PMI Kota Cirebon dan Penggunaan Plasma Darah untuk Covid-19

oleh -581 views
dr-edial
PENGOBATAN: Ketua PMI Kota Cirebon, dr HM Edial Syanif SpJP FiHA, memberi keterangan kepada wartawan. FOTO: DOK/RADAR CIREBON

Pasien sembuh corona virus disease-2019 (Covid-19) mulai mendonorkan plasma darah yang mengandung antibodi. Dengan harapan dapat digunakan untuk pengobatan pasien yang masih dalam perawatan. Apakah Kota Cirebon memungkinkan menerapkan ini?

AZIS MUHTAROM, Cirebon

PASIEN sembuh covid-19 melakukan donor plasma darah di RSPAD Jakarta. Setidaknya, sudah dua pasien yang terekspos media.

Pengambilan plasma darah merupakan implementasi dari penelitian terhadap plasma convalescent mantan pasien corona yang sudah dinyatakan sehat. Darah yang mengandung antibodi corona tersebut, diyakini dapat membantu pasien positif covid-19 memerangi virus di dalam tubuhnya.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Cirebon dr HM Edial Syanif SpJP FiHA menjelaskan, uji coba plasma convalescent memang telah dilakukan. Salah satunya di tiga rumah sakit di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok.

Pasien diambil darahnya setelah 4 minggu dinyatakan sembuh,  dan diberikan kepada penderita virus corona dalam kondisi yang berat.

Tetapi penggunaan plasma convalescent masih dalam tahap penelitian. Bahkan belum resmi disetujui oleh FDA (us food and drugs administrations). Kendati demikian, plasma convalescent sudah pernah dilakukan pada terapi pasien MERS, dan SARS. ‘”Prinsipnya jenis virus beda-beda, jadi apakah keamanan dan keampuhanya perlu diperhitungkan, itu masih dalam studi dini,” kata Edial, kepada Radar Cirebon, Selasa (28/4).

FDA sendiri, kata dia, merupakan badan pengawas obat dan makanan di AS. Dunia medis dan farmasi di banyak negara termasuk di Indonesia, mengacu pada lisensi FDA untuk penggunaan obat maupun terapi penyembuhan kesehatan.

Di Wuhan, penelitian dilakukan 3 Rumah sakit dan terapi donor plasma darah tersebut diberikan kepada pada 10 orang pasien. Memang, terapi tersebut menunjukkan hasil yang cukup bagus, tapi harus dilakukan penelitian lebih lanjut dan berulang-ulang untuk memastikan keampuhan dan efek samping.

“Sebetulnya untuk terapi apapun, sebelum dilakukan ke manusia, dicoba ke binatang dulu. Memang sekarang kondisinya emergency karena belum ada pilihan obat, mungkin di Wuhan itu darurat diberikan kepada pasien yang berat, dan hasilnya bagus. Akan tetapi kriteria pasien dan setiap dosisnya belum detail,” papar Edial yang juga Ketua PMI Kota Cirebon ini.

Dia memandang untuk proses pengambilan plasma dari mantan pasien harus sangat selektif. Perlu dipastikan sampel darah mantan pasien tersebut tidak mengandung penyakit bawaan lainnya, seperti HIV, hepatitis, dan penyakit lain yang justru akan memperberat kondisi pasien penerima terapi ini.

Terkait langkah Palang PMI pusat yang menggandeng Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Edial cukup mengapresiasi. Yang diperhatikan bahwa kluster virus corona yang beredar di Indonesia mungkin saja sudah berubah, dan telah berevolusi hingga generasi ketiga.

Sehingga, dia menilai kalaupun nanti ada antivirus yang diciptakan oleh klaim negara lain seperti Tiongkok dan AS, dunia medis di Indonesia juga harus mempertanyakan apakah virus yang berkembang di Indonesia saat ini jenisnya sama dengan yang antibodinya beredar di negara lain.

Kembali ke penggunaan plasma darah, metode pemisahan plasma darah sebetulnya bisa dilakukan di Unit Donor Darah PMI manapun, termasuk di PMI Kota Cirebon. Sehingga, kalaupun metode plasma convalescent itu sudah dilegalisir oleh FDA, diharapkan juga itu akan bisa diterapkan di tanah air.

“Ini memang harus jelas dulu kriterianya. Apakah pasien penerima donor plasma yang berat atau bukan, yang ventilator atau bukan. Ada penyakit penyerta atau tidak, kan harus dinilai lagi. memang masih perlu waktu tes percobaan, harus lebih selektif,” tandasnya.

Menurut Edial, sekarang penangnan virus corona belum ada obat khusus. Treatment yang dilakukan di rumah sakit fokus pada perbaikan gizi, perbaiki daya tahan tubuh, penanganan penyakit penyertanya seperti demam, infeksi sekundernya, dan sebagainya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *