Bahan Baku Menu Wajib Lebaran, Hanya Cabai Merah yang Stabil

oleh -42 views
cabe
STABIL: Cabai merah, satu-satunya bahan baku menu wajib Lebaran yang harganya relatif stabil di pasaran. FOTO: AZIS MUHTAROM

CIREBON – H-1 Idul Fitri, hampir semua kebutuhan pokok atau komoditi pangan yang biasa diburu warga untuk berlebaran, mengalami kenaikan harga di pasaran. Menu wajib Cirebon ketika berlebaran mesti ada ketupat, opor ayam, dan sambel goreng. Bahan baku utama dari tiga menu wajib tersebut, semua naik, kecuali cabai merah.

Seperti terpantau di Pasar Jagasatru, Sabtu (23/4). Daging ayam yang merupakan bahan baku utama opor, mengalami kenaikan harga dari kondisi normal. Ayam negeri yang pekan lalu hanya dijual Rp30 ribu per kilogram, hari ini dijual seharga Rp40 ribu per kilogram.

Daging ayam kampung yang biasanya dijual di bawah harga Rp100 ribu per ekor, dua hari terakhir ini dijual seharga Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per ekor. Tergantung pada ukurannya. Biasanya ayam kampung jantan dewasa dijual paling mahal harganya.

Untuk kentang yang merupakan bahan baku utama pembuatan menu sambel goring, juga mengalami kenaikan. Dari yang biasanya dijual seharga Rp7-8 ribu per kilogram, saat ini dijual Rp12-14 ribu per kilogram.

Daging sapi saat ini harganya sudah Rp145 ribu per kilogram. Petai, saat ini dijual Rp10.000 per papan. Hanya cabai merah yang merupakan  bahan baku utama menu wajib lebaran yakni sambal goreng yang harganya masih stabil di angka Rp12-14 ribu per kilogram.

Bahkan, untuk membuat menu wajib ketupat, masyarakat rela menebus janur bungkus ketupat dengan harga Rp15-20 ribu per 10 biji. Biasanya bungkus ketupat yang terbuat dari anyaman janur tersebut hanya dijual Rp5 ribuan, bahkan sehari sebelumnya bungkus ketupat tersebut masih bisa dibeli seharga Rp7.500-Rp10.000 per 10 biji.

Untuk bungkus ketupat sendiri, warga yang pergi ke pasarnya lewat dari jam 8 pagi pada H-1 Lebaran sudah tidak kebagian. Salah satu pembeli Tria mengaku jika yang datang ke pasar jam 9 harus rela mendapatkan bungkus ketupat dengan bentuk dan ukuran yang asal-asalan, sebab bungkus ketupat tersebut dikerjakannya mendadak oleh pedagangnya untuk memenuhi kebutuhan pembeli yang datang belakangan. (azs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *