Jangan Cium Balita, Kalau Batuk dan Pilek

oleh -29 views
ilustrasi pixabay

ORANG dewasa yang mengalami batuk atau pilek dilarang mencium bayi dan balita. Hal ini penting untuk mencegah mereka terkena penyakit. Seperti bakteri, virus atau jamur termasuk pneumonia di masa pandemi COVID-19.

“Bakteri, virus, jamur ada di mana-mana. Kalau ada keluarga yang batuk pilek, jangan mencium bayi dan balita,” kata dokter spesialis anak, Profesor Soedjatmiko di sela peringatan Hari Pneumonia Dunia 2020 secara daring di Jakarta, Kamis (12/11).

Menurutnya, disiplin 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak) wajib dilakukan sebelum menyentuh bayi dan balita. Soedjatmiko mengatakan, patogen penyebab pneumonia bisa masuk ke hidung, saluran napas anak dan merusak paru-paru saat kekebalan tubuhnya rendah.

Penyebab rendahnya kekebalan ini karena beberapa faktor. Antara lain asap rokok, debu di rumah, kurangnya asupan ASI eksklusif. Hal ini menyebabkan anak kurang gizi.

“Belum lagi jika si kecil lahir dengan berat badan rendah, tidak diimunisasi, menderita penyakit kronik dan terlambat berobat. Kondisi ini membuatnya berisiko kehilangan nyawa karena pneumonia,” paparnya.

Hal senada disampaikan Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Nastiti Kaswandani. Dia menyebut, pneumonia ditandai sejumlah gejala. Antara lain demam, batuk dan kehilangan nafsu makan.

Selain gejala itu, penderita juga bisa mengeluhkan sesak napas dan napasnya sangat cepat dari biasanya. Demam yang berlangsung bisa berlanjut 2-3 hari.

“Curigai pneumonia kalau gejalanya berlanjut. Yakni demam 2-3 hari. Tanda penting lainnya anak terlihat napasnya lebih cepat dari biasanya dan sesak napas,” ujar Nastiti.

Dia menyarankan, ketika gejala seperti ini muncul, segeralah membawa penderita ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dini.

Dari sisi angka kasus, Indonesia termasuk negara dengan penurunan angka kasus pneumonia pada tahun 2019. Soedjatmiko mencatat angka kematian yang cukup tinggi setiap tahunnya. Yakni sekitar 400-600 orang. Kemudian melonjak hingga 1750 orang pada 2017.

“Bahkan pernah 2017 sekitar 1750-an dan tahun 2020. Mungkin sebagian karena COVID-19. Karena kejadian COVID-19 ini pada anak termasuk tinggi dibanding negara lain. Juni 2020, kematian COVID-19 pada anak terutama pada usia bayi dan balita. Sebagian pneumonia pada bayi balita dan mungkin karena COVID-19,” tuturnya. (rh/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *