Tak Ada Penerbangan di Bandara Kertajati selama Pandemi Covid-19

oleh -195 views
BIJB-Kertajati-Tak-Ada-Penerbangan-selama-Covid-19
Suasana Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati tampak lengang. Sejak pandemi Covid-19, tak ada aktivitas penerbangan di BIJB. Foto: Ono Cahyono/Radar Majalengka

PANDEMI Covid-19 berdampak besar terhadap Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Pihak pengelola akhirnya memastikan bandara yang ada di Kabupaten Majalengka tersebut tidak beroperasi untuk sementara waktu. Meski demikian, petugas tetap siaga sebagai langkah antisipasi jika sewaktu-waktu digunakan untuk penerbangan tertentu.

Ya, dalam waktu-waktu terakhir ini tidak ada aktivitas berarti di BIJB Kertajati. Tempat parkir yang biasanya dihiasi dengan puluhan kendaraan baik mobil dan motor, kini kosong. Kebiasaan petugas dari bandara atau kepolisian sektor setempat juga tidak tampak di posko terpadu yang berada di depan bandara.

Di dalam bandara, tepatnya di lantai 1, beberapa kantin atau rumah makan juga tampak tutup. Kursi dan meja berjejer rapih dengan dibaluti kain tanda tidak menerima pengunjung untuk beberapa waktu ke depan. Dari setiap sudut bandara, hanya tampak beberapa petugas kebersihan yang selalu sigap.

Tidak ada aktivitas penumpang. Di lantai 3 yang biasanya menjadi tempat aktivitas pembelian tiket dan ruang tunggu, juga sudah dinonaktifkan. Begitu juga seluruh mesin pendingin ruangan di lokasi tersebut tidak beroperasi.

Direktur Utama PT BIJB Kertajati Salahudin Rafi mengatakan sepinya bandara telah dirasakan pihaknya sejak pertengahan Januari 2020 lalu, atau tepatnya setelah keluar Surat Keputusan (SK) dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait pandemi virus corona.

Disebutkannya, sepinya bandara atau penumpang terus merosot hingga akhirnya saat ini tidak ada lagi maskapai yang beroperasi.

“Bandara sepi saya amati dari Januari. Pertengahan Januari setelah keluar SK BNPB, 29 Januari sampai 28 Februari dinyatakan pandemi virus corona itu mulai ada penurunan penumpang. Menyusul adanya SK kedua diperpanjang hingga Mei pada akhir Februari merosotnya lebih lagi, sehingga tidak ada penerbangan pada awal April ini,” terang Rafi, Rabu (8/4).

Merosotnya jumlah penumpang akibat pandemi corona membuat Rafi mengambil kebijakan, yakni dengan memberlakukan sistem kerja Work From Home (WFH) untuk karyawan. Ia mengatakan kejadian seperti itu tidak hanya terjadi di Bandara Kertajati, melainkan di seluruh bandara di Indonesia.

Kebijakan itu, menurut Rafi, untuk mengutamakan seluruh karyawan dalam mencegah penyebaran virus corona. Apalagi, para petugas atau karyawan selama ini terjun langsung bertemu para penumpang selama ada aktivitas penerbangan.

“Kita mengurangi semua kegiatan di bandara, karena kita juga mengutamakan melindungi karyawan agar tetap sehat. Kami yang ada di bandara ini berperan langsung untuk bertemu dengan penumpang,” katanya.

Rafi menambahkan, tidak adanya rute penerbangan bukan berarti seluruh aktivitas di bandara lumpuh. Masih ada sebagian karyawan dan beberapa petugas yang masih bekerja seperti biasa.

Ia mengatakan, objek bandara ini sebagai pintu gerbang untuk Papua, kalau ada bencana alam. Sebab bandara itu yang paling tercepat dalam mengirimkan bantuan atau mengevakuasi korban.

Dirinya berharap pandemi corona ini segera berakhir, agar aktivitas bandara yang ada di Indonesia pada umumnya dan di Bandara Kertajati khususnya dapat kembali normal seperti sedia kala. (ono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *