan, membatasi jumlah penunggu pasien maksimal 1 orang, skrining suhu tubuh di pintu masuk dan pembagian zona aman. (ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *