DBD Jangan Dikesampingkan

oleh -21 views
ILUSTRASI-Nyamuk Demam Berdarah

TASIK – Ketua DPRD Kota Tasikmalaya H Aslim menjelaskan semua pihak harus meningkatkan kewaspadaan karena kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tasikmalaya tinggi. Apalagi, DBD tidak kalah berbahaya dengan Covid-19.

“Jangan sampai terfokus pada Covid-19, DBD dikesampingkan,” kata Aslim di Gedung DPRD Kota Tasikmalaya, seperti dikutip dari Radar Tasikmalaya (Fajar Indonesia Network GruP), Sabtu (27/6).

Saat ini, kata Aslim, harus adanya pencegahan masif terhadap DBD. Apalagi teknis pencegahannya tidak jauh beda dengan pencegahan Covid-19.

“Bedanya hanya penyebarannya saja. Untuk pencegahannya sama yakni pola hidup sehat dan bersih,” kata politisi Partai Gerindra ini.

Aslim menyarankan Pemerintah Kota Tasikmalaya juga harus mengoptimalkan sisa-sisa anggaran untuk penanganan DBD. Meski kondisi anggaran saat ini suah habis dialokasikan untuk pencegahan dan penanganan Covid-19.

“Optimalkanlah sisa anggaran yang masih tersedia untuk DBD ini agar tidak menjadi kejadian luar biasa,” jelas dia.

Saat disinggung mengenai penetapan status kejadian luar biasa (KLB), kata Aslim, merupakan kebijakan Pemerintah Kota Tasikmalaya. Penentuan KPB dilihat dari berbagai faktor dan tidak hanya dari banyaknya warga yang meninggal dunia.

“Itu merupakan kebijakan pemerintah. Yang terpenting saat ini yakni pencegahan dan penanganan agar tidak ada lagi meninggal karena DBD,” kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat H Oleh Soleh mengatakan, untuk saat ini kasus DBD di Jawa Barat tinggi. Salah satunya Kota Tasikmalaya. Untuk itu, kata dia, harus ada penanganan serius dari setiap pemerintah daerah untuk pencegahan.

“Jangan sampai dilupakan DBD ini, karena sama bahayanya. Bahkan yang meninggal dunia karena DBD ini cukup banyak,” kata politisi PKB ini.

Melihat tingginya kasus DBD di Kota Tasikmalaya, kata Oleh, selain upaya pencegahan yang ditingkatkan, masyarakat juga harus meningkatkan pola hidup sehat dengan memperbaiki pola hidup bersih (PHBS). “Karena itu salah satu cara pencegahan yang efektif untuk DBD ini,” kata dia.

Meski saat ini dihadapkan dengan Covid-19, curahan pemikiran dan anggaran setiap daerah, kata Oleh, tidak boleh abai menangani DBD.

“Sisa anggaran dan kegiatan khususnya yang tidak berdampak bisa dialokasikan untuk DBD,” kata dia.

Sementara sampai saat ini, kasus DBD di Kabupaten Tasikmalaya mencapai 60 kasus. Satu diantaranya, anak-anak meninggal dunia.

“Kami baru mendapatkan laporan 1 orang meninggal dunia karena DBD dan itu anak-anak,” kata Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya Atang Sumardi Sabtu (27/6).

Dia menerima laporan bahwa anak berusia 8 tahun asal Kecamatan Cisayong itu meninggal pada 26 Juni 2020. “Meninggalnya kemarin sekitar pukul 05.00. Sampai saat ini baru satu orang laporan kasus DBD yang meninggal,” kata dia. (ujg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *