Neraca Dagang RI September Surplus , Sinyal Ekonomi Membaik

oleh -19 views
BPS

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut neraca perdagangan Indonesia pada September 2020 surplus sebesar USD2,44 miliar secara bulanan. Ekonom menilai perbaikan ini menjadi petunjuk sinyal terjadi perbaikan ekonomi secara perlahan.

Ekonom Institute for Developments of Economics and Finance INDEF Yusuf Rendy Manilet mengatakan, perbaikan neraca dagang ini sesuai dengan proyeksi pemerintah terkait pemulihan ekonomi di kuartal III/2020 yang lebih baik dari kuartal sebelumnya.

“Melihat indikator ini adanya perbaikan aktivitas ekonomi meskipun masih relatif tipis. Akan tetapi, kita bisa cukup optimistis bahwa ternyata ada tren perbaikan pertumbuhan ekonomi. Ini memang selarang dengan tren yang ditunjukkan pemerintah proyeksinya memang ada perbaikan,” ujarnya, kemarin (15/10).

Senada, Ekonom Center of Reforms on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet memperkirakan, tren neraca perdagangan surplus masih bisa berlanjut hingga akhir 2020 nanti.

“Surplus neraca perdagangan ini bukan relatif yang baik untuk pertumbuhan ekonimi, karena secara tahunan ditopang penurunan impor yang tajam,” ucapnya.

Sebelumnya, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus USD2,44 miliar secara bulanan pada September 2020 di tengah pandemi covid-19. Realisasi itu lebih tinggi dari surplus Agustus 2020 yang sebesar US$2,35 miliar.

“Neraca dagang alami surplus sebesar US$2,44 miliar. Surplus terjadi lima bulan berturut-turut,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto, kemarin.

Dia menyebutkan, surplus neraca perdagangan terjadi karena nilai ekspor mencapai USD14,01 miliar atau naik 6,97 persen dari Agustus 2020 yang sebesar USD13,1 miliar. Sementara, nilai impor hanya USD11,57 miliar atau naik 23,5 persen dari bulan sebelumnya.

Secara rinci, kinerja ekspor ditopang oleh ekspor minyak dan gas (migas) mencapai USD700 juta miliar atau naik 17,43 persen dari bulan sebelumnya. Sementara, ekspor nonmigas sebesar USD13,31 miliar atau meningkat 6,47 persen.

Peningkatan ekspor nonmigas disumbang oleh ekspor industri pertanian 20,84 persen menjadi USD410 juta dan industri pengolahan naik 7,37 persen menjadi USD11,56 miliar, sedangkan industri pertambangan turun 4,1 persen menjadi USD1,33 miliar. Secara total, kinerja ekspor nonmigas masih menopang sekitar 94,98 persen dari total ekspor Indonesia pada bulan lalu.

Sementara, komoditas yang turun nilai ekspornya adalah tembakau dan rokok, barang dari kulit samak, bahan bakar mineral, serta barang dari besi dan baja. (din/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *