Inflasi Diperkirakan Lebih Rendah di 2020

oleh -19 views
ilustrasi-bank-indonesia-140619-andri
ILUSTRASI

JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebutkan inflasi dari Januari sampai September 2020 sebesar 0,80 persen (ytd). Secara tahunan, inflasi 1,42 persen, meski lebih tinggi dari inflasi Agustus 1,3 persen.

Sebelumnya, Bank Sentral menargetkan, inflasi tahun ini ada di kisaran 2 persen-4 persen.

“Bank Indonesia memperkirakan inflasi 2020 lebih rendah dari batas bawah target inflasi dan kembali ke dalam sasarannya 3,0 persen ± 1 persen pada 2021,” ujar Perry dalam video daring, kemarin (13/10).

Inflasi yang rendah itu, lanjut Perry, dipengaruhi turunnya inflasi inti sejalan permintaan domestik yang belum kuat serta konsistensi Bank Sentral mengarahkan ekspektasi inflasi dalam kisaran target dan menjaga stabilitas nilai tukar.

“Inflasi kelompok volatile food tetap rendah dipengaruhi berlanjutnya penurunan harga bahan pangan seiring permintaan domestik yang belum kuat, pasokan yang memadai sejalan panen di beberapa sentra produksi, distribusi yang terjaga, dan harga komoditas pangan global yang rendah,” tuturnya.

Selain itu, kata dia, inflasi kelompok administered prices tercatat melambat terutama didorong berlanjutnya penurunan tarif pada moda angkutan udara.

Kendati demikian, Perry menegaskan, BI akan konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan denganpPemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Hal ini guna mengendalikan inflasi tetap dalam kisaran targetnya.

Terpisah, Peneliti Ekonomi Senior Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan RI Eric Alexander Sugandi memprediksi inflasi pada akhir 2020 akan berada pada kisaran 2,5 persen.

“IKS memprakirakan inflasi akan berada di angka 2,5 persen secara tahunan (yoy) per akhir tahun 2020,” ujar Eric dalam keterangannya, kemarin.

Semenatra Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal memproyeksi inflasi pada tahun ini akan berada pada kisaran yang rendah, yaitu sebesar 1,1 persen.

“Itu pola yang akan terjadi dan Oktober ini saya prediksikan deflasi lagi, hanya di November dan Desember ada inflasi tipis, jadi total setahun inflasi 1,1 persen,” katanya.

Faisal mengatakan hal utama yang harus dilakukan pemeritah dalam program PEN sekaligus mendorong pemulihan ekonomi adalah penanggulangan wabah virus Corona.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Indonesia kembali mengalami deflasi pada September 2020, yakni sebesar 0,05 persen. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai harga komoditas yang secara umum menunjukkan adanya penurunan.

“Dengan adanya deflasi 0,05 persen pada bulan September tahun 2020 ini maka tingkat inflasi pada tahun kalender adalah sebesar 0,89 persen. Sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun adalah 1,42 persen,” ujar Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto. (din/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *