39 Juta Orang Mudik

oleh -128 views
pemudik-motor-pantura-cirebon
Suasana pemudik di lampu merah Terminal Harjamukti, Kota Cirebon (23/5). Foto: Okri Riyana/Radar Cirebon

JAKARTA – Potensi jumlah orang yang melakukan perjalanan mudik di tengah pandemi Covid-19 mencapai 39 juta. Hal ini dilakukan meski pemerintah dengan gencar menyosialisasikan larangan mudik untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

Direktur Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS) Yusuf Wibisono mengatakan, pihaknya memprediksi potensi jumlah pemudik di seluruh Indonesia pada tahun ini mencapai 39 juta orang. Baik mereka yang melakukan mudik jarak dekat yakni dalam provinsi maupun jarak jauh atau lintas provinsi.

“Ini berdasarkan hasil simulasi IDEAS di mana jika tanpa larangan yang tegas, maka mudik berpotensi mendorong eskalasi wabah Covid-19,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Senin (18/5).

Dikatakannya, potensi eskalasi penyebaran Covid-19 ke penjuru negeri didorong oleh pola mudik jarak jauh yang kuat ditemui di Jabodetabek, Kartamantul (Jogjakarta Raya), Pekansikawan (Pekanbaru Raya), Batam Raya dan Samarinda Raya.

Kemudian, potensi eskalasi penyebaran dari daerah perkotaan ke daerah pedesaan didorong oleh pola mudik jarak dekat yang sangat kuat sebagaimana terlihat di Gerbangkertosusila (Surabaya Raya), Malang Raya dan Mebidangro (Medan Raya).

Dijelaskannya, IDEAS melihat ada tiga kelemahan implementasi pelarangan mudik. Pertama, masih ada kemungkinan mudik antarwilayah non Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan non zona merah termasuk sebagian wilayah di Jawa.

Menurutnya, skenario menjadi lebih rumit terjadi ketika pemudik dari daerah PSBB dan zona merah tergoda untuk mudik ke daerah non PSBB dan non zona merah.

“Begitu pula sebaliknya, pemudik dari daerah non PSBB dan non zona merah tetap untuk mudik ke daerah PSBB dan zona merah,” ungkapnya.

Lalu yang kedua, larangan mudik dikecualikan untuk sarana transportasi darat yang berada dalam satu wilayah aglomerasi. Ketentuan ini tentu berimplikasi pada diperbolehkannya mudik intra wilayah aglomerasi.

“Padahal potensi mudik intra wilayah aglomerasi tidaklah kecil. Sebagai contoh, dari sekitar 11 juta potensi pemudik Jabodetabek, simulasi kami menunjukkan sekitar 2,8 juta di antaranya adalah mudik intra Jabodetabek,” katanya.

Hal ini berpotensi melemahkan efektivitas PSBB yang kini diterapkan di tiga wilayah aglomerasi yaitu Jabodetabek, Bandung Raya dan Surabaya Raya.

Kelemahan yang ketiga, adalah Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek tetap beroperasi meski diberlakukan pengaturan PSBB. Sebagai transportasi massal utama di Jabodetabek, operasional KRL cukup signifikan dalam penyebaran Covid-19 sehingga dapat berimbas pada upaya memutus rantai virus yang tidak akan optimal jika terus beroperasi. (FIN/mid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *