Hanya 3 Jenis Masker Mampu Cegah Covid-19, Penggunaan Bahan Kain Maksimal Dipakai Selama 3 Jam

oleh -212 views
BANYAK PELANGGAR: Warga beraktivitas di Pasar Kanoman, Jumat (25/9). Tak sedikit warga yang masih mengabaikan protokol kesehatan, salah satunya penggunaan masker. FOTO: OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

JAKARTA – Kementerian Kesehatan telah merilis jenis masker yang efektif mencegah penularan corona virus disease (covid-19). Bila mengikuti perkembangannya, kebijakan penggunaan masker memang berubah-ubah.

Namun, perubahan tersebut mengikuti perkembangan covid-19. Pemerintah awalnya menganjurkan bahwa masker hanya digunakan mereka yang sakit. Ketika itu, memang virus corona disebutkan hanya menular lewat drop let.

Di saat bersamaan, tepatnya di awal pandemi covid-19, Indonesia sempat dilanda krisis masker. Bahkan harganya naik berkali-kali lipat.

Pembaruan berikutnya, pernyataan pemerintah direvisi setelah kasus covid-19 merangkak naik. Bahwa masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan dianjurkan menggunakan masker. Termasuk dengan bahan kain.

Belakangan, World Health Organization juga merilis bahwa covid-19 dapat menular melalui airbone. Dan kebijakan terkait dengan masker dapat kembali berubah. Bahwa hanya ada 3 masker yang dianjurkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mencegah penularan covid-19 yakni, Masker N-95, masker bedah dan masker kain.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Dirjen P2P) Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto menjelaskan, selain ketiga bahan diatas, masker dengan bahan yang lain tidak akan efektif untuk mencegah penularan covid-19. Sebab, bahannya yang dianggap tidak cukup kecil untuk menahan droplet yang dikeluarkan oleh mulut ataupun hidung.

Selain masker, Achmad mengimbau untuk tetap menjaga jarak setidaknya 1-2 meter dari orang lain untuk mencegah proses penularan secara efisien.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19,  Wiku Adisasmito mensosialisasikan secara massif penerapan 3M yaitu menggunakan masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan. Pemerintah sendiri telah melakukan program 3T, yakni testing, tracing dan treatment.

Pengamatan Satgas, kata Wiku, masyarakat masih lengah, mengabaikan protokol kesehatan. Masyarakat seolah tidak memiliki empati dengan banyaknya korban yang menjadi positif Covid-19. Masyarakat saat ini katanya masih banyak yang memandang negatif terhadap pasien terkonfirmasi positif.

Untuk itu ia berharap adanya kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dalam menekan angka penularan Covid-19. Masyarakat juga harus berinisiatif untuk memeriksakan diri melakukan test Covid-19.

“Pemerintah pun memastikan bahwa biaya perawatan pasien positif Covid-19 akan ditanggung, baik yang menjadi peserta BPJS Kes ataupun tidak,” jelasnya. (yud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *