Harga Bawang Merah di Petani Majalengka Turun

oleh -172 views
Harga-Bawang-Merah-Turun
AGRONOMI: Petani bawang merah di Desa Sukasari Kaler Kecamatan Argapura memanen hasil tanam, Kamis (21/5). FOTO: IIM ABDURAHIM/RADAR MAJALENGKA

MAJALENGKA – Sebagian petani di Desa Sukasari Kaler, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, mulai memanen bawang merah Kamis (21/5). Salah satu petani bawang, Inah menjelaskan, untuk panen bawang dalam satu tahun bisa tiga kali.

Adapun hasil panen milik Inah hanya dijual di rumah karena para pembeli datang ke kediamannya. Dia berbeda dengan petani lainnya yang biasa menjual hasil panen ke pasar-pasar tradisional yang ada di Kabupaten Majalengka bahkan sampai ke luar daerah.

“Kebetulan saya menanam bawang tidak terlalu banyak atau lahannya tidak terlalu luas, jadi hasilnya pun hanya saya jual ke pembeli yang datang ke rumah,” jelas Inah.

Menurutnya, saat ini untuk harga bawang merah turun, yang sebelumnya mencapai Rp 30 ribu per kilogram menjadi hanya Rp 27. 000. Dirinya berharap hasil panen kali ini kualitasnya baik dan harganya bisa naik lagi. Sehingga sesuai dengan hasil kerja selama tiga bulan terakhir.

Saat panen, Inah dibantu dua orang, salah satunya Neni. Neni menjelaskan dirinya memulai bekerja dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB.

Neni menjadi ikut panen untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Walaupun suaminya juga sama bekerja sebagai buruh tani, namun dirinya tidak mau bermalas-malasan di rumah apalagi sekarang mencari pekerjaan sangat susah.

“Daripada diam saja mending kerja, kan lumayan hasilnya. Saya berharap apa yang saya lakukan bisa bermanfaat untuk keluarga dan bisa menambah kebutuhan sehari-hari, ” ujarnya.

Sementara Dewi, pekerja yang memasukkan bawang ke karung beranggapan sama. Daripada di rumah saja tidak ada pekerjaaan, lebih baik bekerja di sawah walaupun hanya sebatas buruh.

Dirinya juga bisa membantu kebutuhan untuk di rumah. Dwi juga menambahkan, selama masa sekolah libur dirinya suka membawa anaknya ke ladang.

“Secara gak langsung mereka juga belajar memanen dan belajar bertani,” terangnya.
Mereka berharap walaupun anak-anak tidak bersekolah tapi masih bisa belajar baik di rumah ataupun di luar seperti di sawah. (iim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *