95 Persen Perguruan Tinggi Terapkan PJJ

oleh -47 views
?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencatat, 95 persen perguruan tinggi di Indonesia sudah melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah. Hal ini sesuai Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam mengatakan, tidak semua perguruan tinggi memilik platform pembelajaran secara daring. Oleh karena itu, Ditjen Dikti memiliki program bernama Sistem Pembelajaran Daring Indonesia (SPADA).

Menurutnya, program ini sebenarnya sejak lama dapat dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk melakukan pembelajaran serta berbagi materi kuliah secara daring.

“Saat ini kita sedang memperkuat SPADA agar bisa di akses untuk perguruan tinggi yang belum mempunyai platform,” kata Nizam, dalam keterangannya, Senin (13/4).

Namun menurut Nizam, pembelajaran secara daring ini masih perlu dikembangankan lagi, meskipun mahasiswa merasa puas dengan proses pembelajaran ini.

“Untuk itu, proses pembelajaran daring ini masih banyak yang harus diimprovisasi. Namun, pembelajaran interaktif secara langsung di dalam kelas masih jauh lebih baik,” ujarnya.

Selain itu, kata Nizam, dalam masa pandemi ini, mahasiswa bisa berkesempatan mengimplementasikan kebijakan Kampus Merdeka dengan baik. Seperti contoh dengan mengimplementasikan ilmu dan kompetensi mereka seperti membuat APD yang bisa diberikan apresiasi dalam bentuk SKS.

“Untuk mendukung proses pembelajaran dari rumah kita siapkan berbagai hal yang bisa mengakomodasi yang mendukung teman-teman dalam belajar dari rumah, serta program Kemendikbud juga mendorong perguruan tinggi untuk melakukan riset terapan di bidang mitigasi Covid-19,” tuturnya.

Sebenarnya, lanjut Nizam, PJJ bukan hal baru yang diusung pada sektor pendidikan tingi. Salah satu contohnya di Indonesia sendiri ada Universitas Terbuka sudah menerapkan PJJ sejak puluhan tahun yang lalu.

“Tetapi, pada kenyataannya masih banyak perguruan tinggi yang belum memanfaatkan pembelajaran daring ini. Namun, pada masa pandemi Covid-19 mulai banyak perguruan tinggi yang memanfaatkannya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas) Ilham A Habibie mengatakan, mayoritas mahasiswa yang kuliah daring di masa pandemi Covid-19 ini hanya menggunakan handphone. Angkanya mencapai 68 persen, hanya sedikit yang menggunakan laptop, desktop, dan tablet.

Untuk itu dirasa, perlu ada edukasi dalam penggunaan telepon genggam (handphone) sebagai perangkat untuk belajar daring. Sebab menurutnya, belajar daring menggunakan handphone dinilai kurang efektif, karena HP selama ini lebih akrab digunakan untuk perangkat hiburan, bukan belajar.

“Handphone bukan alat untuk kita pakai belajar tapi cari teman atau cari makan, nonton, bukan belajar. Kita bersama-sama mendidik rakyat menggunakan handphone secara produktif,” kata Ilham

Ilham juga menuturkan, pembelajaran atau bekerja dari rumah juga harus didukung suasana yang kondusif. Dengan begitu, belajar dan bekerja dari rumah bisa lebih fokus dan tidak ada gangguan yang justru merusak konsentrasi.

“Tidak semua kita punya ruangan kerja bisa benar-benar kerja di meja untuk fokus konsentrasi melalui daring ini,” ungkapnya.

Terlebih lagi, kata Ilham, pengajaran dan peserta didik belum berpartisipasi sepenuhnya dalam PJJ. Oleh karena itu, hal ini perlu dioptimalkan dengan berkomunikasi dengan operator telekomunikasi.

“Selain itu, distance learning ini perlu dioptimalkan dengan bekerjasama dengan operator telekomunikasi dalam menyediakan konektivitas yang menjadi bagian dari diskusi saat ini,” pungkasnya. (der/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *