Agresivitas Tes di Perkantoran Pemerintahan

oleh -35 views
swab-test-nakes-kota-cirebon
Tenaga Kesehatan di Kota Cirebon menjalani swab test di Gedung Diklat BKKBN. Foto: DOK.Okri Riyana/Radar Cirebon

REPRODUKSI efektif (Rt) Covid-19 di Jawa Barat meningkat pada angka 1,05 selama sepekan terakhir. Menurut Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat (Jabar) yang sekaligus Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, merujuk pengetesan masif yang terus dilakukan, pihaknya berupaya menekan Rt hingga di bawah angka 1.

Menyoal uji usap (swab test) metode Polymerase Chain Reaction (PCR), Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil- menjelaskan sudah lebih dari 160 ribu pengetesan metode PCR dilakukan di Jabar. Termasuk di beberapa institusi pendidikan kenegaraan.

“Total swab test kita ini terbanyak di luar DKI Jakarta. Gabungan antara tes yang dilakukan Gugus Tugas (Jabar) dan TNI, yaitu sekitar 160 ribuan. Jadi kalau diperbandingkan terhadap provinsi-provinsi lain, maka pengetesan swab Jawa Barat adalah terbanyak dari seluruh provinsi,” ujar Kang Emil.

Pihaknya saat ini fokus pada pengetesan agresif di perkantoran-perkantoran setelah ditemukan sejumlah kasus positif Covid-19.

“Kita terus melakukan aggressive testing, khususnya di perkantoran pemerintahan. Perintah agresivitas tes inilah yang menemukan keterpaparan kasus di banyak tempat. Ada di Gedung Sate, DPRD, ada di kejaksaan,” tutur Kang Emil.

Gugus Tugas Jabar pun merekomendasikan kepada instansi perkantoran untuk menerapkan work from home (WFH). Menurut Kang Emil, keterpaparan di perkantoran terjadi karena kurangnya ventilasi di ruangan, termasuk ruangan ber-AC, sehingga menjadi area yang mudah ditulari Covid-19.

Work from home menjadi rekomendasi kami. Karena dari kasus di perkantoran, mengindikasikan agar kantor-kantor rajin membuka jendela,” kata Kang Emil.

Kasus keterpaparan di perkantoran, menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih meningkatkan kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Pasalnya, menurut Kang Emil, keterpaparan di perkantoran belum tentu murni terjadi di perkantoran (penularan internal). Namun bisa disebabkan oleh perilaku karyawan yang tidak terkontrol saat berkegiatan di luar kantor (eksternal).

“Belum tentu Covid-19 itu ada di kantornya, (penularan) ini bisa saja karena perilaku dari karyawan atau staf yang sepulang kantor melakukan kegiatan yang tidak terkontrol (di luar kantor),” ujar Kang Emil. (rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *