Kecurigaan Asal Covid-19 pada Trenggiling dan Kelelawar Menguat

oleh -1.013 views
Trenggiling
Trenggiling. Ilustrasi foto: Pixabay.com

GUANGDONG – Berdasarkan hasil penelitian dengan analisis genomik komparatif menunjukkan, bahwa virus Corona (Covid-19) kemungkinan berasal dari rekombinasi virus trenggiling dan kelelawar. Penelitian tersebut dilakukan para ahli Universitas Pertanian China Selatan dan Laboratorium Guangdong untuk Pertanian Modern Lingnan.

Hasilnya, bahwa virus baru SARS-CoV-2 sebagai penyebab pandemi Covid-19 memiliki tingkat kesamaan urutan yang tinggi dengan SARS-CoV, virus hewan yang teridentifikasi pada 2003 serta RatG3 yakni virus corona kelelawar.

“Walaupun kelelawar mungkin menjadi inang reservoir untuk berbagai virus Corona, kemungkinan SARS-CoV-2 memiliki inang lain masih diragukan,” demikian isi dokumen penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature, seperti dikutip dari Xinhua, Senin (11/5).

Terungkp pula, satu virus Corona yang didapat dari trenggiling Malaysia menampilkan kesamaan urutan asam amino sebesar masing-masing 100 persen, 98,6 persen, 97,8 persen, dan 90,7 persen dengan virus Corona baru pada gen E, M, N, dan S.

“Khususnya, domain pengikat reseptor di dalam protein S dari Trenggiling-CoV secara virtual identik dengan protein S pada SARS-CoV-2, dengan satu perbedaan asam amino yang tidak esensial,” bunyi penelitian.

Menurut penelitian tersebut, virus trenggiling ini terdeteksi di 17 dari 25 ekor di Malaysia yang dianalisis oleh para ilmuwan.

“Isolasi sebuah virus corona yang memiliki kaitan sangat erat dengan SARS-CoV-2 pada tenggiling menunjukkan bahwa hewan tersebut memiliki potensi untuk bertindak sebagai inang perantara SARS-CoV-2,” kata ilmuwan.

Edward Holmes, ahli virus dari University of Sydney, Australia, menyebutnya sebagai observasi yang sangat menarik sekalipun hasil penelitian duo peneliti dari Guangzhou itu belum dibeberkan secara penuh.

“Walaupun kita harus lihat lagi lebih detil, ini masuk akal kalau kini ada data yang muncul bahwa trenggiling membawa virus yang sangat mirip dengan 2019-nCoV,” katanya kepada jurnal Nature.

David Robertson, virolog komputasi di University of Glasgow, Inggris, berpendapat senada. Sebelum ada konferensi pers dari Guangzhou, dia mengungkap kalau trenggiling juga kandidat hewan perantara Covid-19. Virus Corona bahkan pernah ditemukan berada di balik kematian sejumlah Trenggiling malaya (Manis Javanica) di Guangdong dalam sebuah studi yang dipublikasi tahun lalu.

Trenggiling adalah mamalia bersisik pemakan serangga dalam tanah semacam rayap dan semut. Di China, hewan ini sebenarnya dilindungi karena sudah berstatus terancam punah. Bila ditemukan memperjual belikannya bisa diancam penjara sepuluh tahun.

“Tapi, faktanya, perdagangan ilegalnya cukup ramai. Para peneliti melukiskannya. Mamalia paling banyak diburu dan diperdagangkan di dunia,” ungkapnya.

Dalam pengobatan tradisional China, kulit trenggiling digunakan sebagai obat radang sendi, sakit menstruasi, dan perawatan kulit. Seperti yang diyakini terjadi pula di pasar tradisional di Wuhan, lokasi awal wabah virus Corona, masyarakatnya juga menjual daging trenggiling dan menganggapnya sangat lezat. (der/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *