Lebih Tua dari Sang Cipta Rasa, Masjid Pejlagrahan Tetap Laksanakan Tarawih

oleh -1.128 views
Masjid-Pejlagrahan
MASIH KOKOH: Masjid Pejlagrahan dibangun Pangeran Walangsungsang tahun 1415 atau 65 tahun sebelum berdirinya Masjid Agung Sang Cipta Rasa. FOTO: KHOIRUL ANWARUDIN/RADAR CIREBON

CIREBON – Banyak yang mengira bahwa Masjid Agung Sang Cipta Rasa adalah masjid tertua di Cirebon. Namun, ternyata ada satu masjid lagi yang lebih tua usianya daripada Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yakni Masjid Pejlagrahan.

Masjid Pejlagrahan terletak tidak jauh dari Keraton Kesepuhan dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa, tepatnya berada di Jalan Mayor Sastraatmaja Kelurahan Kasepuhan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Untuk menuju ke masjid ini, harus melalui gang kecil. Sehingga, tidak terlihat dari jalan raya.

Di bulan Ramadan ini, suasana Masjid Pejlagrahan tak berbeda dengan tahun sebelumnya. Pun saat banyak masjid lain yang tak menyelenggarakan salat Tarawih berjamaah, Masjid Pejlagrahan justru tetap melaksanakan.

Ujang, pengurus DKM Pejlagrahan menuturkan, alasan tetap dilaksanakannya salat Tarawih karena masjid tersebut bukanlah masjid besar. Jamaahnya hanya warga sekitar saja. Di mana kapasitasnya hanya sekitar 50 orang saja.

“Meskipun namanya masjid, namun lebih tepatnya dikatakan langgar atau tajug. Karena di sini tidak menggelar salat Jumat atau salat Id. Kalau salat Jumat warga sini biasanya di Masjid Pesayidan atau di Masjid Agung (Sang Cipta Rasa, red),” bebernya.

Keberadaan masjid yang telah menjadi situs cagar budaya ini sangat penting dalam penyebaran agama Islam. Terutama dalam pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Karena di si nilah, para Wali berkumpul untuk memprakarsai pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

“Sebelum Masjid Agung dibangun, orang-orang ya melakukan kegiatannya di sini. Salat dan sebagainya,” ungkapnya.

Sekilas, bangunan masjid ini tidak tampak seperti bangunan tua. Karena, bangunannya mengalami renovasi, namun tidak mengubah bentuk aslinya. Tembok-tembok bata merah khas bangunan zaman dulu dilapisi keramik supaya bangunannya lebih kuat.

Konon, masjid tersebut dibangun oleh Pangeran Walangsungsang pada tahun 1415 atau 65 tahun sebelum berdirinya Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Nama Pejlagrahan sendiri berarti tempat peristirahatan atau persinggahan.

“Selama Ramadan ini kita juga tetap menggelar tadarusan. Salat fardu juga tetap digelar dengan berjamaah. Kalau salat Tarawihnya, dulunya 23 rakaat sekarang 11 rakaat,” pungkasnya. (awr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *