Asian Games Jadi Kenangan Terindah, Misi Dewi Berikutnya PON Papua

oleh -53 views
pegulat-kota-cirebon
DUEL: Dewi Atiya (merah) bertarung menghadapi pegulat putri Kazakhstan, Ayaulym Kassymova pada Asian Games 2018 di JCC, Senayan, Jakarta Pusat. FOTO: TATANG RUSMANTA/RADAR CIREBON

CIREBON – Asian Games 2018 jadi kenangan paling mengesankan sekaligus menyesakkan bagi Dewi Atiya. Dewi mencatat sejarah sebagai pegulat Kota Cirebon pertama yang berlaga pada perhelatan akbar tersebut. Namun perjuangan Dewi berujung kekalahan di laga pertama.

Laga yang berlangsung di Assembly Hall Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan, Jakarta Pusat itu berlangsung sengit. Dewi bertarung menghadapi pegulat putri andalan Kazakhstan, Ayaulym Kassymova di kelas 62 kg putri.

Dewi masih mengingat detik-detik memasuki arena. Saat-saat yang penuh ketegangan. Itu adalah debut perdananya di multievent olahraga terbesar se-Asia. Di hadapannya adalah salah satu pegulat terbaik dunia. Di pundaknya, Dewi menanggung harapan besar Indonesia.

“Waktu itu saya berusaha keras menguasai diri. Pelatih selalu meneriakan kata-kata untuk memotivasi. Itu adalah hari yang besar buat saya. Walau akhirnya harus mengakui kekalahan dari lawan, tapi saya selalu mengingatnya dengan bangga,” kata Dewi.

Rasa bangga Dewi beralasan. Asian Games merupakan agenda empat tahunan. Tidak semua atlet dapat mencicipi bermain dalam arena kejuaraan multicabang olahraga terbesar di Asia. Buat Dewi, itu pun bisa jadi yang pertama dan terakhir.

Usianya kini 27 tahun. Tergolong usia senja bagi seorang pegulat putri. Tapi Dewi masih punya target sebelum mengakhiri karirnya. Misi berikutnya adalah PON XX di Papua yang akan dihelat tahun depan. Pegulat kelahiran Cirebon, 2 Agustus 1993 itu meraih emas pada PON 2016 dan ingin mengulanginya lagi.

“Saya masuk tim gulat Jawa Barat untuk PON berikutnya. Bersama rekan-rekan saya ingin memberikan yang terbaik di Papua nanti,” ucapnya. (ttr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *