Kalau Jokowi Benar Reshuffle, Publik Berharap Susi dan Dahlan Iskan Jadi Menteri

oleh -257 views
Dahlan-Iskan-dan-Susi-Pudjiastuti
Dari Kanan; Nafsiah Sabri istri Dahlan Iskan, Dahlan Iskan, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ketika peresmian serta syukuran Studio Karawitan Dahlan Iskan, Jumat (10/11/2017). Foto: Dok. Guslan Gumilang/Jawa Pos

JAKARTA – Nama Susi Pudjiastuti dan Dahlan Iskan menjadi harapan publik sebagai menteri di kabinet Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, apabila reshuffle terjadi. Hal itu berdasarkan hasil riset Imdonesia Political Opinion (IPO).

Selain dua nama tersebut, ada mantan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Secara tingkat kepercayaan publik, Susi mendapat tingkat kepercayaan sebesar 37,2 persen. Kemudian Arief Yahya 32,2 persen, dan Dahlan Iskan 31,4 persen.

Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan, Susi mendapat tingkat kepercayaan sebesar 37,2 persen, Arief Yahya 32,2 persen, dan Dahlan Iskan 31,4 persen.

“Tiga nama teratas tersebut memiliki rekam jejak cukup baik di mata publik, sehingga kembali diinginkan untuk masuk dalam jajaran kabinet Indonesia Maju,” kata Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah saat memaparkan hasil surveinya dalam diskusi bertajuk Menanti Perombakan Kabinet pada Sabtu (4/7), dikutip dari JPNN.

Selain tiga nama tersebut, ada juga Ignatius Johan 27,1 persen, Sandiaga Uno 25 persen, Basuki Tjahaja Purnama 22,6 persen, Said Aqil Siradj 20,5 persen, Archandra Tahar 17,9 persen, dan Gatot Nurmantyo 15,4 persen.

Kemudian ada juga Doni Monardo 12,8 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 10,1 persen, Nasaruddin Umar 8 persen, Ahmad Heryawan 6,9 persen hingga Haedar Nasir 0,6 persen.

Dari nama-nama tersebut keinginan masyarakat cukup mengakomodasi kalangan nonparpol juga pejabat publik seperti Ketua Umum PBNU Said Aqil dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir. Namun, yang mengejutkan Dedi adalah kemunculan nama Dahlan Iskan.

“Reputasi Dahlan Iskan cukup mengesankan bagi publik, sehingga dia masuk sederet nama paling diharapkan kembali ke kabinet, hanya soal komitmen presiden, apakah benar akan melakukan pergantian menteri, atau hanya untuk kiasan pidato saja,” kata Dedi.

Survei IPO ini digelar sejak periode 8 hingga 25 Juni 2020 dengan 1.350 responden yang tersebar di 135 desa dari 30 provinsi di Indonesia dengan menggunakan metode Wellbeing Purposive Sampling (WPS). (hsn/tan/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *