Skenario Terburuk 8.000 Kasus, Tinggalkan Jakarta Terancam Pidana

oleh -764 views

JAKARTA- Pasien virus corona (Covid-19) di Indonesia terus meningkat. Hingga Kamis (26/3) jumlahnya 893 kasus. Sedangkan yang meninggal 78 orang. Dari jumlah itu terbanyak dari wlayah DKI Jakarta. Yakni mencapai 495 kasus dan 47 orang meninggal dunia. Skenario terburuk positif corona di wilayah DKI Jakarta bisa mencapai 8.000 orang.

“Karena itu, perlu kami sampaikan latar belakang didirikannya rumah sakit darurat Covid-19 di Wisma Atlet Kemayoran Jakarta. Ini adalah antisipasi pemerintah apabila penyebaran virus tidak bisa dibendung. Tentu, banyak orang akan terpapar oleh virus ini. Sementara apabila hanya mengandalkan rumah sakit yang ada, jelas tidak mungkin,” kata Pangdam Jaya Mayjen TNI Eko Margiyono di Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Kamis (26/3).

Wisma Atlet, lanjut Eko, disiapkan untuk menampung pasien jika penyebaran virus corona terus bertambah hingga mencapai ribuan pasien. “Dari hasil simulasi Forkompimda DKI, karena Jakarta paling banyak terpapar virus ini, skenario terburuknya adalah jumlahnya bisa mencapai 6.000 sampai 8.000 orang positif Covid-19,” papar mantan Danjen Kopassus ini.

Karena itu, pemerintah bertindak cepat dengan mengubah Wisma Atlet menjadi rumah sakit darurat Corona. Semua elemen dilibatkan dalam pendirian rumah sakit tersebut. Yakni gabungan instansi Kemenkes, Kementerian PUPR, Kementerian BUMN, TNI, Polri, dan relawan. “Kalau skenario bertambah buruk, bisa gunakan tower empat dan lima,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui saat ini sudah ada dua tower di Wisma Atlet yang digunakan sebagai RS Darurat Covid-19. RS darurat memiliki daya tampung sebanyak 3.000 pasien. Tower tujuh sudah beroperasi dengan daya tampung 1.700 pasien. Sedangkan tower enam memiliki daya tampung 1.300 pasien.

“Rumah sakit darurat Wisma Atlet ini beda dengan yang lain. Karena menerapkan sistem pelayanan safe handling, dengan sistem video call. Kedua self karantina, ketiga limitasi kontak dengan petugas. Keempat apabila semakin memberat akan dirujuk ke RS rujukan,” tukasnya.

Saat ini sudah ada beberapa pasien yang dirujuk ke RS rujukan pemerintah. Sebab, pasien menunjukkan gejala yang berat selama dirawat di Wisma Atlet. “Ada beberapa pasien yang datang setelah diperiksa menunjukkan gejala berat. Selanjutnya pasien tersebut dirujuk,” ucapnya.

Hingga saat ini RS yang beroperasi sejak 23 Maret lalu telah merawat sebanyak 208 pasien.Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengatakan masyarakat dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi telemedik atau telemedicine untuk pencegahan dan penanganan. “Melalui telemedik, masyarakat lebih siap secara dini dalam pencegahan dan penanganan Covid-19,” kata Agus.

Kemenkes bekerja sama dengan Aliansi Telemedik Indonesia (Atensi) memanfaatkan telemedik yang berbasis internet untuk memberikan beberapa pelayanan terkait Covid-19. “Manfaat itu mulai penyediaan informasi sebagai upaya edukasi dan kesiapsiagaan hingga berkonsultasi secara interaktif atau online,” jelasnya.

Menurut Agus, melalui layanan yang diakses secara online dengan perangkat gawai dan komputer, berbagai informasi penting dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Seperti contoh cuci tangan yang benar, etika batuk maupun physical distancing. Di samping itu, layanan ini membantu pemerintah dalam memberikan informasi Covid-19 yang benar sehingga masyarakat dapat mengantisipasi berita palsu (hoaks) maupun mengurangi kepanikan.

SANKSI PIDANA

Warga Jakarta dilarang ke luar daerah. Sanksi hukum atau pidana akan disiapkan bagi yang meninggalkan Ibu Kota Jakarta dalam upaya mencegah penyebaran wabah Covid.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan pihaknya bersama gugus tugas akan mendiskusikan langkah-langkah hukum terkait upaya pembatasan dan imbauan agar warga Jakarta tak meninggalkan ibukota Republik Indonesia.“Nanti kita akan bicarakan bersama-sama di gugus tugas terkait langkah-langkah hukum yang bisa kita lakukan, supaya kita bisa mengerjakannya dengan dasar yang kuat,” ujarnya, Kamis (26/3).

Dikatakan, pembatasan memang ada kewenangan-kewenangannya. Namun pihaknya sudah mengimbau sejak lama agar warga Jakarta tidak pulang kampung atau keluar kota demi mencegah penyebaran wabah Covid-19.“Kalau secara imbauan saya sudah menyampaikan dua pekan yang lalu bahwa jangan pulang kampung, jangan meninggalkan Jakarta demi kebaikan seluruh masyarakat,” katanya.

Anies meminta masyarakat tidak egois dan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri saja, namun juga perlu memikirkan kepentingan masyarakat secara keseluruhan.

Terpisah Kapolri Jenderal Pol Idham Azis meminta agar masyarakat patuh pada kebijakan pemerintah dalam penanganan penyebaran Covid-19. Polri akan memberikan perlindungan kepada masyarakat dengan mengutamakan asas keselamatan rakyat sebagai hukum tertinggi.“Salus populi suprema lex esto, keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi,” katanya.

Dalam upaya pencegahan penyebaran virus corona, Polri telah membubarkan sebanyak 1.371 kerumunan massa di seluruh Indonesia.Idham berharap masyarakat menaati imbauan Polri ini dengan tetap berdiam di rumah dan tidak berkerumun demi mencegah penyebaran wabah Covid-19.

Selain itu, Jenderal Pol Idham Azis juga meminta jajarannya untuk selalu mengingatkan masyarakat agar mematuhi imbauan Pemerintah.“Itulah tugas Polri untuk selalu mengingatkan warga,” katanya.

Polri menyadari dibutuhkan kesabaran agar masyarakat bisa memahami dan mematuhi imbauan pemerintah dan sejumlah protokol yang dibuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).“Perlu kesabaran agar masyarakat memahami,” katanya.

Hal yang sama diungkapkan Pangdam Jaya Mayjen TNI Eko Margiyono. Ia meminta masyarakat untuk mematuhi anjuran pemerintah, salah satunya dengan mengurangi aktivitas di luar rumah dan jaga jarak sosial. “Kami ingin mengimbau mari kita bersama-sama seluruh komponen masyarakat untuk disiplin mematuhi seluruh imbauan yang disampaikan pemerintah,” katanya.

Menurut dia, yang bisa dilakukan untuk memutus rantai persebaran virus Covid-19 pertama-tama adalah dengan menjaga jarak sosial termasuk melakukan karantina mandiri dengan tidak bepergian jika tidak diperlukan. “Pertama adalah jaga jarak, karena itu salah satu cara memutus mata rantai,” tambahnya.

Selanjutnya, Eko juga mengatakan bahwa pemerintah telah memberikan imbauan kepada masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan. “Sering cuci tangan dengan menggunakan sabun. Ketiga jangan memegang mata, hidung dan mulut kalau tangan tidak bersih. Keempat tinggal di rumah jangan berpergian kalau tidak penting,” imbuhnya.

BUTUH BANYAK RELAWAN

Sementara itu, Koordinator Relawan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Andre Rahardian menyatakan dibutuhkan sekitar 1.500 dokter. Terutama dokter spesialis paru, dokter spesialis anestesi, dan juga dokter umum pranata lab. Selain itu, juga dibutuhkan sekitar 2.500 perawat, dan bagian administrasi rumah sakit sampai supir ambulans. “Ini semua kita panggil sebagai relawan untuk menghadapi pandemik ini,” tegas Andre.

Gugus tugas, kata Andre, sudah melakukan kerja sama dengan asosiasi LSM dan juga perguruan tinggi. Mereka diajak bergabung sebagai relawan menangani para pasien Covid-19. Andre menuturkan, para relawan dari mahasiswa tingkat akhir akan menjadi lapisan kedua pada pencegahan.

Mereka akan ditugaskan secara online untuk membantu melakukan konsultasi. “Teman-teman mahasiswa akan membantu konsultasi baik secara medis dan psikologis yang akan dilakukan melalui platform online,” papar Andre. (ful/khf/fin/rh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *