Dilema di Tengah Corona, Ibu Berdagang Anak Belajar

oleh -275 views
Imbas Corona
DILEMA : Yeni, pedagang kaki lima di Jalan Siti Armilah membawa anaknya ke tempat berjualan di tengah imbauan belajar di rumah. FOTO: ISTIMEWA/RADAR MAJALENGKA

Faktor ekonomi menjadi salah satu perhatian pemerintah dan masyarakat dalam menyikapi penyebaran covid-19. Dilema ekonomi dirasakan masyarakat, khususnya para pekerja informal dan pedagang kaki lima. Masyarakat bimbang antara memenuhi kebutuhan sehari-hari atau menaati imbauan pemerintah, untuk tetap diam di rumah.

Iim Abdurahim, Majalengka

DILEMA tersebut juga dirasakan Yeni, salah seorang pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di jalan Siti Armilah Majalengka. Apalagi dia memiliki dua anak yang diimbau belajar di rumah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Pemkab Majalengka sendiri sudah mengeluarkan surat edaran terkait perpanjangan belajar di rumah tahap kedua untuk 14 hari ke depan terhitung mulai 30 Maret hingga 12 April 2020. 

Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan di tengah penyebaran virus Corona membuat Yeni terpaksa membawa anaknya saat berjualan. Hal itu dilakukan agar anaknya ada yang menjaga dan mengawasi. Karena jika ditinggalkan di rumah tidak ada yang menjaga.

“Terpaksa kang, tapi anak saya tetap belajar walaupun sambil menunggu saya jualan. Sekarang anak-anak saya sedang mengerjakan salah satu tugas mata pelajaran sekolah,” ungkap Yeni.

Secara detail Yeni menyebutkan anak sulungnya sedang mengerjakan tugas menulis mulai dari halaman 57 sampai 62. Setelah menulis lalu dikirimkan ke gurunya lewat WhatsApp.

“Saya harus mengeluarkan uang 25 ribu untuk membeli paket kuota selama satu minggu,” terangnya.

Yeni juga merasa kasihan terhadap anaknya yang biasa belajar, pergi ke sekolah dan bertemu dengan teman-teman kini harus berdiam di rumah dan belajar di pinggir jalan karena harus ikut berjualan. Dia bukannya tidak mau anaknya diam dan belajar di rumah, namun dia tidak memiliki pilihan karena tidak ada yang menjaga. Sedangkan kebutuhan sehari-hari harus tetap dipenuhi.

Selama libur sekolah, Yeni mengaku belum ada guru yang monitoring ke rumah. Proses pembelajaran hanya dilakukan lewat handphone.

Dia berharap peran guru tetap maksimal di tengah wabah virus Corona. Tidak hanya lewat handphone tetapi bisa berkunjung dan memberi arahan kepada siswa. Larena dia mengaku tidak terlalu paham pelajaran anaknya.

Yeni juga mengharapkan kondisi segera stabil agar anaknya bisa pergi ke sekolah dan bisa berkumpul lagi bersama temanya.

“Jangankan anak kecil di usia kelas 2 SD yang harus berdiam di rumah, kita saja sebagai orang tuanya diam di rumah kadang jenuh dan ingin melakukan hal-hal yang biasa dilakukan,” ujar Yeni 

Sementara Irfan, anak sulung Yeni yang sedang mengerjakan tugas mengatakan setiap hari mendapat tugas dari gurunya yang dikirim melalui whatsApp. “Sekarang lagi ngerjain tugas, terus nanti dikirimin lagi lewat WA ke pa guru,” kata irfan.

Dirinya mengaku bosan harus mengerjakan tugas menulis dan sesekali ada gurunya yang video call. “Pengen sekolah lagi bareng temen-temen,” jelasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *