Klaster Baru Motor Gede

oleh -86 views
Vaksin-Covid-19

JAKARTA – Penyebaran COVID-19 dari klaster gowes menular dan memunculkan klaster baru motor gede (moge). Sembilan orang klaster moge terkonfirmasi positif COVID-19.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Krisna Yekti dalam keterangannya mengatakan sembilan pasien positif COVID-19 klaster moge tertular dari klaster gowes.

”Terdapat tambahan 21 terkonfirmasi positif di Blitar, sembilan orang terkonfirmasi merupakan klaster touring/moge dari Kecamatan Doko,” katanya, Kamis (30/7).

Data tersebut merupakan yang terkonfirmasi pada Rabu (29/7). Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Blitar mendata total terdapat 21 yang terkonfirmasi COVID-19. Selain dari klaster moge, juga terdapat tambahan klaster RSUD Ngudi Waluyo, Kabupaten Blitar, dan beberapa klaster lain.

“Temuan kasus terkonfirmasi itu, semuanya dinyatakan positif, namun tanpa gejala. Tim medis juga telah melakukan tracing dari kasus tersebut,” ungkapnya.

Dijelaskan Krisna, munculnya klaster moge terdeteksi dari pasien positif sebelumnya yang berasal dari klaster gowes. Mereka kontak erat dengan pasien positif dari klaster gowes.

Dikatakannya, munculnya klaster moge berawal dari terdeteksinya pasien positif dari klaster gowes.

“Ternyata pada hari yang sama, Minggu (12/7) pasien positif yang dari klaster gowes, juga melakukan touring bersama teman-temannya klub moge Phantom ke Puncak Langit di Resampombo Kecamatan Doko,” ungkapnya.

Pasien positif dari klaster gowes ini seorang pria (51), warga Kecamatan Garum Kabupaten Blitar. Dia seorang nakes di rumah sakit swasta yang berlokasi di Kecamatan Talun.

Pada Minggu (12/7) pagi, katanya, pasien terkonfirmasi positif ini gowes ke Bendungan Ngusri di Kecamatan Gandusari. Lalu turun, dan berganti naik moge Phantom bersama rombongan melakukan touring ke Puncak Langit di Kalimanis, Resapombo Kecamatan Doko.

“Kalau keterangan dari yang bersangkutan, selama touring ini pakai masker. Namun saat berada di Puncak Langit, rombongan ini ikut nyanyi-nyanyi grup musik tradisional yang sedang latihan. Saat nyanyi inilah, yang bersangkutan mengaku melepas maskernya,” ungkapnya.

Sepulang dari kegiatan itulah pasien kemudian merasakan demam. Lalu Kamis (16/7) yang bersangkutan diambil tes swab di RSUD Ngudi Waluyo. Jumat (17/7) hasil swab menyatakan, dia terkonfirmasi positif Corona.

“Awalnya, kami tahunya yang bersangkutan hanya dari gowes. Namun belakangan, orang lain yang pernah kontak erat dengan pasien ini bercerita, jika pada hari yang sama ternyata dia juga ikut rombongan moge. Nah dari situlah kami tracing, ada 49 orang yang ikut rombongan. Kami swab dan 9 orang hasilnya terkonfirmasi positif. Tim juga telah merekomendasikan agar mereka melakukan isolasi mandiri,” katanya.

Ahli epidemiologi epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan penularan COVID-19 bisa terjadi ketika masker mulai dilepas. Apalagi, saat bersepeda, wajah akan berkeringat dan membuat masker menjadi basah.

“Pada gowes ini kalau habis gowes mungkin maskernya kan basah, terus dibuka atau diturunkan di bawah hidung. Nah, dari situ dibukalah masker yang jadi penularan,” katanya, Jumat (31/7).

Selain itu, ada kemungkinan klaster gowes di Blitar ini muncul karena ketidakpatuhan terhadap protokol kesehatan.

“Begitu ada kasus yang ada dalam kerumunan, semua ikut kena begitu kepatuhan terhadap protokol kesehatan diabaikan,” ungkapnya.

“Intinya jangan berkerumun, meskipun kenal. Karena kita tidak tahu siapa yang membawa virus ini,” lanjutnya.

Dijelaskannya, sejumlah ilmuwan menyebut virus ini bisa menyebar di udara (airbone) ruangan tertutup. Namun tak tertutup kemungkinan droplet virus corona juga bisa ditularkan lewat ruangan terbuka.

“Virus corona ini ada yang airbone, lewatnya mikro droplet. Nah, ada juga yang droplet. Di ruangan terbuka juga bisa tersebar dropletnya, tergantung anginnya kemana. Logikanya kalau orang gowes, dropletnya ke belakang karena terbawa angin, yang kena yang di belakang,” jelasnya.

Sementara dikutip dari laman covid19.go.id, pasien positif hingga 31 Juli 2020 bertambah 2.040 orang. Sehingga total jumlah terkonfirmasi positif COVID-19 menjadi 108.376 orang.

Sedangkan jumlah pasien sembuh bertambah 1.615 orang sehingga total ada 65.907 pasien sembuh. Kasus meninggal bertambah 73 orang sehingga, total 5.131 meninggal.

Jumlah pasien sembuh sebanyak 60,8 persen dari total kasus positif. Sementara sisanya 34,5 persen atau 37.338 orang positif COVID-19 masih dirawat. Kemudian persentase meninggal akibat Covid-19 sebanyak 4,7 persen dari total terkonfirmasi positif.

Jawa Timur dan DKI Jakarta menjadi dua provinsi dengan jumlah positif tertinggi, masing-masing 21.772 kasus (20,5 persen dari total positif) dan 20.969 (19,7 persen). Kemudian Sulawesi Selatan ada di posisi tiga menyumbang jumlah positif Covid-19 dengan 9.346 kasus (8,8 persen) diikuti Jawa Tengah 9.281 (8,7 persen) dan Jawa Barat 6.461 (6,1 persen).(gw/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *