Waduh, Indonesia Rangking Tiga Dunia Kasus Penyakit Menular Tuberculosis

oleh -68 views
Wiendra-Waworuntu
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, Wiendra Waworuntu. Foto: Media Center Gugus Tugas Nasional

JAKARTA – Selain virus corona (Covid-19), kasus tuberculosis (TBC) menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan. Karena kasus penyebaran penyakit paru-paru yang disebabkan kuman mycobacterius tuberculosis tersebut sangat tinggi di Indonesia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, Wiendra Waworuntu, mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi negara ketiga terbesar dengan kasus TBC di dunia setelah India dan China.

“Kita (Indonesia) ranking tiga di dunia. Ada India, China, kemudian Indonesia,” ungkap Wiendra dalam dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, Selasa (7/7).

Menurut data Kemenkes, estimasi kasus TBC di Indonesia mencapai 845.000 jiwa. Sementara yang telah ditemukan sekitar 69 persen atau sekitar 540.000 jiwa.

Angka kematian penyakit TBC juga cukup tinggi. Yaitu ada 13 orang per jam yang meninggal karena TBC.

Wiendra mengatakan, orang yang menderita TBC bukan menjadi penyakit bawaan yang mudah terjangkit Covid-19.

“Menurut data, hanya 19 orang penderita TBC yang terkena Covid-19. Pada data yang tersedia, justru penyakit tidak menular atau PTM menjadi penyakit bawaan yang mudah terjangkit Covid-19. Walaupun TBC ada dalam 10 besar penyakit bawaan yang rawan terkena Covid-19, namun TBC bukan nomor satu,” tambahnya.

Pengendalian penyakit TBC selama pandemi Covid-19 turut mengalami beberapa hambatan. Terlebih karena kekhawatiran pasien TBC serta pihak rumah sakit dalam melakukan pemeriksaan.

“Pasiennya (pasien TBC) tidak bisa ke layanan kesehatan karena takut. Kemudian fasilitas kesehatan juga sekarang takut memeriksa pasien TBC, terlebih pada Covid-19. Namun dengan sebagian besar rumah sakit rujukan Covid-19 yang memiliki pemeriksaan laboratorium dengan TCM, cukup membantu terhadap pelayanan pasien TBC,” jelas Wiendra.

Selanjutnya, Wiendra mengimbau masyarakat penderita TBC untuk tetap selalu berobat ke pelayanan kesehatan yang ada dan mengkonsumsi obat hingga sembuh total sehingga penularannya tidak semakin meningkat.

“Pelayanan TBC tidak bisa berhenti, kalau butuh ke layanan protokol kesehatan tetap dijalani. Jangan putus obat dan pastikan bahwa obat itu didapatkan oleh pasien,” tegas Wiendra. (hsn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *