Program Guru Penggerak untuk Lahirkan Agen Perubahan

oleh -61 views

JAKARTA — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan program Guru Penggerak pada Jumat (3/7) lalu. Melalui program ini, Kemendikbud berkomitmen memajukan ekosistem pendidikan di Indonesia yang lebih baik dengan melahirkan agen-agen perubahan yang berpusat kepada murid.

Hal ini didasari ajaran Ki Hajar Dewantara yang menghadirkan tiga kata kunci yang perlu diterapkan seorang guru. Teladan, motivasi, dan berdaya atau merdeka. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Iwan Syahril mengatakan, program guru penggerak dituntut untuk berfokus pada pedagogi, serta berpusat pada murid dan pengembangan holistik.

“Guru penggerak ini dengan suci hati mendekati sang anak, tidak untuk meminta sesuatu hak, namun untuk berhamba pada sang anak,” demikian disampaikan Iwan pada Bincang Sore melalui video virtual di Jakarta, pada Senin (13/07).

Analogi berhamba ini, kata Iwan, adalah betul-betul totalitas. Apa yang diberikan guru sebagai pendidik dan semua penggiat yang ada dalam ekosistem pendidikan dengan fokus kepada bagaimana melayani anak.

“Inilah sebenarnya yang kita inginkan dari seluruh guru di Indonesia, seperti pesan Ki Hajar yaitu berpusat kepada murid,” tambahnya.

Maka, guru penggerak dituntut untuk dapat menjadi teladan, serta bisa memotivasi. Sehingga menguatkan kemampuan untuk memberdayakan murid.

“Ini yang kita maksud sesuai dengan yang dipesankan oleh Bapak Pendidikan kita. Tumbuh kembang secara holistik yaitu jalan secara cipta, rasa, dan karsa. Tajam pikirannya lalu kemudian halus rasanya, lalu kuat dan sehat jasmaninya,” ujar Iwan.

Untuk itu, guru penggerak hadir sebagai agen perubahan. Program ini bertujuan untuk mencari bibit-bibit pemimpin di masa depan.

Iwan menambahkan, guru penggerak hadir menjadi teman belajar yang penuh inspirasi dan menguatkan semangat bagi guru-guru lain. “Ini hal yang sangat penting yang perlu kita terus komunikasikan ke semua pemangku kepentingan,” tuturnya.

Senada, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Zubaidah menilai, apabila program Guru Penggerak terlaksana dengan baik, tidak ada lagi guru yang tidak baik di daerah. Menurutnya, program ini sesuai dengan visi/misi Kota Malang, menjadikan Malang bermartabat melalui pendidikan.

“Inilah yang ditunggu oleh orang tua. Peran guru menjadi penggerak, karena sosok guru adalah digugu dan ditiru. Ini selalu kami ingatkan,” jelas Zubaidah.

Hal serupa diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Jumer. Menurut dia, program guru penggerak dapat menciptakan peserta didik berkarakter.

“Seorang guru penggerak adalah mereka yang memiliki motivasi tinggi. Ia mampu mengidentifikasi siswanya. Sehingga sebisa mungkin siswanya pulang dari sekolah, mengerti apa yang dikerjakan,” tutur Jumeri.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perguruan Taman Siswa, Ki Saur Panjaitan mengatakan, guru harus mampu menangani siswa yang unik dan heterogen. “Hadirnya program Guru Penggerak harus mewujudkan guru teladan yang bisa menangani siswa yang unik dan beragam,” ujarnya.

Nah, bagi guru di seluruh Indonesia yang terpanggil hatinya untuk menjadi guru penggerak, bisa segera mendaftar melalui sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/gurupenggerak/ pada 13-22 Juli 2020.

Seleksi pertama calon Guru Penggerak dilaksanakan pada 23- 30 Juli 2020. Meliputi seleksi administrasi, biodata, tes bakat skolastik, dan esai.

Selanjutnya, seleksi tahap kedua pada 31 Agustus sampai 16 September 2020. Meliputi simulasi mengajar dan wawancara. Tahap terakhir adalah pengumuman hasil seleksi calon Guru Penggerak angkatan pertama pada 19 September 2020. (ttr/rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *