Jokowi Ajak Pemuda Kembali Bertani

oleh -112 views
REGENERASI PETANI: Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat tiba di Sumatera Utara untuk meninjau pembangunan kawasan lumbung pangan baru, belum lama ini. Presiden dua periode ini mengajak para pemuda untuk tidak gengsi dan malu menjadi petani. FOTO:NET

JAKARTA – Julukan negeri agraris nampaknya perlahan akan mulai luntur untuk Indonesia. Itu diperkuat, dengan makin tergerusnya jumlah angkatan petani muda sebagai regenarasi pendorong pada sektor pertanian nasional. Bahkan, negeri yang dikenal sangat subur ini diprediksi bakal mengalami kris petani dalam kurun waktu 10-15 tahun kedepan.

Ya, dalam tiga tahun belakangan ini saja, jumlah petani di Indonesia terus mengalami penurunan. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2020 ada sekitar 33,4 juta petani yang bergerak di semua komoditas sektor pertanian.

Angka tersebut jumlahnya jauh lebih kecil jika dibandingkan jumlah petani pada 2019 sebelumnya yang mencapai 34,58 juta. Jika dibanding 2018 jumlah itu juga turun yang tercatat 35,70 juta orang.

Tak pelak jika regenerasi petani butuh perhatian serius dari pemerintah untuk menghadirkan petani baru yang berusia muda penting dilakukan sebagai bentuk antisipasi.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan tegas mengajak para pemuda tidak lagi malu dan gengsi untuk menjadi petani. Menurutnya, minat pemuda menjadi petani menjadi harapan sebagai langkah regenerasi profesi tersebut.

“Saya berharap keberadaan forum petani organik muda saat ini dapat mengajak lebih banyak anak-anak muda untuk kembali bertani, tidak malu, tidak gengsi,” kata Jokowi, akhir pekan kemarin (31/10).

Jokowi menuturkan, bahwa Indonesia memiliki potensi pengembangan pertanian organik melalui sejumlah inovasi. Inovasi itu mencakup seluruh proses industri pertanian mulai dari proses penanaman, pemeliharaan, pengolahan, branding, pengemasan (packaging), hingga pemasaran.

“Saya yakin, jika pemuda ikut terjun melakukan inovasi pertanian maka Indonesia bisa terbebas dari impor pangan dan sebaliknya menjadi eksportir,” ujarnya.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menambahkan, selama pandemi Covid-19 sektor pertanian selalu menjadi andalan dan tulang punggung ekonomi bangsa. Oleh karena itu, regenerasi petani untuk menghadirkan petani baru yang berusia muda penting dilakukan sebagai bentuk antisipasi.

“Semakin muda semakin kuat, semakin energik, semakin kritis, makin apik kerjanya. Pertanian dengan semangat baru harus diluncurkan. Seperti membangun perilaku baru dan behaviour anak muda untuk mendapatkan pendapatan yang jauh lebih baik dari bidang pertanian,” kata Syahrul.

Syahrul mengungkapkan, alasan orang malas menjadi petani, karena salah satunya masalah margin di sektor pertanian sehingga orang menjadi malas untuk menggarap di bisnis sektor ini. “Anda suka atau tidak tertarik untuk datang, kalau tidak memberi margin orang kan akan tinggalkan. Itu dalam langkah yang cepat akan coba saya lakukan,” ujarnya.

Namun, fakta di lapangan tidak semanis harapan kepala negara. Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengungkapkan kenyataan yang terjadi lapangan justru seringkali tidak menguntungkan petani.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, kurangnya kaum muda untuk menjadi petani karena dinilai tidak menguntungkan. Pasalnya, mereka tidak memiliki kuasa untuk harga Gabah Kering Panen (GKP) dan Gabah Kering Giling (GKG).

“Saat bertransaksi, petani tidak memiliki posisi tawar yang menguntungkan karena harga komoditas yang mereka hasilkan sangat bergantung pada pasar. Alhasil petani hanya bertindak sebagai price taker dan bukan price maker,” kata Galuh.

Terlebih lagi, kata Galuh, Harga Pokok Pembelian (HPP) yang ditawarkan Perum Bulog sebagai perwakilan pemerintah tidak jarang lebih rendah daripada harga pasar. Akhirnya, petani tidak mampu mengantongi keuntungan.

“Akhirnya banyak petani yang akhirnya lebih memilih menjual hasil panennya kepada tengkulak. Sebab, para tengkulak ini menawarkan harga yang lebih tinggi daripada Perum Bulog,” ujarnya.

Selain itu, kata Galuh, upah tenaga kerja pertanian di Indonesia juga rendah, yakni Rp86.593 per hari. Upah ini lebih rendah dibandingkan dengan tenaga kerja pertanian di Filipina yang menerima Rp86.752, Vietnam Rp121.308, Thailand Rp181.891, dan China Rp208.159.

Namun, upah yang diterima tenaga kerja pertanian di Indonesia masih jauh lebih baik daripada petani di India, yang menerima upah sebesar Rp42.492 per hari. “Petani di Indonesia juga menemui beberapa kesulitan mulai dari bibit, pupuk, akses ke modal, lahan kecil yang berimbas pada proses bercocok tanam yang tidak efisien dan juga kapasitas petani yang juga sebagian besar masih belum produktif,” pungkasnya. (der/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *