Keraton Kacirebonan Lestarikan Tradisi Bekaseman

oleh -146 views
Tradisi-Bekaseman-Keraton-Kacirebonan
Istri sultan (baju hitam) bersama kerabat Keraton Kacirebonan dan abdi dalem membuat proses ikan bekaseman, Selasa (22/9). FOTO: DEDI HARYADI/RADARCIREBON.COM

CIREBON – Keraton Kacirebonan hingga kini masih melestarikan tradisi bekaseman. Bekaseman merupakan tradisi mengawetkan ikan dalam guci kuno selama sebulan.

Tradisi bekaseman rutin digelar di Keraton Kacirebonan menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Pembuatan bekaseman ini dilakukan abdi dalem beserta kerabat famili keraton yang dipimpin langsung istri sultan. Proses pembuatannya di Pawon Jimat Keraton Kacirebonan.

Baca juga:

Mayat Perempuan tanpa Busana di Pantai Kejawanan Dipastikan Bukan Korban Pembunuhan

Masuk Lorong Gang Kecil Pulasaren Cirebon Tersembunyi Situs Makam Habib Idrus bin Muhammad Alhabsyi

Patih Kanoman: Pasar Malam Muludan Sama Saja dengan Pasar Tradisional

Bekaseman merupakan salah satu tradisi rangkaian panjang jimat. Bekaseman dibikin setiap tanggal 5 Safar.

Adapun isi bekaseman tersebut adalah ikan kakap, ikan kuro, dan ikan bawal. Setelah ikan-ikan itu diolah dicampur gula dan garam, selanjutnya dimasukkan ke gentong kecil. Selanjutnya bekaseman itu dibawa ke kamar jimat untuk dilakukan fermentasi selama 20 hari.

Sultan Keraton Kacirebonan, Pangeran Raja Abdul Gani Natadiningrat mengatakan, tradisi bekaseman sudah menjadi kegiatan turun temurun sejak tahun 1808. Hingga kini tradisi bekaseman masih dipertahankan.

“Tradisi ini masih dalam rangkaian panjang jimat. Ikan bekaseman ini (dibuat, red) pada tanggal 5 Safar dan akan dibuka kembali pada tanggal 5 Maulud. Setelah dilakukan fermentasi, ikan bekaseman ini akan dijemur hingga kering. Proses pembuatannya cukup lama,” katanya, Selasa (22/9).

Sultan menuturkan, pada tanggal 8 Maulud ikan bekaseman ini diambil sebagian untuk acara tradisi pelal alit.

“Dan diambil juga pada tanggal 12 Maulud untuk tradisi pelal Ageng. Tradisi ini bertujuan untuk menjunjung tinggi adat dan budaya peninggalan leluhur,” pungkasnya. (rdh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *