New Normal Buka Peluang Investor Baru, Indonesia Belajar dari Tiga Negara

oleh -105 views
Sosialisasi-Kebijakan-New-Normal
Polres-Kodim Majalengka cek kesiapan sarpras pendukung di salah satu toserba Majalengka, Selasa (2/6). FOTO: IST

JAKARTA – Rencana kebijakan normal baru membuka peluang peningkatan kepercayaan para investor kepada Indonesia. Pemerintah diminta perlu mempersiapkan segala kelengkapan yang dibutuhkan untuk new normal secara matang.

“Adanya new normal ini membuka peluang lebih besar meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar di Indonesia. Yang memungkinkan adalah intervensi pemerintah melalui Bank Indonesia. Tujuannya menjaga stabilitas rupiah serta stimulus fiskal dua bulan terakhir, rendahnya defisit Current Account Deficit (CAD) selama pandemi, serta arus modal yang masuk,” kata peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan, Kamis (4/6).

Perubahan perilaku ini diharapkan dapat membantu masyarakat untuk tetap menjalankan aktivitas ekonomi. Tetapi dengan menerapkan protokol kesehatan demi mencegah penularan virus.

“Yang jadi pertanyaan masyarakat selanjutnya adalah apakah pemerintah pusat dan daerah sudah siap untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut. Bagaimana dengan pergerakan kasus Covid-19 yang masih tergolong dinamis dengan angka kasus terkonfirmasi terus bertambah setiap harinya,” urai Pingkan.

Menurutnya, hal ini menunjukkan ada kesadaran di tengah masyarakat akan pentingnya upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Tentu saja, langkah yang sudah ditempuh selama dua bulan terakhir perlu terus ditingkatkan dan dibenahi seiring dengan eksplorasi kebijakan persiapan menuju new normal diimplementasikan di Indonesia.

Pemberlakuan skenario new normal ditanggapi pasar secara positif. Hal ini terlihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kian menguat dua minggu terakhir.

Pada perdagangan bursa per 3 Juni 2020, investor asing kembali mencatatkan aksi beli bersih sebanyak Rp69 miliar di pasar reguler. Sedangkan pada perdagangan 2 Juni 2020, IHSG ditutup menguat 1,98 persen atau 93,89 poin ke level 4.847,5.

Penutupan IHSG pada perdagangan Kamis (4/6) tercatat Rp871,71 miliar. Adapun volume transaksinya mencapai 9,79 miliar saham dengan nilai transaksi Rp11,99 triliun. Seiring dengan IHSG, nilai rupiah pada kurs tengah BI (kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/JISDOR) berada di level Rp14.245.

Menurutnya, hal ini menandakan bahwa rupiah menguat hingga sebesar 1,77 persen dibandingkan angka sebelumnya. “Angka ini juga merupakan posisi terbaik rupiah sejak 5 Maret 2020. Sepanjang Maret lalu, rupiah mengalami pelemahan tajam sebesar -14,31 persen terhadap USD. Ini membuktikan ada technical rebound,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Presiden, Ma’ruf Amin mengatakan penerapan tatanan baru akan diterapkan, pemerintah apabila tiga syarat dari World Health Organization (WHO) sudah terpenuhi.

“Sambil menunggu ditemukannya vaksin dan obat, pemerintah dengan serius mengkaji penerapan tatanan baru. Pemberlakuan tatanan baru dan mengakhiri pelaksanaan PSBB dilakukan bila prasyarat yang ditetapkan oleh WHO sudah terpenuhi,” jelas Maruf di Jakarta, Kamis (4/6).

Pertama, tatanan baru dapat diterapkan bila penularan virus sudah terkendali. Hal ini ditunjukkan dengan rasio penyebaran dalam satu wilayah berada di bawah satu (Ro<1) selama dua pekan berturut-turut.

Kedua, tersedianya layanan dan sistem kesehatan untuk menangani kasus Covid-19 baru. Ketiga kemampuan dalam melakukan pelacakan yang ditandai dengan kecukupan jumlah pelaksanaan pengujian.

“Pelaksanaan era tatanan baru, khususnya di bidang ekonomi, akan dilakukan bertahap. Yang didahulukan kegiatan industri penyediaan makanan dan minuman. Kegiatan usaha yang berkaitan dengan penyediaan makanan dan minuman, seperti restoran, akan lebih dahulu dibuka secara terbatas. Menyusul ekonomi lain yang berskala besar. Seperti pusat perbelanjaan dan lainnya,” imbuh Ma’ruf.

Pelaksanaan menuju tatanan baru juga dilakukan secara bertahap. Pelaku ekonomi, termasuk ekonomi syariah, dapat menyesuaikan diri dengan tahapan tersebut.

Penerapan kebijakan tatanan baru itu, lanjutnya, bertujuan mempersiapkan masyarakat menuju situasi yang tetap menjaga produktivitas. Khususnya di bidang industri dan ekonomi syariah di tengah pandemi Covid-19.

Sementara Deputi V Kantor Staf Presiden, Jaleswari Pramodhawardani mengatakan, Indonesia bisa belajar dari pengalaman tiga negara dalam menerapkan normal baru. Yakni Brazil, Kosta Rika, dan Korea Selatan.

Brazil, mulai menerapkan normal baru meski angka penduduk yang terinfeksi Covid-19 sedang melonjak tajam. Bahkan menjadi kedua tertinggi di dunia.

Kebijakan tersebut muncul tidak lepas dari berbagai konflik politik yang terjadi pada elite tingkat pusat dan daerah yang sebenarnya telah terjadi sejak sebelum pandemi Covid-19. Selanjutnya, Kosta Rika juga sudah memulai normal baru.

Menurutnya, pelajaran yang bisa diambil dari negara tersebut adalah tetap bisa melakukan upaya maksimal dan beradaptasi dengan corona. “Meski Kosta Rika memiliki keterbatasan yang cukup besar. Baik dari infrastruktur kesehatan maupun anggaran belanja negara,” terangnya.

Kemudian, Korea Selatan. Negara ini menjadi yang terbaik dalam melakukan penanggulangan Covid-19. Baik dari kebijakan, sistem, sampai tingkat kedisiplinan, kesadaran, dan budaya masyarakat. Korsel juga sudah memberlakukan kebijakan normal baru. Sejumlah lokasi keramaian dan sekolah kembali dibuka.

Namun ternyata terjadi peningkatan masyarakat terpapar Covid-19 pada klaster baru. “Akhirnya Korsel meliburkan kembali sekolah-sekolah. Sama seperti saat pembatasan yang diberlakukan sebelum kebijakan normal baru. Jika tahapan-tahapan yang ditempuh tidak membuahkan hasil sesuai yang diharapkan, kita harus berani mengambil langkah balik atau menyesuaikan langkah-langkah diambil tadi,” urainya. (rh/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *