Teladan Ibrahim AS dan Ismail AS

oleh -98 views
WACANA
Ilustrasi.

Oleh: Dr. Eva Nur Arovah, M.Hum*

MEMASUKI Dzulhijjah, sesungguhnya umat muslim seluruh dunia diingatkan kembali pada babak baru kehidupan dua manusia pilihan Tuhan, yakni Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Keduanya menjadi peletak pertautan ranah kehidupan spiritual dan ranah kemanusiaan sebagai bagian penting yang tak bisa dilepaskan satu sama lain. Keduanya berujung menjadi kesatuan dalam bingkai Islam rahmatan lil aalamiin.

Kesabaran dan Ketaatan

Ibrahim AS adalah satu dari lima rasul pilihan dengan predikat Ulul Azmi. Sejarah kehidupannya memperlihatkan bukti-bukti sebagaimana tahapan para nabi: pencarian tuhan, penghancuran sesembahan, dan semangat menyempurnakan kehidupan. Dimulai dengan kegundahan dan keraguannya atas keberadaan tuhan, Ibrahim AS menjadikan fenomena alam sebagai jalan kontemplasi sekaligus imajinasi teologis-spiritual yang cerdas, kritis, termenung, dan tekun (QS. Al-An’am: 75-79). Hingga Sang Khaliq memberi penegasan atas keimanannya, bahwa Ibrahim AS adalah seorang yang lurus, muslim dan tidak menyekutukan Allah SWT (QS. Ali Imron: 67), sekaligus nabi yang sangat mencintai kebenaran (QS. Maryam: 41).

Titik balik tersebut mengharuskan Ibrahim AS berhadapan dengan ayahnya (QS. Al-An’am: 74) yang menolak meyakini ketauhidan. Ibrahim AS bahkan diminta untuk meninggalkan sang ayah dalam waktu yang lama demi menghindari murkanya (QS. Maryam: 41-48). Pihak lain yang kukuh menentang risalah Ibrahim AS adalah Namrud, raja kaya lagi berkuasa dengan temperamen dan emosi yang meledak-ledak (QS. Al-Baqarah: 258) juga ritus-ritus sesat masyarakatnya.

Kesabaran Ibrahim AS diuji lagi ketika memasuki usia 85 tahun dan istrinya Sarah memasuki usia 76 tahun belum juga dikaruniai keturunan. Sarah kemudian mengijinkan Ibrahim untuk menikahi budaknya dari Mesir yang bernama Hajar hingga bayi Ismail (QS. Asshoffat: 100-101) yang sekian lama didambakan lahir, disusul Ishaq yang lahir dari rahim Sarah ketika Ibrahim AS memasuki usia lanjut (QS. Hud: 72). Kelak, dua orang anak Ibrahim AS ini melahirkan bangsa besar pelaksana mandat tuhan.

Meskipun masing-masing istri Ibrahim AS telah memiliki anak, namun kiranya dapat dipahami bila pada suatu waktu Sarah memohon kepada Ibrahim AS agar Hajar dan Ismail segera pergi dari rumah mereka. Ibrahim AS yang amat sedih dengan permohonan tersebut, kemudian diyakinkan oleh Allah SWT agar memenuhinya seraya menjajikan keberkahan dan kasih sayang atas Ismail AS (QS. Maryam: 54-55), salah satunya adalah mata air Zam Zam.

Kakbah dan Kurban

Keajaiban mata air Zam Zam menjadi awal tumbuhnya suatu perkampungan istimewa Makkah (Bakkah) sekaligus menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Ibrahim AS dan Ismail AS. Di tempat ini juga Ibrahim AS dibantu Ismail AS ditunjuk oleh Allah SWT untuk membangun Kakbah atau rumah tuhan. Bangunan berbentuk kubus yang memiliki empat sudut dengan batu suci dari surga (hajar aswad) serta bagian-bagian sakral lainnya. Juga Maqam Ibrahim serta Hijir Ismail sebagai bagian Kakbah yang merujuk pada dua sosok utusan Allah SWT pengemban amanah pembangunannya. Dengan petunjuk Allah SWT pula Ibrahim AS diajarkan berbagai ritus haji yang nantinya ritus-ritus tersebut disempurnakan Rasulullah Muhammad SAW dengan Kakbah sebagai salah satu pusatnya (QS. Al-Anbiya: 26-27).

Kakbah dengan demikian bukan hanya menjadi kiblat atau arah yang dituju ketika salat. Juga bukan sekadar bukti ketaatan dan kesabaran Ibrahim AS dan Ismail AS. Lebih jauh, jika Kakbah didudukkan dalam perspektif sejarah maupun sosial-kegamaan. Ia menjadi karya besar yang menghubungkan berbagai peristiwa kenabian sekaligus simpul tengah yang mempertemukan sejarah kenabian itu sendiri. Dengan proses sejarah kenabian yang berbeda-beda. Kakbah menjadi obyek utama dalam praktik haji baik pada masa sebelum Islam maupun pada masa Islam.

Selain Kakbah, nyatanya masih ada ujian lain yang mengguncang sisi manusiawi Ibrahim AS: perintah untuk menyembelih putra tercinta Ismail AS yang hadir lewat mimpi (QS. Asshoffat: 102). Tanpa ragu Ibrahim AS yang amat cepat membenarkan semua yang ghaib dan datang dari Allah SWT (QS. Maryam: 41) dan Ismail AS yang memiliki kesabaran tak terbilang (QS. Asshoffat: 101) memenuhi titah Sang Maha Kuasa. Dalam pelaksanaannya, ketika pedang Ibrahim AS sudah sampai leher Ismail AS, Allah SWT menunjukkan kuasanya dengan mengangkat Ismail AS dan menggantinya dengan kambing.

Sebuah ujian berhasil dilalui Bapak-Anak dengan gemilang (QS. Asshoffat: 108-109). Ritual ini kemudian diteruskan umat muslim dengan memotong hewan ternak atau bahiimatul an’am (QS. Al-Hajj: 34) bagi yang mampu pada setiap Idul Adha. Allah SWT kemudian memerintahkan untuk membagi daging kurban kepada yang berhak menerimanya. Dengan demikian, lebih dari sekadar wujud ketaatan kepada Tuhan, kewajiban berkurban nyatanya memiliki arti penting serta pesan moral berupa solidaritas kemanusiaan, utamanya sesama muslim.

Adalah menarik untuk menghubungkan konsep kurban pada hari raya Idul Adha dengan konsep zakat sebagai salah satu komponen Ramadan dengan puncaknya Idul Fitri. Idul Fitri yang kemudian diikuti Idul Adha sebagai dua hari raya penting umat Islam, nyatanya selalu diiringi dengan ritual memberi. Baik itu memberi yang sifatnya kewajiban bagi seluruh muslim maupun yang sifatnya sunah bagi muslim yang mampu. Keduanya bisa dipahami sebagai isyarat bahwasanya semua muslim dianggap bertanggung jawab akan terciptanya rasa simpati-empati dalam persaudaraan yang erat.

Maka, tidak bisa dihindarkan lagi, Kakbah dan kurban, juga kisah Ibrahim AS dan Ismail AS sesungguhnya adalah kebenaran sejarah tentang manusia pilihan. Seluruh hidupnya digunakan untuk mengabdi kepada Tuhan. Sekaligus hendak merefleksikan momentum sosial untuk membangun kebersamaan. Ketaatan, kesabaran, kepasrahan dan keikhlasan keduanya menjadi keteladanan dipadu belas kasih dengan memberi bukan menang sendiri. Bagi ajaran Islam Kakbah dan kurban menjadi satu di antara sekian banyak penanda bahwa Islam adalah agama inklusif penyempurna ajaran-ajaran sebelumnya (QS. Al Maidah: 3). Karena Islam sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya pada dasarnya tidak hanya berhenti pada ajaran yang berorientasi teologis (tauhid) atau yurisprudensi (fiqh), melainkan jauh lebih kompleks membahas mengenai unsur-unsur kemanusiaan dan ajaran yang bersentuhan langsung dengan ranah publik. (*)

*) Penulis adalah Dosen STKIP Pangeran Dharma Kusuma Indramayu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *