Harga Bahan Pokok Stabil

oleh -33 views

JAKARTA – Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto menyampaikan pandemi Covid-19 telah berdampak pada ekonomi global. Termasuk perekonomian di Tanah Air juga terdampak.

Namun demikian, secara kumulatif selama Januari-Agustus 2020 neraca perdagangan masih menunjukan surplus sebesar USD11,1 miliar. Surplus neraca perdagangan tersebut dihasilkan dari surplus perdagangan nonmigas sebesar USD15,2 miliar dan defisit migas sebesar USD4,2 miliar.

Lanjut mendag Agus, untuk perdagangan dalam negeri, secara nasional harga rata-rata barang kebutuhan pokok (bapok) relatif stabil dan cenderung turun.

“Ini tercermin dari deflasi yang terjadi pada kelompok makanan. Berdasarkan data BPS, kelompok tersebut mengalami deflasi pada Agustus 2020 dan turut menyumbang deflasi,” ujarnya dalam keterangannya, kemarin (26/9).

Adapun, kata dia, harga rata-rata nasional barang kebutuhan pokok pada 21 September 2020 umumnya relatif stabil dibanding bulan sebelumnya, di antaranya beras medium, minyak goreng, tepung terigu, daging ayam ras, dan cabai rawit merah.

“Bahkan beberapa komoditas mengalami penurunan harga seperti beras premium, gula pasir, kedelai, daging sapi, telur ayam ras, dan bawang merah. Untuk pasokan, secara umum stok bapok masih mencukupi dan akan terus dipantau,” ungkapnya.

Mendag Agus menambahkan, bahwa untuk mendukung Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI), pada 16 September 2020 lalu, Kemendag telah melakukan peluncuran “Kampanye Pernak Pernik Unik Bangga Buatan Indonesia Kementerian Perdagangan” secara virtual di Jakarta.

Selain itu, Kemendag juga melakukan kegiatan Peluncuran Virtual Expo, Peluncuran Gerobak Dagang Digital, Peluncuran Lomba Video Pernak Pernik Unik, Peluncuran Situs Web Bangga Buatan Indonesia Kemendag, serta Peluncuran Video Pemasaran Online.

Terpisah, ekonom INDEF Rusli Abdullah mengatakan, bahwa harga beras selalu mengalami kenaikana pada kuartal IV. Sebab pada periode tersebut sudah tidak ada panen. Kuartal pertama 2021, baru mulai tanam.

“94 persen konsumsi masyarakat kita itu beras, bukan jagung, singkong atau yang lainnya. Ini harus dijaga dari sekarang biar tidak makin menggerus daya beli masyarakat,” ujarnya.

Caranya, saran Rusli, Pemerintah harus menjamin pasokan kebutuhan primer. Prinsipnya pada ketepatan harga dan tepat jumlah. Selain beras, pasokan komoditas pangan lain juga tetap harus dijaga.

Di samping itu, Rusli juga menyoroti nasib petani selama pandemi ini. Khusnya petani tanaman pangan seperti padi. Padahal di sisi lain inflasi terus menurun dari, namun hanya dirasakan oleh kelompok menengah ke atas.

“Nilai tukar petani (NTP) juga terus menurun. Jika pada Januari NTP masih menyentuh level 104,21, pada Juli turun menjadi hanya 100, 09. Dari Mei hingga Juni, NTP bahkan di bawah 100,” pungkasnya. (din/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *