Kasus Baru Covid-19 di China, Salmon Diduga Penyebar Virus

oleh -149 views

JAKARTA – China tengah dilanda kekhawatiran terjadinya gelombang kedua penularan virus corona (Covid-19). Sebelumnya dikabarkan, ada 11 kasus positif baru Covid-19, termasuk enam kasus domestik di ibu kota Beijing.

Dilansir dari AFP, Senin (15/6), Pimpinan Pasar Xinfadi mengatakan, virus tersebut terdeteksi berasal dari blok yang digunakan untuk mengolah ikan salmon impor.

Kabar tersebut mendorong jaringan supermarket terbesar di China, Wumart dan Carrefour mengeluarkan semua stok salmon impor sepanjang malam dari gudang-gudang mereka di Kota Beijing.
Pada Jumat (12/6) kemarin, otoritas kota Beijing bergerak cepat dengan menutup dua pasar besar di ibu kota negeri Tirai Bambu itu, setelah mendapat laporan salah seorang positif Covid-19 pernah berkunjung ke pasar tersebut.

Sampai berita ini diturunkan, otoritas Beijing masih melakukan pelacakan pada orang-orang yang sempat melakukan kontak dengan 11 pasien baru Covid-19. Tak menutup kemungkinan, penyebaran Covid-19 di Beijing kembali meluas setelah ditemukan kasus baru tersebut.

Kasus baru Covid-19 mendorong pemerintah Kota Beijing menunda kembalinya siswa ke sekolah dasar. Begitu juga menunda semua acara olahraga dan pertemuan.

Sejumlah pakar di China menyangsikan ikan salmon menjadi pembawa virus, hingga menyebabkan orang-orang di Pasar Induk Xinfadi dan sekitarnya di Kota Beijing terinfeksi virus corona (Covid-19).
Namun, peneliti senior di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular China (CCDC), Zeng Guang mengatakan, berdasarkan analisis awal atas dua kasus terdahulu, virus corona yang merebak di Beijing belakangan ini, berbeda dengan temuan di China pada umumnya. Berdasarkan data awal, model virus kali ini mengarah pada satu varietas yang bermutasi dari Eropa.

Kepala epidemiolog CCDC, Wu Zunyou, sebelumnya juga mengatakan bahwa habitat alami ikan tidak akan tertular virus corona. Akan tetapi, ikan tersebut bisa saja tertular dari para pekerja yang menangkap (nelayan) ataupun yang mengirimkannya ke lintas negara.

China diketahui mengimpor 80.000 ribu ton salmon dingin dan beku setiap tahun dari Cile, Norwegia, Kepulauan Faeroe, Australia, dan Kanada. Kendati demikian, Wu tidak bisa menyimpulkan salmon sebagai inang dari virus corona. Apalagi kalau hanya mendeteksinya dari papan pemotongan ikan di Pasar Induk Xinfadi.

“Tipikal produk makanan laut kita (China) disimpan di gudang dan didistribusikan dalam kontainer dingin. Sehingga, tidak mungkin virus akan bertahan lama dan mendorong kemungkinan menginfeksi manusia,” ujarnya.

Menurut dia, ada dua kemungkinan terjadinya penularan yang menjadikan Pasar Xinfadi sebagai klaster baru Covid-19 di China, khususnya Beijing.

Pertama, virus kemungkinan berasal dari daging dan ikan yang masuk dari berbagai negara ke pasar grosir terbesar di ibu kota negeri tirai bambu tersebut.

“Kemungkinan kedua adalah penularan dari manusia ke manusia. Orang terinfeksi membawa virus ke pasar tersebut, merupakan kelompok orang tanpa gejala atau mengalami gejala ringan. Hiruk-pikuk di pasar menyebabkan klaster baru,” kata Wu.

Dia mengingatkan, masyarakat Beijing untuk tidak panik. “Bagaimana cara mengakumulasi kasus itu dalam beberapa bulan terakhir dan dengan menggunakan teknologi mutakhir, seperti mahadata akan menjadikan pelacakan dan diagnosis awal lebih baik lagi,” tuturnya.

Pemerintah Kota Beijing telah menguji sampel 76.499 orang yang berhubungan dengan Pasar Induk Xinfadi. Sebanyak 59 di antaranya positif pada Minggu (4/6) lalu.

Lebih dari 29.300 orang mengunjungi pasar induk yang berlokasi di Distrik Fengtai dalam 14 hari terakhir. Mereka telah diuji dan pada saat itu 12.973 di antaranya hasilnya negatif, menurut laporan Global Times. (der/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *