Dinkes Masih Tunggu Hasil Swab Warga Pasuketan yang Meninggal di RSHS

oleh -1.412 views
dr-sri-laelan-erwani-dinkes-kota-cirebon
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Cirebon, dr Sri Laelan Erwani.

CIREBON – Dinas Kesehatan Kota Cirebon masih menunggu hasil tes swab pasien PDP perempuan asal Pasuketan, JL atau A (72) yang meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Senin (6/4) lalu. 

Selain itu, Dinkes juga telah melakukan tracing terhadap keluarga dan orang orang yang pernah berinteraksi dengan JL.

Sekertaris Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Cirebon, dr Hj Sri Laelan Erwani MKes mengatakan, meskipun telah meninggal dunia, tapi hasil tesnya diperlukan. 

Untuk memastikan apakah JL positif atau tidak. Karena hal ini akan berpengaruh terhadap orang orang yang pernah berinteraksi langsung denganya.

Hingga saat ini, pihaknya masih menunggu swab tes dari Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) RI terkait dengan status JL. Pasalnya sampai saat ini masih ada ribuan sample yang masih mengantri untuk dilakukan tes.

“Terakhir kita melakukan teleconference, masih ada 1.672 sample swab yang masih menunggu giliran untuk diperiksa. Jadi kita masih menunggu hasil tes swab-nya,” ungkap perempuan yang juga Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Cirebon tersebut. 

Namun begitu, meski hasilnya belum keluar, pihaknya telah memasukan keluarga terdekat dan orang orang yang pernah berinteraksi dengan JL sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP). Setelah dilakukan tracing, terdapat kurang lebih 32 orang yang masuk dalam pemantauan. 

“Tapi persisnya kita belum tahu jumlahnya. Karena masih dalam proses pemdataan. Soalnya ada yang tercatat sebagai warga dari kabupaten, kuningan dan jakarta,” ungkapnya.

Seperti diketahui, JL sempat menjalani perawatan di RSHS selama dua hari. Sebelum meninggal dunia. Sebelumnya ia juga diketahui memiliki penyakit diabetes.

Sri Laelan melanjutkan, dalam melakukan pengawasan terhadap PDP dan PDP, juga dilakukan hingga tingkat RT. 

Tidak hanya oleh petugas surveilans di 22 Puskesmas. Melainkan seluruh tenaga kesehatan, masyarakat, unsur pemerintah serta pihak kemanan. 

“Karena ini bekerja bersama sama. RT yang akan melaporkan untuk memanta dan membantu perkembanganya jika memang ada kasus,” pungkasnya. (awr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *