Cuci Tangan Tak Perlu Sentuh Kran, Hindari Penularan Virus

oleh -310 views
ade-Inovasi Cuci Tangan Menggunakan Sensor (2)
COBA: Kepala DSP3A, Iing Daiman mencoba wastafel portabel otomatis yang menggunakan sensor infra merah, Selasa (14/4). FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

Penularan virus bisa terjadi melalui benda. Untuk itu, cuci tangan harus dilakukan sesering mungkin. Untuk meminimalisasi kontak lewat benda, dihadirkan inovasi cuci tangan pada wastafel portable menggunakan sensor.

ADE GUSTIANA, Kesambi

DETEKSI benda menggunakan sensor infra merah. Dengan jarak maksimal 10 centimeter, sensor akan berfungsi dan langsung mengucurkan air.  Inovasi ini hemat daya. Hanya butuhkan konsumsi daya sebesar 2 volt. Bisa menggunakan universal serial bus (USB) yang disambung powerbank. Bisa juga langsung ke terminal dengan dialiri arus listrik.

Inisiator serta yang merakit sensor itu adalah Yusika Dani Permana. Berawal dari keresahan di situasi pandemi seperti sekarang. Dani mengatakan, inovasinya bermula ketika ia berkunjung ke mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Di mana sebelum dan sesudah menekan tombol atau angka pada ATM, kita diharuskan untuk melakukan cuci tangan secara berkala.

Namun, cuci tangan ini dirasa sia-sia. Terutama bila keran untuk mengatur keluar dan masuknya air, masih dipegang secara berjamaah ketika akan membuka atau menutup. Dari sana, mulai terfikir untuk menciptakan sensor infra merah tersebut.

Sensor ini belum sepenuhnya sempurna. Masih banyak yang harus dibenahi, termasuk terhadap tingkat sensitivitas benda atau cahaya.

Dani menambahkan, untuk membuat alat tersebut tidaklah rumit. Komponen utama yang harus dipersiapkan antara lain: infra merah, printed circuit board (PCB), serta dinamo penggerak. Penggunaan daya terpakai ketika alat tersebut mulai mendeteksi benda.

Dani baru mengimplementasikan inovasinya di DSP3A. Dalam satu hari ia bisa membuat belasan unit alat atau sensor pendekteksi benda untuk keran portable tersebut. “Kenapa harus di sentuh (keran, red) kalau bisa diciptakan secara otomatis,” ujarnya.

Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Kota Cirebon Iing Daiman mendukung penuh karya anak muda tersebut. Iing juga membantu pengembangan alat menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.

Salah satu tupoksi instansinya adalah pemberdayaan masyarakat. Kemudian, mengelola pengembangan teknologi tepat guna. Pihaknya selalu membuka diri terhadap siapapun serta menampung inovasi yang tercipta dari kalangan masyarakat, lembaga, atau komunitas, bila itu bermanfaat dan berguna untuk khalayak.

Tidak hanya sensor otomatis pendeteksi gerak benda untuk cuci tangan, banyak teknologi tepat guna yang telah ditampung DSP3A. “Ketika dia punya kompetensi, punya keahlian membuat teknologi tepat guna, kami akan fasilitasi dan berdayakan,” kata Iing, kemarin. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *