Polemik Takhta Kasepuhan Berkepanjangan, Kerabat Keraton: Saya Malu

oleh -5.792 views
penolakan-sultan-sepuh
Kerabat Keraton Cirebon, Raden Udin Khaenudin. Foto: R Dedi Haryadi/Radar Cirebon

CIREBON – Adanya aksi penolakan terhadap Sultan Sepuh PRA Luqman Zulkaedin oleh Famili Kasultanan Cirebon dan warga di area objek wisata religi makam Sunan Gunung Jati banyak mendapat perhatian dari sejumlah kalangan.

Salah satu kerabat keraton Cirebon, Raden Udin Khaenudin mengatakan, konflik intern yang terjadi di Keraton Kasepuhan untuk segera diselesaikan oleh pihak-pihak yang berseteru.

 “Saya sangat perihatin dengan kejadian tersebut pada saat ada kegiatan dari kementerian. Saya berharap masalah konflik intern keluarga keraton ini segera selesai dan tidak sampai berkepanjangan,” ujar Raden Udin, Minggu (27/9).

Untuk menyelesaikan konflik di Keraton Kasepuhan, Raden Udin menuturkan, perlu adanya peran pemerintah untuk melakukan mediasi.

“Meski ini konflik intern keluarga keraton, tapi saya mendorong pemerintah untuk memediasi mempertemukan kedua belah pihak  yang menolak atau yang mendukung,” tuturnya.

Artinya, kata dia, pemerintah bukan mendukung salah satu kubu, perannya hanya mediasi dan fasilitator. Tetapi bila keduanya tidak bisa mediasi, persoalan bisa diteruskan di ranah hukum. “Saya sebagai kerabat keraton merasa malu,” tuturnya.

Saat ditanya apakah sudah ada upaya-upaya mediasi oleh kedua belah pihak, Raden Udin menegaskan, hingga kini belum ada.

“Sepengetahuan saya belum ada. Makanya perlu ada yang memfasilitasi dan memediasi. Ya dipertemukanlah biar ada titik temu dan persoalan ini cepat selesai,” ucapnya.

Di tempat terpisah, Direktur Badan Pengelola Keraton Kasepuhan (BPKK) Cirebon Ratu Raja Alexandra Wuryaningrat yang ditemui di Keraton Kasepuhan enggan mengomentari persolan spanduk penolakan Sultan Sepuh XV PRA Arief Zulkaedin di area objek wisata Sunan Gunung Jati.

“Kalau soal itu saya no comment. Kalau bahas soal berita lainnya akan saja jawab,” ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, ada pemandangan berbeda saat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Pemkab Cirebon menggelar acara program BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Aman) di objek wisata religi makam Sunan Gunung Jati, Jumat pagi (25/9).

Di sekitar objek wisata religi makam Sunan Gunung Jati terbentang sejumlah spanduk bertuliskan penolakan Sultan Sepuh XV PRA Luqman Zulkaedin datang ke daerah tersebut. (rdh)

Tonton video berikut:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *