Di Tengah Pandemi Corona, Pilih Berkebun dengan Memanfaatkan Pekarangan Rumah

oleh -146 views
Kho-Berkebun cara warga stay at home1
MANFAATKAN LAHAN KOSONG: Pamong desa Limpas mengisi waktu senggang dengan berkebun memanfaatkan lahan nganggur dibelakang kantor desa. FOTO: KHOLIL IBRAHIM/RADAR INDRAMAYU

Warga di pedesaan ikuti anjuran pemerintah untuk stay at home selama pandemi wabah corona berlangsung. Tetapi, terlalu lama berdiam di rumah tak jarang membuat jenuh bahkan stres. Berbagai cari dilakukan untuk menghilangkan rasa bosan saat berada di rumah bersama keluarga.

KHOLIL IBRAHIM, Anjatan

SEPERTI dilakukan keluarga Yanti, warga Kecamatan Anjatan. Dia mencari cara kreatif untuk tetap produktif yakni dengan berkebun ria. Kebetulan halaman depan dan belakang rumahnya cukup luas untuk dijadikan lahan bercocok tanam.

“Berkebun ini hobi lama. Gak sempat dilakoni karena sibuk bekerja. Sekarang banyak waktu, ya diterusin lagi. Suami dan anak-anak juga ikutan,” ucap karyawan swasta di salah satu lembaga pembiayaan ini kepada Radar Indramayu, Minggu (5/4).

Menurutnya, berinteraksi dengan tanaman membuat perasaannya lebih happy. Dengan berkebun, tubuhpun akan dipaksa untuk terus bergerak sehingga tidak merasa lunglai dan lesu.

Kesibukan seperti ini bisa menjauhkan pikiran-pikiran negatif yang kerap muncul saat stay at home. Seperti jalan-jalan ke tempat wisata atau pusat perbelanjaan yang justru berpotensi terjangkit Covid-19.

Dengan memanfaatkan lahan kosong dipekarangan rumah, kebutuhan sayur mayur maupun buah-buahan tercukupi. Karena itu, Yanti memilih tanaman yang cepat tumbuh dan berbuah. “Khusus sayuran saya tanam di tanah, dipilih yang cepat tumbuh dan bisa cepat dipanen. Kalau buah-buahan tanam di pot, istilahnya tabulampot,” ucapnya.

Tak hanya warga, sejumlah pegawai instansi pemerintahan juga ikutan mengisi waktu senggang di tengah pandemi virus corona dengan memanfaatkan lahan kosong di area kantor.

Pamong Desa Limpas, Kecamatan Patrol misalnya. Menyulap lahan nganggur di belakang kantor menjadi kebun herbal. Beberapa jenis sayuran juga ditanam di lahan seluas sekitar 100 meter persegi.

“Pamong yang lagi gak ada kerjaan, biasanya kebelakang ngurus kebun. Alhamdulillah banyak manfaatnya. Hasil panennya dibagi-bagi buat kebutuhan keluarga masing-masing,” ujar Kuwu Desa Limpas, Tato.

Pemdes Limpas, tambahnya, sejak lama mendorong dan mengajak masyarakat dalam memanfaatkan pekarangan rumah masyarakat sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Pemanfaatan pekarangan rumah akan bisa memotivasi warga untuk menyadari potensi yang mereka miliki. “Lahan pekarangan jika dikelola secara optimal dan terencana dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi menunjang kebutuhan gizi keluarga di samping sekaligus untuk keindahan lingkungan tempat tinggal,” terangnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *