Transparan Jelaskan Vaksin Sinovac, Netty: Jangan Biarkan Masyarakat Menduga-duga

oleh -154 views
SAMPEL: Vaksin SARS-Cov-2 atau vero cell yang telah dimatikan produksi Sinovac Biotech. FOTO: DOKUMEN SINOVAC

BANDUNG – Bio Farma akan melakukan uji klinis fase 3 dari vaksin corona yang dikembangkan perusahaan China, Sinovac Biotech. Sekretaris Perusahaan Bio Farma Bambang Heriyanto mengatakan uji klinis kandidat vaksin atau obat di berbagai negara merupakan sesuatu hal yang biasa di dunia riset dan anggota World Healt Organization (WHO).

“Sebetulnya (uji klinis) tidak hanya di Indonesia. Ini di lakukan juga di Brazil, Tukri, Bangladesh dan Chili. Jadi ada beberapa negara yang melakukan uji klinis fase 3 dan fase 1, 2 ini dilakukan di China,” ujarnya.

Lebih lanjut, disebutkan bahwa di China telah melakukam fase 1 dan 2. Sedangkan untuk fase 3 tidak bisa dilakukan mengingat tingkat pandemi di China sudah menurun sehingga tidak bisa terlihat hasilnya.

“Selain lihat kekebalan kita mau lihat antibodi. Suntik vaksin kan keluar antibodi apakah oke atau tidak, tapi harus lihat apakah orang yang di vaksin sehat atau tidak,” ucap dia.

Terkait kerjasama ini, Biofarma mengatakan bahwa Sinovac adalah salah satu vaksin yang paling cepat memasuki fase 3 menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kemudian ada AstraZeneca dari Inggris, Moderna dari AS, ada Cansion dari China  dan paling cepat dari WHO  Sinovac dan kedua AstraZeneca.

Adapun alasan lain, vaksin China di uji Indonesia karena adanya kemudahan kapabilitas dan kapasitasnya ke negara tersebut dan pengalaman kerjasama sebelumnya. Serta kesamaan standarisasi dengan Biofarma.

“Sinovac ini punya standar sama dengan Biofarma dan platform teknologi yang digunakan ini sudah kami biasa gunakan. Sehingga kami putuskan kerjasama dengan Sinovac. Seharusnya kita beruntung kita punya akses mudah kesana. Negara lain kalau ada wabah mereka akan pikirkan diri sendiri dulu,” ucapnya.

Kepala Bagian Komunikasi Perusahaan Bio Farma, Iwan Setiawan menambahkan, sebanyak 2.400 unit vaksin Sinovac telah tiba di Indonesia. Bio Farma akan melakukan uji klinis fase III.

Anggota Komisi IX DPR RI, DR Netty Prasetiyani Aher meminta transparansi dalam proses uji coba. “Jika benar sudah uji coba fase I dan II, datanya harus transparan. Jangan ada yang ditutup-tutupi,” kata Netty.

BPOM China, kata dia, pernah mengumumkan adanya sejumlah vaksin di bawah standar yang diproduksi dan diedarkan ke masyarakat. Kemudian harus dipastikan bahwa proses produksi dan pengedaran vaksin sudah sesuai standar WHO. “Jangan sampai ada yang dilewatkan,” tandasnya.  

Berdasarkan standar  WHO, vaksin harus melalui  uji coba ketat sebelum diedarkan ke masyarakat. Pengujian di laboratorium pada  hewan percobaan meliputi  uji keamanan, imunogenitas, dan efikasi. Sedangkan uji klinis pada manusia dilakukan sebanyak tiga fase.

Selain itu, pemerintah harus bisa menjelaskan kepada masyarakat mengapa vaksin Sinovac  yang dipilih untuk diujikan di Indonesia.

Misalnya, dari sejumlah produsen dan negara pembuat vaksin Covid-19, kenapa dari China yang diujikan? Pemerintah, kata Netty, berkewajiban menjelaskan kepada publik dengan komunikasi yang baik.

Jangan sampai tersebar berita-berita yang  menguatkan keraguan masyarakat atas tidak amannya vaksin tersebut. “Kalau aman dan standar WHO, publikasikan datanya secara transparan. Jangan biarkan publik curiga dan menduga-duga ada sesuatu dalam pengujian vaksin tersebut,” pungkasnya. (abd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *