Srikandi dari Cirebon Dapat Surat dari Bung Karno, Ini Isinya

oleh -112 views
olly-sastra-cirebon
Esti Handayani bersama beberapa barang peninggalan sang ibu. Di kediaman tersebut banyak menyimpan benda yang punya nilai sejarah. Foto: Okri Riyana/Radar Cirebon

ESTI Handayani menjaga dan merawat peninggalan ibundanya, Olly Sastra dengan baik. Beberapa perabotan seperti mesin ketik, telefon kuno hingga figura yang memajang foto foto lawas pun masih terawat. Termasuk surat dari Presiden RI, Ir Soekarno

Olly dikenal cukup dekat dengan Bung Karno. Banyak foto-foto dirinya dengan sang proklamator dalam berbagai kesempatan. Tak hanya foto bersama, Olly juga sering berkirim surat dengan Bung Karno.

Ada salah satu surat istimewa yang dikirimkan oleh Bung Karno. Dalam surat yang dilengkapi kop lembaga kepresidenan tersebut, Bung Karno memberikan nama untuk anak ke tujuh Olly Sastra.

“Anak ketudjuh dari sdr Soetopo dan sdr Olly Soekini saja beri nama Pandji Saptohadi. Djakarta 6 Djuni 1957. Soekarno,” demikian isi surat dengan ejaan lama tersebut. Walaupun sangat pendek, namun hal itu tentunya sangat berharga bagi Olly Sastra.

Selain itu, Olly Sastra juga sering berkirim surat dengan Hartini. Salah satu istri Soekarno. Banyak hal yang dibicarakan oleh Olly dan Hartini. Terutama soal kegiatan sosial dan organisasinya.

Olly Sastra dikenal gigih dalam pemberantasan buta huruf dan peningkatan keterampilan bagi perempuan dan anak korban perang. Setelah masa kemerdekaan ia turut mendirikan PPA (Panti Pendidikan Anak anak) yang bertujuan untuk mendidik anak anak korban perang.

Ia juga ingin perempuan perempuan Cirebon bisa hidup mandiri serta berdaya. Ia yang pernah menempuh pendidikan di MULO ini menyalurkan ketrampilanya kepada perempuan.

Atas kegigihanya dalam meningkatkan keterampilan perempuan, tahun 1979 ia mendapatkan penghargaan dari Ibu Tien Soeharto. Istri Presiden Soeharto.  Momen itu juga diabadikan dalam sebuah foto yang masih tersimpan rapi.

Kini rumah seluas 500 meter persegi itu masih ditempati oleh Esti berserta suami dan seorang anaknya. Rumah penuh kenangan itu, juga masih difungsikan sebagai tempat LKP dan LPK untuk bidang tata boga dan tata rias.

Esti mengaku dirinya hanya melanjutkan apa yang pernah ia pelajari dari orang tuanya secara turun temurun.

Ia sendiri mengaku tetap akan mempertahankan, baik bentuk dan perabotanya agak kelak bisa dinikmati oleh anak anak dan cucunya. “Ini tetap akan seperti ini. Kalau dengan sejarah, kita tidak bisa mengelak,” pungkasnya. (awr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *