Bentuk Satgas Perekonomian Jabar,Untuk Pemulihan Pasca Pandemi Covid-19

oleh -110 views
WEBINAR: Dialog virtual tentang perekonomian digelar Pemerintah Provinsi Jawa Barat, tadi malam. SCREENSHOOT

CIREBON – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat membentuk Satuan Tugas Pemulihan Ekonomi Jawa Barat. Tujuannya untuk mempersiapkan program kerja dalam mengakselerasi pemulihan perekonomian pasca pandemi Covid-19. Senin (13/7) malam, dilakukan dialog ekonomi virtual dengan tema Mengantisipasi dan Mencari Solusi Krisis Ekonomi di Jabar, Dampak Pandemi Covid-19.

Dialog webinar tersebut dibuka oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Yang jadi nara sumber adalah Arifin Panigoro (Wantimpres), MS Hidayat (Menteri Perindustrian 2009-2014), Sarwono Kusumaatmaja (Menteri Kelautan dan Perikanan 1999-2001), Paskah Suzetta (Kepala Bappenas 2005-2009).

Suzetta dalam pemaparan closing statement-nya menuturkan, di Jawa Barat, sekarang ini sedang dibangun beberapa infrastruktur strategis seperti ruas jalan tol (Cisumdawu dan Cigatas). Dia berpesan, ketika sudah terbangun, tidak hanya untuk lewat mobil saja. Atau hanya menghubungkan orang dari Jakarta ke daerah-daerah di kawasan itu saja.

Dia berpesan, pada sepanjang jalan itu, dibangun hal-hal yang produktif. Misalnya, ketika ada tanah kosong, segera dibangun area pendongkrak sektor pertanian. “Proyek strategis ini harus diimbangi oleh lingkungan yang memadai. Misalnya di Papua, kenapa tidak terbangun secara cepat, karena belum tahu apa yang mau diangkut potensi produknya,” tuturnya.

“Sekarang, di Jabar, lahan kosong di jalan tol dibangun sektor pengembang pertanian, sektor investasi,” tuturnya.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemprov Jabar, Eddy Iskandar Muda Nasution mengungkapkan, kejadian Covid-19 membuat bingung apa yang harus dilakukan. Sektor produksi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Daya beli juga menurun drastis. Beruntung, sektor ketahanan pangan di Jabar relatif bisa bertahan.

“Jabar memiliki 900 ribu hektare area produksi pertanian padi. Ketahanan ini penting dikedepankan, karena selama ini banyak impor dari negara tetangga. Misalnya Vietnam, yang sudah mulai menutup ekspor pangan untuk mendahulukan kebutuhan dalam negerinya. Dengan potensi ini, Jabar bisa bertahan untuk menyuport ketahanan pangan nasional,” tuturnya.

Untuk sektor manufaktur industry, harus dipertahankan pada kawasan strategis. Seperti Segitiga Rebana, di mana, ada infrastrukur BIJB dan Pelabuhan Patimban. Itu potensial untuk dikembangkan, karena kawasannya masih green, belum banyak lahan terbangun. Memang bakal ada konversi lahan, tapi bisa diatasi dengan diversi teknis.

Sektor andalan perekonomian kawasan berada pada wilayah Bodebek, Bandung, dan Cirebon, diharapkan dapat tumbuh dan berkembang, sehingga disparitas antarwilayah tidak terjadi. Di Jabar Selatan juga punya sektor unggulan berbasis wisata, yakni Pelabuhan Ratu dan Pangandaran, tapi memang di pandemi ini belum bisa diandalkan.

“Tantangannya, populasi ada 50 juta. Laju pertumbuhan ekonomi belum berjalan normal, tingkat pengangguran juga tinggi. Banyak industri yang belum mengakomodir tenaga kerja lokal. Bahkan, akhir-akhir ini banyak industri yang pindah ke Jateng, kawasan Batang. Jenjang pendidikan di Jabar belum memenuhi standar kebutuhan tenaga kerja sektor industri yang membutuhkan teknologi,” ujarnya.

Sektor potensial lain di perkebunan adalah kopi. Tapi, proses produksinya terlalu panjang sehingga keuntunganya kurang maksimal. Unggulan lain, ada mangga Gedong Gincu di Majalengka dan Indramayu. Persoalannya, ketika ekspor, standar permintaan kualitasnya terlalu tinggi, sehingga perlu peningkatan kualitas produksi pdoruk unggulan perkebunan ini.

Eddy menyebutkan, salah satu program di kawasan Jabar Selatan adalah Tol Cigatas. Akan dibangun, sehingga produk unggulan dari wilayah Jabar Selatan dan Timur akan cepat. Produk pertanian Jabar persoalanya, misalnya beras, dibawa ke pasar induk Kramat Jati karena Jabar tidak punya food station. Namun, ada angin segar karena DPRD Jabar juga sudah menyambut baik wacana pembentukan food station ini.

Sekretaris Satgas, Ipong Witono menambahkan, dari hasil diskusi ekonomi secara virtual, ada beberapa poin penting yang bisa ditindaklanjuti. Di antaranya, peluang menata kembali ekonomi Jabar yang kemarin mengalami deviasi yang cukup besar, dengan mengoptimalkan sektor unggulan yang potensial.

“Ke depan, ingin membangun kawasan akses perdagangan di kawasan antarkota/kabupaten dan wilayah untuk mendorong kemandirian sehingga membawa kesejahteraan masyarakat. Semoga upaya ikhtiar satgas ini mendapat dukungan dari komponen masyarakat dan restu dari Yang Maha Kuasa,” imbuhnya. (azs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *