18 Dokter Gugur dalam Status PDP Maupun Positif Corona

oleh -249 views
dokter-idi-meninggal-dunia-karena-corona
dr Ketty Herawati Sultana dari IDI Cabang Tangerang Selatan.

JAKARTA – Virus corona membuat para dokter yang berada di garis depan berisiko terpapar. Hingga kini, sudah 18 dokter yang gugur baik positif terinfeksi maupun menjadi pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19.

Humas Ikatan Dokter Indonesia ( IDI), dr Halik Malik mengatakan, para dokter dan tenaga medis tersebut diduga terinfeksi virus corona saat merawat atau menangani pasien-pasien virus corona di rumah sakit.

Berikut ini adalah daftar ke-18 dokter yang gugur akibat terpapar virus corona:

  1. Prof Dr. dr. Iwan Dwi Prahasto (Guru Besar FK UGM)
  2. Prof. Dr. dr. Bambang Sutrisna (Guru Besar FKM UI)
  3. dr. Bartholomeus Bayu Satrio (IDI Jakarta Barat)
  4. dr. Exsenveny Lalopua, M.Kes (Dinkes Kota Bandung)
  5. dr. Hadio Ali K, Sp.S (Perdossi DKI Jakarta, IDI Jakarta Selatan)
  6. dr. Djoko Judodjoko, Sp.B (IDI Bogor)
  7. dr. Adi Mirsa Putra, Sp.THT-KL (IDI Bekasi)
  8. dr. Laurentius Panggabean, Sp.KJ (RSJ dr. Soeharto Herdjan, IDI Jakarta Timur)
  9. dr. Ucok Martin Sp. P (Dosen FK USU, IDI Medan)
  10. dr. Efrizal Syamsudin, MM (RSUD Prabumulih, Sumatera Selatan, IDI Cabang Prabumulih)
  11. dr. Ratih Purwarini, MSi (IDI Jakarta Timur)
  12. Laksma (Purn) dr. Jeanne PMR Winaktu, SpBS (IDI Jakarta Pusat)
  13. Prof. Dr. dr. Nasrin Kodim, MPH (Guru Besar Epidemiologi FKM UI)
  14. Dr. Bernadetta Tuwsnakotta Sp THT (IDI Makassar)
  15. Dr. dr. Lukman Shebubakar SpOT (K) (IDI Jakarta Selatan)
  16. dr. Ketty Herawati Sultana (IDI Tangerang Selatan)
  17. Dr. Heru Sutantyo (IDI Jakarta Selatan)
  18. Dr. Wahyu Hidayat, Sp.THT-KL (IDI Kabupaten Bekasi)

Beberapa waktu sebelumnya banyak dikeluhkan kekurangan Alat Perlindingan Diri ( APD) bagi dokter, perawat dan petugas kesehatan yang berjuang di garis depan dalam menangani wabah virus corona.

Terkait hal itu, Halik menyebut tidak ada satu negara pun yang siap menghadapi wabah virus corona dan setiap negara belajar dan berusaha mencari cara untuk mengatasinya.

“Sejauh ini, keluhan terkait minimnya APD direspons dengan upaya bersama menyiapkannya. Termasuk dokter dan tempat mereka bertugas segala daya upaya dilakukan, termasuk dengan menyiapkan sendiri APD-nya secara swadaya,” lanjutnya.

Banyaknya donasi yang dibuka untuk membantu menyediakan APD bagi para tenaga medis juga diakui sangat membantu mereka yang masih kesulitan mendapatkan APD untuk menjalankan tugasnya.

“Donasi dari berbagai pihak sangat membantu. PB IDI sendiri menyalurkan bantuan APD melalui donasi IDI Peduli kepada sejawat yang kesulitan,” ujar Halik.

Halik menyebut perlunya APD yang memenuhi standar dan pembenahan sistem layanan untuk menghindari risiko terjadinya penularan Covid-19 pada tenaga medis. (yud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *