Masalah Keramaian Jadi Kendala PSBB

oleh -298 views
Jl Dr Cipto saat penyekatan dilakukan pukul 15.00-18.00 WIB, kemarin. FOTO: ADE GUSTIANA / RADAR CIREBON

CIREBON – Walikota Cirebon Nashrudin Azis mengusulkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diperpanjang selama 14 hari ke depan. PSBB tahap pertama, masih banyak yang perlu dievaluasi. Terutama meminimalisasi pergerakan masyarakat menjadi 30 persen.

Meski Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cirebon mengklaim PSBB telah efektif menekan hingga 60 persen pergerakan masyarakat berdasarkan hasil penyekatan di empat titik check point, namun pada kenyataannya, pergerakan masyarakat di dalam Kota Cirebon masih tinggi.

Berdasarkan pantauan, tingkat kesadaran masyarakat untuk menggunakan masker telah meningkat dibanding hari pertama hingga ketiga pelaksanaan PSBB. Namun pelanggaran PSBB yang masih marak terjadi adalah sulitnya meminimalisasi tingkat kerumunan.

“Masyarakat masih kucing-kucingan dalam PSBB ini. Jujur mengenai tindakan hukum yang kami lakukan di dalam peraturan yang ada, kami masih lemah,” ujar Kepala Satpol PP Kota Cirebon Andi Armawan.

Satpol PP memiliki lima jenis pelanggaran yang dilakukan pendataan. Yakni tidak menggunakan masker, kerumunan, toko non prioritas yang memilih tetap operasional saat PSBB, melebihi jam operasional, dan menyediakan makan-minum di tempat.

Data 10 hari pertama Satpol PP Kota Cirebon, pelanggaran yang paling mendominasi adalah toko non prioritas yang memilih tetap operasional saat PSBB, yang jumlahnya 1.120. Lalu pelanggaran terbanyak kedua adalah tidak menggunakan masker sebanyak 381 orang, kerumunan 123 titik, melebihi jam operasional 75, dan menyediakan makanan dan minuman di tempat sebanyak 67 pelanggaran.

Kepala Dishub Kota Cirebon, Yoyon Indrayana mengatakan, berdasarkan hasil analisa, orang di dalam Kota Cirebon sendiri masih banyak beraktivitas. Seperti melakukan sejumlah keperluan dan mobilisasi. Baik itu sekadar jalan-jalan atau belanja untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

“Artinya dari perbatasan sudah kita tekan, tapi pergerakan di dalam kota sendiri masih banyak. Kalau orang di dalam kota kita nggak bisa melakukan pembatasan, berarti pusat kegiatannya yang harus ditutup. Karena orang dalam kota ini kan tidak melewati check point,” bebernya. (ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *