Muspika Cigugur Pastikan Peternak Miliki Bak Limbah Kohe

oleh -87 views
monitoring kohe tat2
MONITORING: Camat Cigugur Didin Bahrudin bersama jajaran muspika monitoring ternak sapi di beberapa titik di Kelurahan Cipari, Senin (23/3). FOTO: Tatang azhari/radar kuningan

KUNINGAN – Selain Coronavirus Desease atau Covid 19, masalah limbah kotoran hewan atau kohe berupa kotoran sapi, menjadi penanganan serius Muspika Cigugur. Dipimpin Camat Didin Bahrudin dan Kasi Pembangunan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Ikin Sodikin, mereka gencar turun ke para peternak sapi.

Menurut Ikin Sodikin, populasi ternak sapi di Kecamatan Cigugur terbanyak di Kabupaten Kuningan. Jumlah sapi Kecamatan Cigugur mencapai 7.590 ekor. Tersebar di desa/kelurahan se Kecamatan Cigugur dengan jumlah terbesar ternak sapi ada di Kelurahan Cipari hingga tembus 4 ribu ekor lebih.

“Empat ribu lebih ekor sapi di Kelurahan Cipari, bernaung di KSU Karya Nugraha, CV Saluyu dan CV Lembah Kemuning. Dari tiga itu, paling banyak ada di KSU Karya Nugraha,” sebut Ikin, yang juga Plt Lurah Winduherang itu kepada Radar, usai monitoring ternak sapi di beberapa titik di Kelurahan Cipari, Senin (23/3).

Diakui, sejak sebulan ini, Ia bersama Muspika Cigugur terus terjun ke lapangan. Selain memasang stiker Surat Edaran Bupati No 660.1/331/DLH/2020 tentang Larangan Pembuangan Limbah Ternak ke Sungai, Ia juga terus memastikan edaran tersebut, betul dilaksanakan oleh para peternak sapi.

Sebelum terbit edaran bupati, kecamatan terlebih dahulu membentuk Tim Pengendalian Limbah Ternak Kecamatan Cigugur oleh Camat Cigugur. Seluruh muspika dilibatkan. Semua ekstra bekerja, sampai muncul surat edaran bupati.

“Banyak upaya kita selain itu. Sebulan ini, kita dihantam penanganan masalah kohe,” tegas Ikin  

Bersama KSU Karya Nugraha, CV Saluyu dan Lembah Kemuning kaitan internal koperasi dan perusahaannya, lanjut Ikin, pihaknya juga berkoordinasi secara intensif. Pun dengan para kepala desa/lurah di Kecamatan Cigugur.

Kemudian izin-izin usaha mikro kecil juga dipersyaratkan harus ada pernyataan siap menyediakan lahan untuk penampungan kohe. Begitu juga usaha-usaha ternak sapi lain, yang sudah berizin disusulkan prasyarat harus memiliki bak penampungan kohe. Tentu agar kohe mereka tidak mencemari, lalu mengganggu lingkungan.

“Semua peternak sapi, pokoknya dipersyaratkan itu (bak penampungan kohe, red). Kita akan terus pantau hasilnya,” tandas Ikin.(tat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *