Keraton Kasepuhan Perpanjang Penutupan Sementara

oleh -786 views
Keraton menjadi destinasi wisata sejarah favorit di Cirebon saat mengisi liburan. Foto: Okri Riyana/Radar Cirebon
Keraton menjadi destinasi wisata sejarah favorit di Cirebon saat mengisi liburan. Foto: DOK. Okri Riyana/Radar Cirebon

CIREBON – Wabah Corona Virus Disease (Covid-19) merupakan pukulan telak bagi sektor pariwisata Kota Cirebon. Dua ikon destinasi turisme yakni, Keraton Kasepuhan dan Goa Sunyaragi secara resmi memperpanjang masa penutupanya.

Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat melalui Direktur Pengelola keraton Kesepuhan, Ratu Raja Kasepuhan Cirebon Alexandra Wuryaningrat mengumumkan, penutupan Keraton Kasepuhan dan Goa Sunyaragi hingga 23 Mei mendatang.

Rencananya, Keraton Kasepuhan dan Goa Sunyaragi akan dibuka kembali pada 24 Mei 2020 bertepatan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Sebelumnya wisata Keraton Kesepuhan dan Goa Sunyaragi ditutup sementara pada tanggal 30 Maret 2020 hingga 9 April 2020.

“Karena pandemi ini masih ada hingga tidak diketahui kapan berakhirnya, maka pengelola memutuskan memperpanjang penutupan sementara,” tutur Ratu Alexandra, kepada Radar Cirebon, Minggu (5/4).

Alexandra menjelaskan, keputusan perpanjangan penutupan sementara itu sudah disetujui oleh sultan, pengelola, guide, maupun staf Keraton Kesepuhan. Bila dipaksakan buka, juga tidak ada yang datang. Mengingat masyarakat melaksanakan social distancing dan diam di rumah.

“Imbauan pemerintah adalah tidak ke mana-mana dulu selama masih pandemi. Jadi tempat wisata termasuk Keraton Kasepuhan dan Goa Sunyaragi akan menjadi sepi,” tuturnya.

Meskipun tidak menerima kunjungan wisatawan untuk sementara waktu kegiatan bersih-bersih keraton masih tetap dilakukan. Selain itu pihaknya juga akan menggiatkan penyemprotan disinfektan untuk mengantisipasi keberadaan virus corona.

Meskipun tak ada kegiatan wisata, kegiatan-kegiatan tradisi yang biasa dilakukan oleh Keraton Kesepuhan masih tetap berjalan. Apalagi menjelang Bulan Ramadan akan banyak kegiatan tradisi. Hanya saja, tidak melibatkan banyak orang seperti biasanya. “Yang biasanya di masjid, kita lakukan di dalam keraton saja,” ungkapnya. (awr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *