Kalangan Pesantren Minta Dilibatkan dalam Penobatan Putera Mahkota Sultan Sepuh

oleh -4.196 views
putera-mahkota-keraton-kasepuhan-cirebon
Putera Mahkota Keraton Kasepuhan, PRA Luqman Zulkaedin. Foto: Andri Wiguna/Radar Cirebon

CIREBON – Kalangan pesantren di Cirebon minta dilibatkan dalam prosesi penobatan Putera Mahkota Keraton Kasepuhan menjadi Sultan Sepuh. Hal tersebut diungkapkan Kiai Sepuh Benda Kerep, KH Muhtadi Mubarok Soleh.

KH Muhtadi menuturkan, penobatan putera mahkota tersebut seharusnya mengedepankan musyawarah. Hal ini dilakukan demi kebaikan masyarakat di wilayah yang dulunya dipimpin Sunan Gunung Jati ini.

Menurutnya, Sunan Gunung Jati adalah seorang ulama. Maka dalam hal penobatan pun seharusnya melibatkan para ulama dan kiai dari kalangan pesantren. Hal ini juga dilakukan agar mendapatkan rahmat dan keramat Sunan Gunung Jati.

“Kita orang mukmin, mestinya (penobatan) disesuaikan dengan aturan yang baik, di antaranya lewat musyawarah,” ucapnya, Selasa (28/7).

Kiai Muhtadi mengaku telah mendapatkan amanah dari beberapa pesantren, di antaranya Ponpes Pemijen Sindang Laut, Ponpes Wanantara Sumber, Ponpes Jaha Cirebon Girang, Ponpes Jatisari Plered dan Ponpes Sukun Weru, juga beberapa majelis taklim. Pesantren-pesantren tersebut mempertegas bahwa Keraton Kasepuhan Cirebon punya tugas untuk melakukan syiar Islam.

“Sudah seharusnya urusan Keraton Kasepuhan pengelolaannya diarahkan untuk syiar Islam yang melibatkan pesantren-pesantren yang dulu menjadi bagian dari syiar Islam yang berpusat di Keraton Kasepuhan Cirebon,” tuturnya.

Dijelaskan Kiai Muhtadi, sosok yang ditunjuk sebagai sultan Keraton Kasepuhan Cirebon berikutnya harus bisa mengemban amanah syiar Islam. Bekerja sama dengan pesantren-pesantren yang dulu menjadi penopang Keraton Kasepuhan Cirebon.

“Makanya ada peguron Buntet, dan lain-lain. Dalam peguron itu dulunya adalah petugas kerajaan yang diberikan tugas untuk sosialisasi agama kepada masyarakat. Itulah kenapa keraton dan pesantren itu bersenyawa,” jelasnya.

Meskipun secara garis keturunan dari Sultan Sepuh adalah anak laki-laki, masih kata Kiai Muhtadi, secara etika dulu Keraton Kasepuhan melibatkan ulama dalam penobatan.

“Sultan Matangaji itu ulama. Dulu, calon sultan itu diumpetin, orang lain tidak tahu dia calon raja. Dia digembleng dulu agamanya, istilahnya dipesantrenkan dulu. Nah mulai zaman Belanda hal-hal seperti itu dihilangkan,” katanya.

Sementara itu, Ratu Raja Alexandra Wuryaningrat, Ketua Badan Pengelola Keraton Kasepuhan mengungkapkan, putera mahkota untuk meneruskan takhta Sultan Sepuh PRA Arief Natadiningrat yaitu PRA Luqman Zulkaedin. PRA Luqman Zulkaedin telah diberikan anugerah sebagai putera mahkota oleh Sultan Arief pada Januari 2018 silam.

Hal serupa juga telah disampaikan oleh Luqman di hadapan tamu pelayat yang hadir saat melepas jenazah almarhum Sultan Sepuh XIV di keraton untuk dimakamkan.

“Sudah menjadi tradisi di Keraton Kasepuhan bahwa yang meneruskan takhta adalah turunan garis anak laki-laki yang telah ditunjuk oleh sultan sebelumnya,” kata Alexandra.

Untuk proses menuju Sultan Sepuh, menurutnya, memang tidak ada istilah dipesantrenkan sebelumnya. “Sudah ada wejangan langsung dari Sultan Sepuh XIV setelah penganugerahan dulu,” ungkapnya.

Alexandra memastikan bahwa ulama dari pesantren akan diundang saat jumenengan atau penobatan PR Luqman menjadi Sultan Sepuh nanti. (rdh)

Saksikan video menarik berikut ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *