Kisah Dian Sumarni saat Suami dan Buah Hati Terinfeksi Covid-19

oleh -1.483 views
dian-sumarni-covid
Dian Sumarni bersama suami dan anak. Keluarga ini berhasil melewati masa sulit saat suami dan anak positif covid-19. Foto: Dok Pribadi Keluarga Dian Sumarni

BADAI corona virus disease (covid-19) menerjang keluarga Dian Sumarni. Kisah ini berawal saat sang suami terkonfirmasi positif terpapar. Tepatnya 31 Agustus.

Suami Dian tiba-tiba saja mengalami gejala demam. Tidak enak badan. Menggigil dan batuk. Mulanya, dianggap flu biasa. Pasalnya, Dian dan Suami sedang mengerjakan sebuah project secara intens. Ditambah keduanya merasa aman karena di lingkungannya belum ada yang terpapar.

“Besoknya kami baru tahu salah satu teman kantor suami saya terpapar, akhirnya suami pun swab di tanggal 2 September,” kata Dian, mengawali ceritanya.

Hasil swab pun muncul di tanggal 3 September sore hari. Dia dapat kabar hanya melalui telepon. Suami Dian dinyatakan positif covid-19. Kaget dan stres dialami Dian. Bingung pun melanda. Apa yang harus ia lakukan. Ia tidak memahami bagaimana tata laksana ketika ada keluarga yang dinyatakan terpapar covid-19.

Sampai akhirnya puskesmas menawarkan dirawat di rumah sakit. Dengan pertimbangan Dian dan Suami memiliki buah hati yang baru berusia 4 tahun, akhirnya sang suami memutuskan diisolasi di rumah sakit. Namun, ambulans baru bisa datang keesokan harinya. Sehingga saat itu suami Dian masih tinggal di rumah dan melakukan isolasi seadanya. “Harap-harap cemas juga malam itu. Namanya satu rumah. Ya saya sudah pasrah kalaupun terpapar juga,” ungkapnya.

Keesokkan harinya, suami Dian yang sebelumnya demam dan merasakan gejala lainnya sudah lebih fit. Bahkan saat ambulance datang sudah bisa jalan dengan sigap dan membawa tas nya sendiri.

Satu hal yang ia minta saat ambulans datang untuk tidak menyalakan sirine. Tujuannya, agar tak ada keramaian. Namun yang menjadi kekecewaan Dian bersama suami, nyatanya banyak Babinsa, TNI dan lainnya yang hadir. Mereka juga mendokumentasi penjemputan tersebut.

“Saya fikir hanya dokumentasi laporan mereka. Nggak taunya, dua hari setelah itu banyak beredar video penjemputan. Yang sangat disayangkan semua data diri suami dan keluarga saya benar-benar tersebar. Di situ saya merasa tak ada privasi saja,” ungkapnya.

Namun Dian memilih tak memikirkan hal itu. Dian mencoba untuk menjalani hari-hari seperti biasanya dengan isolasi mandiri di rumah bersama buah hatinya, Senja. Karena suami telah dinyatakan terpapar, Dian dan Senja pun harus melakukan swab.

Sayangnya, pengambilan spesimen baru bisa dilakukan setelah 7 hari. Padahal menurut Dian, tracking harusnya cepat. Agar tak menyebar lebih banyak.

Tapi karena alasan puskesmas bahwa jadwal swab baru bisa dilakukan di 7 hari ke depan, Dian dan Senja pun akhirnya isolasi mandiri di rumah dan tak melakukan aktivitas.

Di titik ini, Dian pun sempat stres dan akhirnya merasakan demam dan mual. “Kepikiran, stres juga. Larinya ke psikis, mindset saya mungkin jadi demam. Tapi saya berfikir daripada menjadi stigma lebih baik saya membangun pikiran positif,” ungkapnya.

Dari situ, Dian mencoba untuk berfikir lebih positif, kemudian membagikan kondisi terkininya selama isolasi mandiri bersama senja di social media. Senja yang sangat terlihat enerjik dan senang-senang saja pun menjadi semangat bagi Dian.

Dari unggahan di social media, Dian pun mendapatkan banyak dukungan dari berbagai kerabat dan keluarga dekatnya. Tak sedikit yang mengirimkan makanan dan meletakan di pagar rumah. Bukan hanya dari Cirebon, ada juga dari luar kota.

Bahkan di sela-sela menunggu swab ia pun masih dibantu para tetangga untuk sekadar mengambil uang di ATM dan membeli bahan makanan juga makanan ringan. “Dari dukungan keluarga dan tetangga ini yang membuat saya semangat, dan yakin bisa melewati wabah ini,” tukasnya.

Sementara itu, suami Dian harus berjuang di ruang isolasi rumah sakit. Gejala yang timbul setelah fit ternyata suhu tubuhnya kerap naik turun. Kadang nyeri otot, batuk kering, sakit tenggorokan, dan saat berangkat ke rumah sakit pun sang suami tak mencium aroma.

Baju yang telah di-laundry yang biasanya wanginya sangat menyengatpun tak bisa dirasakan oleh sang suami. Selama 13 hari sang suami berada di rumah sakit dengan jarak setiap 5 hari ia menjalani swab.

Badai kedua pun datang. Di hari ke-7 Dian dan Senja pun melakukan swab. Anehnya meski yang pernah merasakan demam Dian, justru yang dinyatakan positif adalah Senja. Padahal buah hatinya tak pernah mengalami gejala.

Di sini dilema muncul. Tak mungkin Dian melepas buah hatinya untuk diisolasi di rumah sakit. Dia jelas tak tega meninggalkan Senja. Akhirnya ia bernegoisasi untuk melakukan isolasi di rumah.

Akhirnya keduanya melakukan isolasi mandiri. Di hari-hari itu, keduanya secara rutin dicek kesehatan baik melalui chat maupun langsung. Obat yang diberi pun hanya vitamin, karena tak ada gejala apapun. Setiap harinya, Senja benar-benar tidak seperti orang sakit. “Senja tak pernah rewel dan terlihat gejala apapun. Paling dua kali terlihat pucat. Selebihnya dia makan biasa dan lainnya seperti anak-anak pada umumnya,” ungkapnya.

Meski disarankan untuk tidak tinggal serumah, Dian tetap pasrah karena ingin merawat anak tercintanya. Ia pun pasrah kalau memang nantinya positif. Dian terus membangun fikiran positif dan merawat Senja. Ia pun memberikan beragam vitamin dan beragam obat herbal pada senja dan suami. Hasilnya di swab ketiga, Senja dan sang suami sudah negatif.”Alhamdulillah akhirnya semuanya dinyatakan sembuh, sekarang kami pun menjaga diri untuk social distanicng dan yang penting menaga imun dan daya tahan tubuh,” terangnya.

Dari sini pun ia bisa memetik bahwa dukungan motivasi dari sekitarlah yang bisa membantunya melewati pandemi ini. Dian yang telah mengalami keluarganya terpapar covid-19 pun berpesan bahwa virus ini benar adanya dan tak pandang bulu.

“Ada berbagai Senja lain di luar sana, yang tak terlihat sakit namun ternyata membawa virus ini yang siap menularkan pada siapa saja. Jadi tingkatkan kewaspadaan,” tukasnya.

Dian pun membagikan kisah inspiratifnya ini di podcast pribadinya, Rumpi Salon Podcast. Tak hanya membagikan kisah inspiratif ini, ia berharap masyarakat juga bisa teredukasi. (apr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *