Puncak Musim Kemarau Diprediksi Agustus

oleh -72 views
BMKG-1
Ilustrasi.

CIREBON – BMKG memprediksi sejumlah wilayah di Indonesia memasuki puncak kemarau di bulan Agustus. Sejumlah wilayah tersebut di antaranya di sebagian besar Jawa hingga Bali.

“Sebanyak 65% ZOM (zona musim) akan mengalami puncak musim kemarau ini yaitu sebagian besar wilayah NTT, NTB, Bali, sebagian besar Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, dan sebagian Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi Selatan serta Papua bagian selatan,” tulis BMKG dalam keterangan tertulis, Jumat (31/7/2020).

Selain itu, 19% zona musim lainnya diprediksi akan mengalami puncak kemarau pada bulan September. Wilayah tersebut di antaranya di Sumatera dan Kalimantan.

“Sementara 19% ZOM diprediksikan mengalami Puncak Musim Kemarau pada bulan September, yaitu meliputi sebagian besar Sumatera bagian tengah, Kalimantan bagian selatan, tengah dan timur, Sulawesi bagian barat dan Maluku,” lanjutnya.

BMKG juga memprediksi sejumlah wilayah akan mengalami kemarau lebih kering dari normalnya. 

Wilayah yang akan dilanda kemarau yang lebih kering di antaranya di sebagian Riau, Lampung bagian timur, Banten bagian selatan, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah bagian tengah dan utara, sebagian Jawa Timur, Bali bagian timur, NTB bagian timur, sebagian kecil NTT, Kalimantan Timur bagian tenggara, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, dan Maluku bagian barat dan tenggara.

“Namun begitu, untuk wilayah-wilayah yang tidak mengalami musim kemarau, pada bulan Agustus ini diharapkan tetap waspada terkait masih terdapatnya potensi curah hujan kriteria tinggi yaitu di sebagian Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah, sebagian Papua Barat dan Papua bagian tengah,” kata BMKG.

BMKG pun mengimbau pemerintah daerah untuk melakukan antisipasi. Terutama terhadap adanya bencana kekeringan atau kebakaran hutan.

“BMKG mengimbau pemerintah daerah, pengambil keputusan dan masyarakat luas untuk lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak puncak musim kemarau terutama di wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, dan ketersediaan air bersih,” ujarnya. (yud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *