Penumpang Sepi, Porter Stasiun Merana, Tetap Bertahan, Tidak Punya Opsi Alih Profesi

oleh -169 views
Okri-Poter Stasiun Kejaksan (2)
SEPI: Porter Stasiun Kejaksan, Haerudin menunggu penumpang kereta yang akan memanfaatkan jasanya, Kamis (16/4). FOTO: OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

Wabah Covid-19 menghantam berbagai sektor termasuk transportasi. Aktivitas perjalanan kereta api banyak yang dipangkas. Kondisi ini, berimbas pada penghasilan porter (jasa pembawa barang) di stasiun kereta api. Sejumlah porter tetap bertahan, alih profesi pun terkendala karena sektor lain juga terimbas.

AZIS MUHTAROM, Kejaksan

SETIAP pagi sekitar jam 06.00 Warnoto berangkat ke Stasiun Kejaksan dari kediamannya di kawasan Gunung Jati Kabupaten Cirebon. Tapi, sudah dua minggu ini, Warnoto memilih lebih siang berangkat ke stasiun, atau menyesuaikan dengan jadwal kedatangan/keberangkatan perjalanan kereta api yang paling pagi di Stasiun Kejaksan.

Sejak jadwal kereta api dipangkas akibat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dari dan ke sejumlah daerah episentrum penyebaran Covid-19, penumpang di Stasiun Kejaksan bisa dihitung jari. Padahal, dari para lalu lalang penumpang itulah, Warnoto dari 120-an rekan seprofesinya mengais rezeki.

Para porter di Stasiun Kejaksan, biasanya dalam satu hari bisa mengantongi Rp50-80 ribu. Jumlah itu didapat dari sedikitnya 5 penumpang yang dilayani. Sekarang ini, untuk melayani satu penumpang saja sulit.

Bahkan pernah dalam beberapa hari dia tidak mendapat satu pun penumpang. Kendati demikian, Wartono memilih tetap bersabar. Dia yakin rezeki tetap ada, meski tidak seperti biasanya. “Yang penting sabar. Rezeki ada saja,” tuturnya.

Baginya, kesehatan jauh lebih penting. Apalagi di tengah kondisi wabah corona seperti saat ini. Porter lainnya, Haerudin juga memilih bertahan untuk mengadu peruntungan di Stasiun Kejaksan.

Rata-rata para porter tersebut sudah puluhan tahun menekuni profesi ini. Haerudin sudah hampir 30 tahun membantu mengangkut barang bawaan penumpang, atau sejak pria paruh baya ini masih bujangan. “Susahnya bukan main. Usaha lain juga sama, lagi pada sepi,” ujar Haerudin.

Dia berharap wabah ini segera berakhir. Sebab, kurang dari beberapa hari lagi sudah masuk Ramadan. Bulan yang menjadi pengharapan untuk mendapat rezeki lebih. Meski ia tahu, penumpang mudik sekarang ini, tidak akan seperti tahun-tahun yang lalu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *